Palu, Teraskabar.id – Di jantung Pulau Sulawesi terdapat ekosistem ultrabasa—salah satu ekosistem unik di dunia, dengan tanah miskin hara namun kaya akan logam berat, termasuk nikel. Sejak 2003, PT Vale Indonesia menjadikan perlindungan dan rehabilitasi ekosistem langka ini sebagai prioritas.
Selama lebih dari dua dekade, lebih dari 2 juta tanaman endemik dan dilindungi berhasil dibudidayakan. Hingga Juli 2024, PT Vale telah merehabilitasi 3.817 hektare lahan pascatambang, menanam 67 spesies lokal, dan meningkatkan indeks keanekaragaman hayati hingga mencapai 2,06–2,39, setara dengan tingkat hutan alami.
Hasilnya, kawasan yang dulunya terganggu kini kembali menjadi rumah bagi rangkong sulawesi, monyet moor, dan beragam spesies kupu-kupu. Melalui inovasi teknik rootballed propagation yang mampu mempercepat pemulihan hutan hingga 6–10 tahun lebih cepat, PT Vale menunjukkan bahwa industri tambang pun dapat menjadi agen pemulihan.
Dua arboretum yang didirikan; Taman Kehati Sawerigading Wallacea dan Himalaya Arboretum, kini menjadi laboratorium hidup, pusat riset, sekaligus benteng konservasi generasi mendatang.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea
Sebagai wujud nyata komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati, PT Vale menetapkan Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Sawerigading Wallacea sebagai kawasan khusus yang mengintegrasikan fungsi konservasi, edukasi, dan rekreasi. Terletak di area seluas sekitar 71,8 hekater, lahan bekas tambang ini menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan lokal, tempat penangkaran rusa timor (Rusa timorensis), serta konservasi kupu-kupu lokaldan endemik.
Penetapan taman ini secara internal dilakukan pada Agustus 2024, dan disahkan melalui Keputusan Bupati Luwu Timur Nomor 54/D-05/II/Tahun 2025. Taman Kehati Sawerigading Wallacea tidak hanya mencerminkan komitmen perusahaan terhadap perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran dan keterlibatan publik dalam menjaga kekayaan hayati lokal.
Sebelumnya, pada 30 Maret 2024, Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo meresmikan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sawerigading Wallacea. Taman Kehati Sawerigading Wallacea merupakan wujud komitmen Praktik pertambangan berkelanjutan dengan menerapkan tata kelola lingkungan yang hijau dan mengacu pada standar Environment, Social and Governance (ESG) dan mendapat apresiasi Presiden, Joko Widodo.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea ini dikembangkan dengan modern nursery yang ditanami 74 jenis tanaman lokal dan endemik di atas lahan bekas tambang.
Himalaya Arboretum
Himalaya Arboretum merupakan kawasan konservasi pascatambang PT Vale. Di kawasan seluas kurang lebih 20 hektare ini terdapat 40 jenis pohon, terdiri kelompok tanaman lokal daur panjang di antaranya, Agatis, Kayu Manis, Belulang, Beringin, Betao Kuning, serta Bintangur.
Di dalam kawasan konservasi ini juga tumbuh kelompok tanaman lokal perintis seperti Bunu, Jabon Merah, Jabon Putih, dan Johar. Sedangkan kelompok tanaman non lokal perintis di antaranya, Sengon Buto, Saga Merah dan Ekaliptus.
Team Leader Revegetation PT Vale Indonesia, Harun Tandioga menjelaskan, tanaman yang tumbuh di Arboretum Himalayah ini mulai ditanam sejak tahun 2006. Bila menghitung mundur, umur pepohonan yang ada di kawasan Arboretum Himalayah sudah ada yang mencapai hampir dua dekade. Sehingga, kawasan ini sudah kembali terbentuk sebagai hutan padat.
“Kalau kita masuk ke dalam (kawasan hutan Arboretum Himalaya), sudah sulit membedakan antara hutan asli dengan hutan reklamasi, bukti PT Vale sukses restorasi lahan pascatambang,” kata Harun.
Selain sudah terbentuk sebagai hutan padat, diameter pohon yang tumbuh di kawasan konservasi ini, minimal seukuran lingkar badan orang dewasa. Bahkan, beberapa pohon yang tumbuh di pinggiran kawasan konservasi Arboretum Himalaya jauh melebihi ukuran lingkar badan orang dewasa. Seperti Lamtoro (Leucaena Leucacephala), Dengen (Dillenia Serrata) dan Mangga (Mangifera Indica).
“Di sini (Arboretum Himalaya) sudah ditemukan ular hitam,” kata Reclamation Engineer PT Vale Indonesia Erlin Harry kepada peserta media visit.
Kemunculan ular hitam tersebut terpantau dari kamera perekam yang dipasang Tim peneliti di kawasan Arboretum Himalaya. Dalam kamera yang dipantau setiap tiga bulan sekali itu terekam aktivitas ular hitam di kawasan Arboretum Himalaya yang memiliki 40 jenis pohon, terdiri dari jenis lokal, perintis, non lokal hingga daur panjang.
“Ular hitam selama ini belum pernah terpantau melalui kamera rekaman yang dipasang di beberapa titik di kawasan seluas lebih dari 20 hektare ini, tapi baru baru ini dilaporkan telah terdeteksi keberadaannya,” ujar Erlin memperingatkan disambut candaan lain dari rekan rekan peserta dengan aksen Bugis Makassar “Kalau mau pulang tinggal nama, coba coba mi”.
Kemunculan kembali ular hitam di Hutan Arboretum Himalaya menjadi indikasi keberhasilan PT Vale Indonesia (Tbk) merehabilitasi kawasan pascatambang di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Fenomena ini menunjukkan ekosistem di kawasan Arboretum Himalaya sudah kembali berfungsi sebagai kawasan hutan sejak rehabilitasi dua dekade silam.
Kehadiran ular hitam, bukan sekadar kemunculan satwa biasa. Melainkan indikator bahwa ekosistem hutan sudah kembali pada fungsi semula. Satwa liar akan memasuki suatu kawasan yang pernah dia tempati jika menganggap habitatnya sudah aman dan memiliki sumber makanan yang memadai.
Selain itu, kemunculan satwa ini menunjukkan bahwa rantai makanan di kawasan Arboretum Himalaya mulai terbentuk kembali. Ular sebagai predator alami dan berada ditingkatan teratas rantai makanan satwa kecil, akan memperkuat keseimbangan ekosistem.
Hal ini juga menjadi bukti komitmen PT Vale Indonesia bahwa menjaga dan merawat lingkungan merupakan DNA perusahaan. Bagi PT Vale Indonesia, menghadirkan kembali ekosistem hutan seperti sedia kala sebelum proses penambangan juga menjadi bagian penting dari visi perusahaan dalam mewujudkan good mining practise.
PT Vale Sukses Restorasi, Raih Penghargaan Bergengsi
PT Vale sukses restorasi lahan pascatambang dengan menghadirkan Taman Kehati Wallacea dan Himalaya Arboretum tersebut menorehkan prestasi gemilang bagi PT Vale Indonesia dengan meraih penghargaan bergengsi pada ESG Business Awards 2025: Biodiversity Conservation Award – Indonesia.
Penghargaan ini menegaskan bahwa PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) bagian dari MindID, tidak hanya berperan sebagai penyedia mineral penting bagi transisi energi global, di tengah tantangan dunia menghadapi krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan persoalan limbah yang kian mendesak, tetapi juga sebagai pelopor dalam memulihkan ekosistem, menjaga keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan masyarakat lokal. (red/teraskabar)







