Palu, Teraskabar.id– Bandara Udara Mutiara Sis Al-Jufri sangat dimungkinkan untuk menjadikan bandara internasional namun statusnya terbatas. Hal itu disampaikan DR. Hasanuddin Atjo menyikapi pro kontra gagasan dan upaya meningkatkan status Bandara Mutiara Sis Al-Jufrimenjadi bandara udara internasioan.
“Tanggapan kontra lebih kepada mempersoalkan terkait panjang landasan pacu, keterbatasan ruang dan fasilitas kargo, serta dukungan infrastruktur terkait status Bandara Internasional,” kata mantan kepala Bappeda Provinsi Sulteng ini dihubungi melalui telepon genggam, Senin (4/8/2025).
Ia mengutip hasil penelusuran melalui Meta AI, diperoleh informasi status Bandara Internasional terbatas dengan tujuan tertentu pada sejumlah negara. Disebut Bandara internasional terbatas mengacu pada kriteria meski berstatus internasional, memiliki keterbatasan dalam hal jenis pesawat yang dapat dilayani, rute penerbangan yang tersedia, atau kapasitas penumpang dan kargo.
Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti panjang landasan pacu yang terbatas, fasilitas terminal yang belum memadai, atau regulasi khusus terkait dengan penerbangan internasional.
Ia mencontohkan bandara dengan faktor keterbatasan tertentu, antara lain Bandara Internasional Husein Sastranegara di kota Bandung. Dahulu melayani penerbangan internasional, namun kini lebih fokus pada penerbangan domestik dan beberapa rute internasional terbatas karena keterbatasan kapasitas dan fasilitas.
Selanjutnya Bandara Udara Internasional Hongqiao di Shanghai, meskipun berstatus internasional, bandara ini lebih banyak melayani penerbangan domestik dan beberapa rute internasional terbatas ke kota-kota tetangga seperti Tokyo, Seoul, Taipei, Hong Kong, dan Makau.
Contoh lainnya adalah Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo Flores. Bandara ini resmi menjadi internasional tahun 2020 dengan tujuan meningkatkan akses pariwisata.
Bandara Sis Aljufri tentunya realistis dinaikkan statusnya menjadi Bandara Internasional terbatas, karena desakan akan kemudahan akses masuk dan keluarnya tenaga kerja asal Tiongkok yang bekerja di Morowali maupun Morowali Utara.
Hasil ikutan dari terbukanya rute Palu – Tiongkok – Palu akan memicu berkembangnya sektor Pariwisata, naiknya volume dan nilai ekspor dari sejumlah komoditi eksklusif serta memicu naiknya status sejumlah bandara perintis.
Lebih menarik lagi bahwa warga Sulawesi Tengah dan sekitarnya bisa ke Tiongkok dengan akses dan ongkos yang lebih murah. Dan tidak kalah pentingnya terjadi percepatan transformasi inovasi teknologi dan ekonomi. (red/teraskabar)








