“Disamping berharap dapat menelusuri Arsip dari periode VOC hingga Pemerintahan Hindia Belanda, khususnya di Sulteng pada masa jaman kerajaan Suku Kaili di Lembah Palu, Donggala, Banggai, Buol, Poso, Morowali termasuk arsip kebencanaan yang pernah terjadi sebelum kemerdekaan sebagai siklus bencana yang terjadi tahun 2018 yang lalu dan sebagainya,” katanya.
Selain penelusuran arsip bernilai budaya seperti dokumen atau arsip tentang cagar budaya atau 1000 situs megalitikum yang tersebar di Lembah Napu, Behoa dan Bada yang sudah ada sekitar 3000 tahun silam, penelusuran juga dilakukan untuk mengetahui masuknya Agama Islam di Sulawesi Tengah, masuknya Agama Kristen di Poso dan Bahasa Daerah Poso khususnya Kamus Bare’e yang ditulis oleh Dr. Adriani berkebangsaan Belanda, tari-tarian dan pakaian kulit kayu dan sebagainya.
Untuk mendapatkan semua arsip ini yang kemungkinan tersimpan arsipnya di Arsip Nasional Belanda dan naskah kunonya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden membutuhkan waktu yang cukup panjang, namun penelusuran ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja.
Baca juga : Seminar Kepahlawanan Tombolotutu, Ini Harapan Gubernur Sulteng
Melalui kunjungan kerja dinas ini lanjutnya, diharapkan akan terus terbangun koordinasi dan komunikasi, serta kerjasama yang baik dengan para Arsiparis dan Pustakawan yang ada di kedua Lembaga ini di Belanda, sehingga kita tetap dapat dibantu untuk mendapatkan arsip atau dokumen yang masih kita butuhkan.
Adapun rombongan yang juga mengikuti kunjungan kerja ini, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Drs. Adidjoyo Dauda, M.Si serta pendamping dari Arsiparis Arsip Nasional Belanda, masyarakat keturunan Indonesia yang kini jadi warga Negara Belanda, Julinta Hutagalung, SE, MA. (teraskabar)







