Palu, Teraskabar.id – Warga Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Tengah, sudah sejak lama akrab terhadap keterisoliran pada akses darat. Matano Belt Road menjadi pembangkit asa warga setempat bisa segera menikmati akses darat menuju desa Desa Matano tanpa harus melintasi Danau Matano menggunakan Raft.
Pilihan menggunakan raft karena moda transportasi inilah satu-satunya yang bisa menjangkau kawasan Desa Matano, terutama pada kawasan destinasi Laa Waa River Park yang terletak di pesisir Danau Matano.
Hingga saat ini kata Hamsal, akses satu satunya menuju kawasan destinasi wisata Laa Waa River Park hanya melalui Danau Matano dengan menggunakan raft atau perahu katinting dari Matano Yacth Club dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.
Menurut Amsal, tokoh masyarakat Desa Matano mengakui, ada akses darat menuju Laa River Park dari ruas jalan provinsi. Jaraknya pun tak terlalu jauh, tak sampai 10 kilometer. Hanya saja kondisi infrastruktur jalannya tidak layak untuk dilalui kendaraan.
“Ada ruas jalan dari jalan provinsi yang di perbatasan Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah, tapi sangat tidak disarankan untuk lewat jalan itu menuju Laa Waa River Park,” ujarnya.
Ia berharap, akses melalui transportasi darat juga bisa terwujud kedepannya agar lebih memudahkan para wisatawan berkunjung ke Laa Waa River Park.
Peletakan batu pertama pembangunan Matano Belt Road di Ussu menandai langkah awal menjawab asa warga Desa Matano agar bisa menikmati akses infrastruktur jalan menembus ke wilayah permukiman mereka, tanpa harus lagi mengandalkan raft.
Matano Belt Road, Konektivitas Malili ke Pesisir Danau Matano
Matano Belt Road (MBR) merupakan infrastruktur jalan provinsi strategis yang menghubungkan Kecamatan Malili, Kecamatan Nuha, hingga perbatasan Sulawesi Tengah, sebuah koridor penting yang selama ini menjadi tantangan akses bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi. Rancangan ruas jalan ini bertujuan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar arus barang dan jasa, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru yang lebih merata, sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam mempercepat pembangunan wilayah berbasis konektivitas, produktivitas, dan keberlanjutan.
Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation and Infrastructure Officer PT Vale Indonesia, Abu Ashar, menegaskan bahwa infrastruktur memiliki makna yang jauh melampaui fungsi teknisnya. Ia menjadi penghubung antara potensi dan peluang.
“Ketika akses terbuka, ekonomi bergerak, layanan publik semakin dekat, dan masyarakat memiliki kesempatan yang lebih adil untuk tumbuh. Itulah esensi dari pembangunan Matano Belt Road, bukan hanya membangun jalan, tetapi membangun masa depan,” ujar Abu Ashar usai menghadiri peletakan batu pertama proyek tersebut di Ussu.
Rancangan pembangunan Matano Belt Road juga mengacu pada standar keselamatan dan teknis yang ketat, memastikan efisiensi lalu lintas serta keamanan pengguna jalan. Dengan infrastruktur yang andal dan berkelanjutan, harapan kawasan ini nantinya jadi tulang punggung baru bagi pengembangan pusat-pusat ekonomi, logistik daerah, serta sektor unggulan seperti pariwisata Danau Matano, salah satu danau purba terdalam di dunia yang menyimpan potensi ekologi dan ekonomi bernilai global.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan bahwa Matano Belt Road merupakan wujud konkret kolaborasi strategis antara pemerintah dan sektor industri dalam mempercepat pembangunan daerah. Ia menilai kehadiran jalan ini akan menjadi jalur alternatif sekaligus akses utama yang memperkuat konektivitas Luwu Timur dan kawasan sekitarnya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Apresiasi serupa datang dari Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, yang menegaskan bahwa konektivitas Ussu hingga pesisir Danau Matano telah lama masyarakat nantikan. Jalan ini menguatkan optimisme akan membuka sentra ekonomi baru, khususnya di sektor pariwisata berkelanjutan, seperti Laa Waa River Park. Konektivitas infrastruktur tersebut sekaligus memperkuat peran Luwu Timur sebagai simpul pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Sulawesi Selatan. (red/teraskabar)







