Oleh Azman Asgar (Wakil Sekretaris I DPW Partai Gema Bangsa Sulawesi Tengah)
Anjlok, kepercayaan publik terhadap Partai Politik makin memprihatinkan. Temuan Indikatormemperlihatkan rasa percaya masyarakat pada partai politik tinggal 65,6%.
Di rangking pertama, ada Lembaga TNI dengan tingkat kepercayaan sampai 85,7%. Disusul Presiden 82,7%, Kejaksaan 76%, dan DPR 71%.
Apa yang dilaporkan Survei Indikator menjadi cerminan dari buruknya pengelolaan Partai Politik.
Sepintas memang demikian, pragmatisme kental sekali dalam manegerial Partai Politik di Indonesia. Hampir tak ada diferensiasi sikap maupun ideologi.
Meminjam istilah Ahmad Rofiq, Ketum Gema Bangsa, ‘Partai sekedar menjadi Kuda Troya merebut kekuasaan.’
Partai Politik makin jauh dari denyut nadi rakyat kecil, tiba menjamah hanya lima tahun sekali.
Padahal, dari sana lahirnya sebuah produk politik paling strategis seperti UU, Perda dll, Para anggota kehormatan. Bahkan, Kepala Negara sekalipun adalah hasil produk Partai Politik.
Tidak berlebihan jika ada yang beranggapan bahwa rusaknya tatanan bernegara justru dimulai dari rusaknya Partai Politik itu sendiri.
Sistem kaderisasi yang lemah dan meningkatnya transaksi politik
Kalau kita cek secara serius, hampir semua partai tidak bersungguh-sungguh melakukan kaderisasi berjenjang di tubuh Partai Politik.
Partai disederhanakan sekadar menjadi alat kebutuhan pemilu. Bukan investasi sumber daya manusia di masa depan.
Belanja tokoh sering kita jumpai, ini menjadi praktik pragmatisme paling buruk dari Partai Politik kita. Itu dianggap sah sebagai langkah paling instan meraup dukungan.
Fenomena dari langkah pragmatis itu justru melahirkan Personalisasi Politik (Personalization Of Politics). Sesuatu hal yang membahayakan, di mana ketokohan personal melampaui kerja-kerja bersama di tubuh Partai Politik.
Jangan heran jika terkadang produk yang dihasilkan seorang ‘kader’ malah merepresentasikan kepentingan personal daripada kepentingan yang dirumuskan secara bersama di ruang-ruang resmi kepartaian.
Belum lagi transaksi politik. Tingginya harga pasar elektoral juga berdampak pada sistem pengelolaan Partai Politik. Otonomisasi di internal Partai terabaikan, sentralisme demokrasi menjelma menjadi sentralisme totaliter. Dari jenjang pimpinan pusat hingga daerah.
Hak dan aspirasi warga negara menjadi tidak tersalurkan oleh Partai Politik, begitu juga dengan kesadaran berpolitik masyarakat, semakin menunjukan kekhawatiran. Yang tertinggal hanyalah skeptisme, apatis dan pragmatisme.
Partai, kehilangan tempat di hati setiap warga negara, dan itu membahayakan bagi demokrasi.
Masa Depan Partai Baru
Selalu ada harapan dalam setiap peristiwa, meski hanya sebesar zarrah.
Rendahnya kepercayaan publik terhadap Partai Politik bisa menjadi pintu masuk mengembalikan citra Partai melalui peran dan performa partai yang lebih inklusif, setara dan memberdayakan.
Partai politik yang dikemas harus menunjukan diferensiasi paling mencolok dari partai lainnya. Utamanya dari sisi manegerial internal partai.
Partai politik mesti menjadi wadah jalan keluar dari problem kolektif masyarakat, bukan sebaliknya, menjadi elitis dan bebal terhadap aspirasi Masyarakat dan kader-kadernya sendiri.
Studi dari Formappi pada tahun 2024 menjadi bukti kongkrit bahwa, sebagian besar Partai Politik tidak responsif dan tidak aspiratif terhadap kepentingan publik.
Perubahan ekonomi politik global yang begitu cepat harus menjadi panduan Partai untuk berbenah. Banyak yang berubah. Mulai dari cara pandang, orientasi, psikologi, budaya hingga relasi sosial Masyarakat. Semua harus mampu diwadahi oleh Partai Politik.
Partai di masa depan akan memikul tanggung jawab yang sangat kompleks. Sebuah tantangan yang mesti dikelola dengan baik.
Di masa depan, Partai bukan lagi tentang lembaga politik saja. Tapi juga rumah kreatif, unit pemberdayaan dan sekolah yang melahirkan kepemimpinan.
Lahirnya partai baru dengan beragam cita-cita perjuangan dan performa yang lebih moderen bisa menjadi jalan baru mengembalikan peran Partai Politik dalam menopang sistem demokrasi.
Kesadaran akan pentingnya berpartai harus di bentuk kembali, itu hanya bisa dilakukan melalui peran Partai Politik yang lebih futuristik.
Partai Gema Bangsa hadir menjadi bagian penting dari rangkaian proses sejarah Bangsa Indonesia. Bukan hanya bertekad pada perwujudan kemandirian Bangsa, tapi juga memberikan kesadaran akan pentingnya politik bagi setiap warga negara.
Meski tidak mudah, tapi harus di awali. Semangat itu yang di pikul oleh semua kader Partai Gema Bangsa dalam merespon isu-isu strategis di masa depan. ***







