Minggu, 25 Januari 2026
Ekbis, Home  

PT Vale 57 Tahun Menambang dengan KEHATI

PT Vale 57 Tahun Menambang dengan KEHATI
Rehabilitasi pascatambang di areal IGP Sorowako. Foto: Dok

Sorowako, Teraskabar.idPT Vale Indonesia Tbk kini genap berusia 57 tahun.  Di usia yang matang ini membuat perusahaan  yang tergabung dalam MIND. ID  ini semakin dewasa dalam melakukan aktivitasnya. Komitmen menjalankan pertambangan berkelanjutan tidak hanya sebatas slogan.

Sebagai wujud nyata komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati, PT Vale menetapkan Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Sawerigading Wallacea sebagai kawasan khusus yang mengintegrasikan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi. Terletak di area seluas sekitar 71,8 hekater, lahan bekas tambang ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan lokal, tempat penangkaran rusa timor (Rusa timorensis), serta konservasi kupu-kupu lokaldan endemik.

Penetapan taman ini secara internal dilakukan pada Agustus 2024, dan disahkan melalui Keputusan Bupati Luwu Timur Nomor 54/D-05/II/Tahun 2025. Taman Kehati Sawerigading Wallacea tidak hanya mencerminkan komitmen perusahaan terhadap perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan keterlibatan publik dalam menjaga kekayaan hayati lokal.

Taman Kehati Sawerigading Wallacea ini dikembangkan dengan modern nursery yang ditanami 74 jenis tanaman lokal dan endemik di atas lahan bekas tambang itu.

Seperti yang dijelaskan oleh Nismayani Junior Reklamasi Engeneer bahwa terhitung hingga April 2025, PT Vale telah membuka lahan tambang seluas 5.969 Hektare lebih. Dari total tersebut, PT Vale telah melakukan rehabilitasi seluas 3.819 Hektare. Sehingga hanya menyisakan areal terbuka seluas 2.150 hektare.

“Jadi rasio antara lahan bukaan tambang dengan reklamasi telah mencapai 65 persen. Untuk area Bahodopi dan Pomalaa belum ada kegiatan pembukan lahan untuk penambangan, pembukaan lahan dilakukan untuk kegiatan konstruksi, ” kata Nismayani saat kegiatan Media Visit dalam rangka HUT ke-57 PT Vale.

Sebagai bagian dari strategi mitigasi dampak, PT Vale berupaya untuk meminimalkan luas area yang dibuka setiap tahun. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2024, kegiatan reklamasi dilakukan di tiga blok tambang di Sorowako, dengan total luas mencapai 178,98 hektare, yang terdiri dari Blok Sorowako Barat seluas 75,69 hektare. Blok Sorowako Timur seluas 38,45 hektare, dan blok Petea seluas 64,85 hektare. Realisasi ini mengalami penurunan 20,3% dari 224,4 hektare di tahun sebelumnya yang disebabkan oleh ketersediaan lahan yang telah selesai ditambang untuk direhabilitasi lebih kecil dari yang direncanakan.

  Berkunjung ke Asrama Luwu Timur di Jogja, PT Vale Paparkan Komitmen Pertambangan Berkelanjutan ke Mahasiswa

Secara umum, PT Vale telah menanam pohon di lahan reklamasi sebanyak 5,10 juta pohon yang terdiri dari tanaman pionir, lokal dan endemik. “Tanaman pionir yang kita tanam diantaranya Johar, Kayu Angin, Ekaliptus, Sengon Buto, Suren, Ficus Rangkong, Hope dan Makaranga,” bebernya.

Selain pionir, di lahan reklamasi ada sejumlah pohon lokal yang juga ditanam oleh PT Vale, yang diantaranya Agathis, Betao, Uru, Bitti, Buri, Gaharu, Popon, Nyantoh, Tapi-tapi dan jenis lainnya.

“Persentase antara pionir dan lokal endemik itu, 60 persen lokal endemik dan 40 persennya itu tanaman pionir, itu adalah regulasinya,” jelasnya lagi.

Proses Rehabilitasi  Lahan Bekas Tambang

PT Vale berkomitmen untuk senantiasa segera merehabilitasi area yang telah selesai ditambang untuk memenimalkan dampak lingkungan. Selain meminimalkan dampak lingkungan, rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan fungsi lahan sesuai peruntukannya dan juga mengembalikan nilai ekologisnya dengan mengupayakan keanekaragaman hayati (KEHATI) tetap terjaga. Rehabilitasi yang optimal sangat penting untuk meminimalkan dampak lingkungan dan mencegah risiko jangka panjang seperti kerusakan lanskap, hilangnya spisies endemik, serta dampak sosial terhadap komunitas sekitar.   

Untuk memastikan keberlanjutan tahapan rehabilitasi hingga pascatambang, PT Vale menyusun rencana rehabilitasi dan penutupan tambang yang telah disetujui oleh Kementerian ESDM. Rencana ini diperbaharui secara berkala agar tetap sesuai dengan regulasi dan kondisi terkini di lapangan.   

Dalam proses awal, PT Vale melakukan penataan lahan dengan menimbun kembali lubang bekas tambang yang menggunakan material non ekonomis yang tidak lagi digunakan. Setelah itu dilakukan pembentukan lereng.

“Tapi sebelum kegiatan itu, kita punya Engeneer untuk desain lahannya, kita lihat dulu prosesnya itu panjang, ketika sudah disetujui oleh manajemen Engeneering, kita boleh melakukan penataan lahannya,” imbuhnya.

  PT Vale Gandeng Komunitas Lokal Gelar Lomba Kreatifitas Anak di Hari Anak Nasional

Selain itu, PT Vale melakukan pengendalian erosi. Yang mana PT Vale membuat drainase, dengan menggunakan batu dan giomate. Jika proses itu telah dilakukan maka pihak perusahaan akan melakukan kehampaan tanah pucuk dengan menggunakan top soil atau permukaan tanah yang disimpan sebelum aktivitas pertambangan dilakukan.

Jika top soil telah dihamparkan diatas lahan yang telah dilakukan penataan, maka mulai dilakukan penghijauan yang diawali dengan memperbaiki kualitas tanah dengan menggunakan kompos dengan menggunakan 16 ton per hektare.

“Ini adalah kuncinya Vale agar tanamannya tumbuh dan berhasil, dan kemudian penanaman pohon dan cover crop demi mengikat unsur hara pada tanah dan dilanjutkan dengan penanaman pohon perintis,” singkatnya.

Proses panjang rehabilitasi  tidak cukup hanya sampai pada tahap penanaman pohon, tapi juga pohon yang telah ditanam akan dilakukan perawatan, seperti pemberian pupuk, dan melakukan penyulaman ketika terdapat tanaman yang mati.

“Ini kita rawat seperti keluarga, sampai tamanan tersebut dianggap bisa independen pada tahun ketiga. Setelah itu ditambahkan dengan tanaman multi guna seperti kayu manis, mangga dan buah-buahan lainnya,” tandasnya. (red/teraskabar)