Palu, Teraskabar.id – Sulawesi Tengah mengalami inflasi sebesar 0,96 persen secara bulanan (month to month ) pada bulan Juli 2029. Kontribusi terbesar inflasi Sulteng kali ini nyaris seluruhnya disumbang oleh kelompok pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau di antaranya beras.
“Bia dibandingkan dengan inflasi nasional secara bulanan sebesar 0,30 presen. Artinya, inflasi Sulteng di atas rata-rata nasional,” kata Imran Taufik J. Musa, Plt Kepala BPS Provinsi Sulteng pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Jumat (1/8/2025), yang dipusatkan kegiatannya di ruang pertemuan kantor BPS Sulteng dan disiarkan melalui zoom meeting.
Ia melaporkan, dari 11 kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,82 persen dan memberi andil inflasi sebesar 0,89 persen secara bulanan.
Dari 11 kelompok pengeluaran tersebut, selain kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi 0,28 persen dan berkontribusi pada inflasi sebesar 0,02 persen, disusul Transportasi mengalami inflasi 0, 66 persen dengan andil inflasi 0,08 persen.
“Ada beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi. Tapi pada umumnya 11 kelompok pengeluaran terjadi inflasi,” kata Imran Taufik didampingi Asisten II Setdaprov Sulteng DR. Rudi Dewanto, S.E, M.M.
Secara umum, komoditas penyumbang utama inflasi secara bulanan antara lain, Tomat, Beras, Cabai Rawit, Bawang Merah, Ikan Selar, Jagung Manis dan Bensin.
Berdasarkan Spasial
Empat kabupaten/kota di Sulawesi Tengah yang menjadi lokasi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tertinggi secara bulanan (M to M) terjadi di Kabupaten Tolitoli, tercatat 1,85 persen, disusul Kabupaten Morowali sebesar 1,58 persen, Kota Palu 0,65 persen, dan Luwuk 0,57 persen.
Di Kabupaten Tolitoli, tiga komoditas penyumbang utama Inflasi adalah, Beras, Tomat dan Cabe Rawit. Sedangkan penyumbang utama deflasi adalah Udang Basah, Cabai Merah, dan Sawi Hijau.
Di Kabupaten Morowali, tiga komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap inflasi adalah, Tomat, Beras, Bensin. Sementara penyumbang utama deflasi adalah Cabai Merah, Bawang Merah dan Tepung Terigu.
Di Luwuk, komoditas penyumbang terbesar terhadap inflasi adalah Beras, Cabai Rawit, Ikan Selar. Penyumbang deflasi adalah Angkutan Udara, Daging Ayam, dan Bawang Putih.
Hal serupa di Kota Palu, komoditas Beras, Tomat dan Cabai Rawit adalah penyumbang terbesar inflasi sedangkan penyumbang deflasi adalah Ikan Kembung, Telur Ayam Ras dan Daging Ayam Ras.
“Artinya, dari empat kabupaten/kota, beras dan Tomat penyumbang inflasi di masing-masing empat kabupaten/kota itu ada, Cabai rawit di Tolitoli dan Luwuk, kemudian Bensin di Morowali,” ujarnya.
Inflasi Tahun ke Tahun
Plt Kepala BPS Sulteng menjelaskan, inflasi secara tahunan atau Year to Year, inflasi pada bulan Juli 2025 terjadi cukup tinggi. Angkanya mencapai 3,69 persen. Inflasi tertinggi secara tahunan (Y on Y), terjadi di Kabupaten Tolitoli sebesar 5,98 persen, disusul Luwuk 4,19 persen, Morowali 4,22 persen, dan Kota Palu 2,87 persen.
Hal menarik jika mengamati grafik inflasi secara tahunan, siklus inflasi pada bulan Juli terjadi cukup tinggi. Besarannya pada bulan Juli 2024 di angka 2,45 persen, sedangkan pada Juli 2025 sebesar 3,69 persen.
“Siklus ini kita perlu amati bersama, apa yang terjadi pada kondisi Juli 2025 terjadi inflasi yang cukup tinggi bila dibandingkan kondisi pada Juli 2024,” ujarnya.
Dari 11 kelompok pengeluaran, Perawatan Pribadi dan Jasa lainnya mengalami inflasi 8,64 persen dengan andil inflasi 0,62 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Emas Perhiasan, Pasta Gigi dan Hand Body Lotion.
Disusul kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau terjadi inflasi 7,85 persen dengan andil inflasi 2,44 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Beras, Tomat dan Cabai Rawit.
“Hanya kelompok Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan yang mengalami deflasi, sedangkan lainnya mengalami inflasi,” ujarnya. (red/teraskabar)






