Palu, Teraskabar.id – Gempabumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kota Palu dan sekitarnya pada Selasa (16/6/2026) sekitar pukul 10.24 Wita. Sebanyak 8 korban terluka akibat gempa tektonik yang dirasakan guncangannya di lima daerah di Sulteng.
Rinciannya, sebanyak dua warga di Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi mengalami luka berat akibat patah tulang dan benturan di kepala. Sementara itu, enam warga mengalami luka ringan, tiga orang di Kecamatan Nokilalaki, 2 orang di Kecamatan Palolo, serta satu orang di Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi. Korban yang mengalami luka berat kini berada di Rumah Sakit Torabelo Kabupaten Sigi.
“Berdasarkan hasil koordinasi sementara dengan instansi terkait, belum terdapat laporan korban jiwa. Pendataan terhadap dampak dan kerusakan akibat gempa masih terus dilakukan,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Muh Rizal, SH, Selasa (16/6/2026).
Gempabumi ini dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah terdampak, antara lain Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Tojo Una-Una.
Guncangan gempa menyebabkan kepanikan masyarakat yang berhamburan keluar rumah maupun bangunan untuk menyelamatkan diri.
8 Korban Terluka Akibat Gempa, Kansar Palu Koordinasi dengan BPBD
Sementara itu, Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu melaksanakan koordinasi dengan BPBD Kota Palu terkait dampak gempa. Hasil koordinasi sementara menyebutkan tidak terdapat kerusakan material yang signifikan dan kondisi masyarakat dalam keadaan aman.
Selanjutnya, Tim Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu menuju Auditorium Universitas Tadulako (Untad) untuk melaksanakan asesmen terhadap laporan robohnya sebagian plafon bangunan akibat dampak gempa.
Hingga pukul 17.30 Wita tercatat telah terjadi 48 kali gempa susulan berdasarkan data BMKG.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, episenter gempabumi ini terletak pada koordinat 1,03° LS ; 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km tenggara Palu, Sulawesi Tengah pada kedalaman 10 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun ( normal fault ).
Guncangan gempabumi ini menyebabkan Gedung Auditorium Univesitas Tadulako (Untad) rusak. Gedung yang sementara digunakan salah satu sekolah di Kota Palu melaksanakan prosesi penamatan siswa siswinya, plafon bangunan ambrol. Media ini belum memperoleh keterangan resmi mengenai korban akibat insiden plafon Gedung auditorium yang ambrol.
Tim Basarnas Palu sementara dikerahkan untuk membantu penanganan para pengunjung pada kegiatan penamatan siswa tersebut.
Untuk diketahui, berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) dan hasil observasi instrumentasi, gempabumi magnitudo 6,7 ini dirasakan dengan: Skala intensitas VI-VII MMI di Palu; Skala intensitas V-VI MMI di Sigi; Skala intensitas III MMI di Polewalimandar, Mamasa, Mamuju, Pasang Kayu, serta Skala intensitas II-III MMI di Pinrang, Pare-Pare, Pohuwatu, Boalemo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Gorontalo, Luwu Utara. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Hingga pukul 11.20.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 9 aktivitas gempa bumi susulan ( aftershock ), dengan magnitudo terbesar M5,1.
BMKG akan terus memonitor perkembangan aktivitas gempa bumi susulan, dampak gempa bumi ini, serta segera menginformasikan kepada stakeholder, media dan masyarakat. Info lebih lengkap akan disampaikan pada saat update Press Conference. (red)






