Palu, Teraskabar.id – Produksi sampah warga Palu mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2025 ini, produksi sampah warga mencapai rata-rata 150 hingga 160 ton per hari. Redaksi dalam hal ini meluruskan pemberitaan sebelumnya yang menyebutkan angkanya mencapai 150-160 ribu ton per hari.
“Kondisi ini menjadi PR dan tugas bersama seluruh elemen masyarakat, bukan hanya tugas pemerintah kota Palu,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Muhammad Arif saat memaparkan materinya pada seminar yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Tadulako (Untad), Sabtu (13/12/2025).
Tiga pemateri pada seminar yang mengangkat tema Envibe Closing Day: “One step forward for a better earth” yaitu, Kepala DLH Kota Palu, Muhammad Arif, S.STP, M.Si., CEO Tadulako Youth Movement, Moh Adiwarman Cahyana, dan doctoral student in Institute of Water Resources Engginering and Enviromental, Tu Wien (Australia), Muhammad Ikbal Pratama. Kegiatan yang dipandu Dea Amanda, mahasiswa Teknik Lingkungan Untad ini merupakan semarak puncak Dies Natalis ke-1 HMTL Untad yang dilaksanakan di auditorium kantor wali kota Palu.
Kepala DLH Kota Palu, mengatakan, sebagian besar masyarakat kota Palu sadar akan lingkungan. Namun, kepedulian dan hasrat untuk menjaga lingkungan masih sangat terbatas. Makanya, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Palu kolaborasi dengan Teknik Lingkungan Untad, ada tiga persoalan berkaitan dengan isu lingkungan yang ada di Kota Palu, salah satunya adalah mengenai permasalahan sampah.
“Kemarin, atas permasalahan produksi sampah warga Palu yang tengah jadi sorotan ini, kami membentuk Satgas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,” ujarnya.
Ia mengakui, menangani sampah tidak bisa hanya sebatas teori, tidak bisa hanya dengan semangat sehari. Sebab, produksi sampah itu berlangsung setiap hari dan tak ada satu pihakpun yang bisa melarang seseorang atau komunitas untuk memproduksi sampah. Dalam persoalan ini, kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan penanganan persoalan sampah di Kota Palu.
Kadis DLH tak menampik, kesadaran masyarakat Kota Palu atas penanganan sampah sudah berada pada jalur positif, dibuktikan dengan capaian Pemkot Palu meraih penghargaan Utami Award 2025. Walaupun capaian peringkat pertama tersebut, secara persentase masih didominasi intervensi pengelolaan dari pemerintah kota Palu. Penerapan sanksi atas pelanggaran terhadap aturan penanganan sampah masih banyak diberikan kepada masyarakat. Bahkan, beberapa tempat pelaku usaha memperolah sanksi penutupan sementara untuk beraktivitas. Hal ini menurut Arif, menjadi salah satu bukti kesadaran masyarakat masih belum merata.
Menyikapi kondisi ini, DLH Kota Palu secara berkesinambungan melakukan sosialisasi agar capaian penghargaan Utami Award tersebut, bukan karena faktor tekanan atau sanksi pelanggaran tapi lahir atas kesadaran kolektif masyarakat Kota Palu terhadap kelestarian lingkungan.
“Alhamdulillah, kesadaran masyarakat pelan-pelan mulai tumbuh dibuktikan dengan banyaknya komunitas-komunitas peduli lingkungan yang mulai terbentuk, artinya kesadaran masyarakat semakin masif untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkunga,” ujarnya.
Pemerintah Kota Palu memberi apresiasi atas kondisi ini karena setiap warga menginginkan lingkungannya bersih dan bebas dari sampah dan ini modal dasar untuk memacu kepedulian warga terhadap kelestarian lingkungan. (fit/teraskabar)
Ralat: Redaksi meluruskan pemberitaan sebelumnya yang menyebutkan angkanya mencapai 150-160 ribu ton per hari.






