Morowali, Teraskabar.id– UMKM Bahonala, Desa Laroue, Kecamatan Bumgku Timur, Kabupaten Morowali, salah satu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang aktif di wilayah kaya sumber daya alam itu. UMKM yang digawangi oleh Nurul Husna, Yusniar, Mawarni, Darni dan Nurlia ini mengelola usaha produksi Nata De Coco dari air kelapa murni.
UMKM Bahonala merupakan salah satu binaan PT Vale IGP Morowali melalui program pemberdayaan masyarakat (PPM ) dengan fasilitator Econatural Society Indonesia. Pada Februari 2024, Econatural berkunjung ke Desa Laroue untuk menawarkan pelatihan produk home industri. Setelah menyatakan kesediaan, kelima ibu rumah tangga itu menjalani pelatihan intensif selama enam bulan dan mendapatkan bantuan peralatan mesin dari PT Vale Indonesia.
” Yang melakukan pelatihan adalah Econatural Society Indonesia bekerjasama dengan PT Vale Indonesia. Alhamdulillah, PT Vale memberikan kami bantuan berupa peralatan mesin pemotong nata dan mesin sealer,” kata Nurul Husna, Ketua UMKM Bahonala kepada Teraskabar, Senin (23/6/2025).
Selain peralatan mesin, PT Vale juga memberikan peralatan pendukung lainnya seperti tempat penampungan air kelapa melalui Econatural Society Indonesia. Nurul Husna mengatakan bahwa sejauh ini, PT Vale adalah yang terbaik dalam hal pembinaan UMKM di desa binaanya.

“Sejauh ini dalam hal pembinaan, PT Vale adalah yang terbaik. Kedepan kami berharap anggaran CSR yang dberikan di desa-desa binaan sekiranya bisa dikucurkan dananya kepada pelaku UMKM dan UMKM yang pernah didampingi agar lebih diperhatikan lagi,” ungkapnya.
Saat ini UMKM Bahonala sudah tidak lagi didampingi oleh Econatural maupun PT Vale, namun Nurul Husna mengaku bahwa komunikasi masih terjalin baik hingga saat ini.
Ia berharap melalui komunikasi yang terus terjalin, air kelapa yang kini menjadi berkah bagi lima ibu rumah tangga itu bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Meski masih dipasarkan terbatas di rumah produksi dan melalui media sosial seperti Facebook serta WhatsApp, produk ini telah mendapat respon positif.
“Banyak yang bilang produk kami lebih enak dari nata de coco yang dijual di minimarket,” ujar Nurul Husna bangga.
Produk ini juga telah mengantongi sertifikasi halal. Namun, izin P-IRT belum bisa diberikan karena produk tak mampu bertahan lama di suhu ruangan. Meskipun demikian, para pelaku usaha ini tidak patah semangat. Mereka bahkan sudah dua kali mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Dinas koperasi dan UMKM.
Secara ekonomi, hasil penjualan sudah bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga harian, seperti membeli bumbu dapur. “Alhamdulillah, dari hasil penjualan kami bisa belanja kebutuhan dapur tanpa harus mengandalkan uang suami,” katanya.
Kelima ibu ini memiliki harapan besar agar produk mereka bisa menembus pasar yang lebih luas dan bisa mengisi etalase minimarket. Mereka juga berharap adanya dukungan dan bantuan lebih dari pemerintah daerah.
“Jangan buta melihat kami pelaku UMKM. Kami ini sebenarnya wajah keberhasilan daerah. Kalau kami berhasil, daerah juga ikut naik,” tutupnya dengan penuh harap.
Semangat dan kerja keras para ibu-ibu di Laroue ini menjadi bukti nyata bahwa potensi lokal, jika dikelola dengan serius dan diberi ruang berkembang, bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi baru yang membanggakan daerah. (ghaff/teraskabar)







