Oleh Hasanuddin Atjo (Dewan Pakar Satgas Udang Sulteng)
Selasa, 30 September 2025, bertempat di ruang rapat Bupati Parigi Moutong(Parimo), digelar dialog
dengan sejumlah pelaku usaha udang Vaname Kabupaten Parimo. Dialog dipandu Bupati Parimo, Erwin Burase, dihadiri Komisi II DPRD Kabupaten Parimo, Ni Wayan Leli Pariani, perangkat daerah dan sejumlah pelaku usaha udang Parimo.
Bupati Erwin berkeinginan agar Parimo bisa menjadi salah satu penghasil udang terbesar di Sulteng, dan mendorong agar kabupaten yang dipimpinnya menjadi pusat industrialisasi udang kawasan Teluk Tomini.
Harapan ini sangat beralasan, karena panjang garis pantai Teluk Tomini mencapai 1.350 kilometer dan Parimo 472 kilometer. Bila menggunakan data panjang garis pantai dikaitkan dengan produksi maka kabupaten ini wajar bercita-cita menjadi pusat industrialisasi udang di kawasan Teluk Tomini..
Ekuador merupakan negara tropis dengan garis pantai hanya sepanjang 2.237 km, tetapi negara ini mampu memanfaatkan potensi sumberdaya yang terbatas untuk menjadi penghasil udang vaname terbesar dunia. Tahun 2024, produksi udang Ekuador mencapai 1,2 juta ton. Sementara itu produksi udang Indonesia pada tahun yang sama hanya sekitar 400 ribu ton dengan garis pantai hampir 100 ribu km.
Selanjutnya dari Kabupaten Parimo, produksi udangnya tidak lebih 10 ribu ton, yang sudah tentu bisa ditingkatkan secara signifikan.
Bupati Erwin ingin mendorong hilirisasi komoditi, melanjutkan rencana lama pengembangan Kawasan Industri Komoditi Marantale yang memiliki potensi areal sekitar 6.000 ha. Kawasan ini akan dikoneksikan dengan KEK Palu yang jaraknya sekitar 22 km, dan selanjutnya komoditi diekspor melalui pelabuhan laut Pantoloan.
Bila rencana ini bisa terealisasi, maka banyak manfaat yang diperoleh termasuk dana bagi hasil ekspor untuk daerah yang selama ini kurang dirasakan karena tidak tercatat sebagai komoditi yang berasal dari Kabupaten Parimo.
Keinginan Bupati Erwin gayung bersambut dengan pemikiran sejumlah pelaku usaha seperti Karman Karim, Efendy dan Abdur Rifai yang juga ketua harian Satgas Udang Sulteng, Program BERANI Tangkap Banyak Gubernur Anwar Hafid.
Terungkap dalam dialog bahwa ongkos memproduksi udang di Sulteng termasuk di Parimo
lebih mahal, karena hampir semua input produksi (benur, pakan, peralatan dan obat obatan) harus didatangkan dari Makasaar dan Surabaya.
Sebagai contoh harga benur harus dibayar sampai tiga kali lipat, mencapai seratus lima puluh rupiah per ekor karena harus naik pesawat. Belum lagi kesegarannya menurun karena diangkut hingga belasan jam bahkan ada yang puluhan jam. Ongkos angkut pakan pun juga menjadi beban karena dibayar 1000 hingga 1.250 per kg.
Demikian pula halnya saat panen, udang harus dikirim ke Makasar atau Surabaya untuk diproses dan selanjutnya diekspor ke Amerika Serikat Jepang, Uni Eropa dan Negara lainnya.
Ketika udang akan dikirim ke Makassar, maka petambak harus mengeluarkan ongkos angkut sebesar 5 ribu rupiah setiap kg, dan tujuan Surabaya sebesar 9 ribu rupiah. Kondisi ini tentu tidak menarik untuk jangka panjang.
Penyakit udang juga mulai dikeluhkan, karena benur yang beredar sudah tidak terkontrol, diperparah tidak tersedianya laboratorium kesehatan udang dan harus diperiksa ke Jawa atau Makassar. Karena itu diperlukan pembangunan laboratorium.
Menyikapi potensi Kabupaten Parimo yang bukan hanya udang, tetapi juga memiliki sejumlah komoditi ekspor lainnya seperti durian, coklat, cengkeh dan lainnya yang akan memperkuat terwujudnya rencana pengembangan industrislisasi komoditi.
Diakhir dialog terungkap perlu dibuat dokumen peta jalan (roadmap) industrialisasi komoditi kabupaten Parimo, secara khusus industrialisasi udang kawasan Teluk Tomini di Kabupaten Parigi Moutong.






