Minggu, 25 Januari 2026
Ekbis  

Menteri Kelautan Menilai Teknologi Budidaya Udang Masih Tertinggal, Penyebab Produktifitas Rendah

Gubernur Anwar Hafid Dorong Kearifan Lokal dan ASN Unggul untuk Mewujudkan Visinya
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Istimewa

Trenggono juga mengemukakan bahwa inovasi dan teknologi harus terus didorong. Kerjasama antara perguruan tinggi/lembaga riset dan asosiasi menjadi sebuah kekuatan besar sebagaimana dilakukan oleh Jepang.

Mutu udang negeri ini juga dinilai rendah karena rantai pasok yang panjang. Sistem budidaya yang kurang perhatikan penanganan limbah organik juga menjadi salah satu sebab sulit menembus pasar Eropa yang ketat dengan isu lingkungan.

Terakhir disampaikan bahwa KKP saat ini sedang mengembangkan tambak modeling yang terintegrasi hulu dan hilir di Waingapu, Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai role model atau contoh. Modeling ini bermitra dengan satu perusahaan raksasa Seafood Evergreen dari China.

Baca jugaGubernur Rusdy Mastura: Gorontalo Adalah Saudara Tua Warga Sulteng

Perusahaan mitra ini telah sukses dan memiliki reputasi internasional. Mereka sangat terintegrasi end to end. Mulai dari breeding, pabrik pakan, budididaya , prosesing dan pemasaran terkendali dalam satu koordinasi.

Model semacam ini lebih dahulu dikembangkan di Ekuador yang kini menjadi produsen utama dengan produksi pada tahun 2022 sebesar 1,2 juta ton dan volume ekspornya sekitar 900 ribu ton.

Sistem integrasi di Ekuador antara lain menggunakan tambak rakyat yang ada. Teknologi budidaya pun disesuaikan maksimal semi intensif. Breeding, pakan, prosesing serta pemasaran dalam satu koordinasi. Dengan model seperti ini HPP per kg udang antara $1,5 – 2.0 US.

Pernyataan Menteri KP, Trenggono mendapat berbagai tanggapan pro dan kontra dari sejumlah pelaku usaha udang, praktisi dan peneliti. Mulai menyoal menjadi kompetitor pelaku usaha sampai kritik bahwa pemerintah tidak perlu berbisnis. Cukup memfasilitasi.

Terlepas dari pro maupun kontra tersebut, maka market share kita di pasar udang dunia sudah harus ditingkatkan. Saat ini baru sekitar 5 -6 persen, sehingga bargaining lemah dalam merebut pasar.

  Kali Kedua Pelaksanaan, Eksplorasi Peran AI dan Data Center melalui NeutraDC Summit 2024

Baca jugaDKP Sulteng Gandeng TNI Polri Menggenjot Produksi Udang Vannemei

Karena itu sebaiknya kedua model itu, China dan Ekuador diterapkan secara paralel di negara maritim ini, mengingat kita memiliki areal tambak rakyat yang luas hampir sama dengan Ekuador sekitar 248 ribu ha.

Revitalisasi tambak rakyat model terintegrasi harus diwujudkan. Dan ada kemudahan, insentif bagi para investor yang nantinya menjadi pemain. Setiap kawasan tambak rakyat. 3000 – 5000 ha dikelola oleh satu perusahaan seperti yang ditetapkan oleh Ekuador.

Para praktisi, peneliti dari Indonesia bekerjasama calon investor dimana bisa menyusun bussines plan dari usaha integrasi ini. Sudah saatnya pemerintah memberi perhatian dan ruang yang lebih terencana serta akademik bagi pengembangan tambak rakyat.

Dengan mendorong kedua model itu secara paralel, maka daya saing bisa dibangun dan target produksi udang 2 juta ton diyakini bisa jadi keniscayaan. SEMOGA.