Minggu, 25 Januari 2026
News  

Untad Mestinya Pelopori Ketahanan Pangan yang Jadi Isu Global

Jubir Cudy Sebut Manuver Fatal Oknum Pejabat Soal Usulan Pjs Kada
Juru Bicara Cudy SAH sekaligus Tenaga Ahli Gubernur Sulteng, Andono Wibisono. Foto: dok

Oleh Andono Wibisono/alumni Untad

ISU Pemanasan global. Perubahan iklim, krisis pangan, krisis energi menjadi beberapa topik bahasan dunia. Bahkan negara eropa berkumpul kuatir dampak pemanasan global mencairkan gunung es di belahan antartika.

Perubahan iklim global berdampak merubah siklus pasokan pangan dunia. Bahkan ancamannya nyata. Dampak perang Rusia – Ukraina juga merangsek dampaknya ke energi dan pangan.

Indonesia, terancam dengan suplai pangan yang selama ini impor. Beras dari Thailand, Burma dan lainnya. Dalam sebuah rilis resmi Kementerian Pertahanan RI, mesti siap – siap bila hitungan terburuk negara pengimpor beras ke 250 juta manusia Indonesia dihentikan.

Baca jugaWapres Dukung Saudi Arabia Pelopori Gerakan Islam Wasathiyah

Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura kini sedang menyiapkan Kawasan Pangan Nasional (KPN). Sejumlah pihak diundang untuk berpartisipasi.

Bagaimana peran kampus? Di Sulawesi Tengah ada kampus terkenal yaitu Universitas Tadulako. Luasnya hampir 1/4 luas Kota Palu. Data terbaru mahasiswanya 53 ribu. Pengajarnya kualifikasi doktor dan profesor seiring tahun bertambah.

Universitas ini mengusung nama legenda tutur gelar Satria dalam budaya Kaili yaitu *Tadulako* Gelar ini disematkan bagi seseorang yang berjasa, berani, leadership, berfikir dan bertindak untuk banyak orang, tegas, kuat, dan rendah hati ke bawah dan lemah lembut ke atas. Namun memiliki prinsip yang besar, bukan parsial, dan mengayomi semua.

Baca jugaGagal Jadi Tuan Rumah Porprov 2020, Kinerja Ketua KONI Buol Dipertanyakan

Universitas *Tadulako* semestinya lebih aktualitatif menangkap isu isu strategis dan mendesak. Dengan hamparan luas kampus dan mempelopori klaster pangan berbasis tanaman lokal di setiap kampus.

Misalnya, kampus pertanian. Kampus peternakan, kampus – kampus lainnya yang kiri kanan masih memiliki lahan cukup besar. Saya teringkat ketika almarhum Prof DR Mattulada, 1990, menyampaikan kuliah umum mahasiswa baru Untad. ‘’Kita memiliki laut di depan. Garis pantai panjang, belakang kampus anak anak gunung dan sekitar kita dikenal Bumi Kaktus. Pemikir sejati, ilmuwan itu akan tumbuh dan mewarnai sekitarnya di gurun tandus dan gersang,’’ ungkap rektor pertama kampus yang diperkirakan seluas 200 hektare itu.

  Siber Operasi Mantap Brata Polda Sulteng Pantau Ruang Digital

Kini saya sangat terenyuh. Kalangan kampus masih diributkan soal tingginya UKT, soal hukum pejabat lama akibat konflik nyaris sewindu.

Baca jugaWagub Sulteng Jamin Petani Jagung di Buol Tak Perlu Lagi Kuatir Soal Pemasaran

Untad, sekali lagi mesti Gercep menyiapkan konsep bahkan mempelopori pencetakan lahan tandus menjadi sawah siram, atau ladang siram, atau menjadi pusat pengembangan dan lokasi spesis kaktus dunia yang dapat diolah menjadi bahan pangan.

Sebagai alumni Untad, sangat prihatin. Potensi begitu besar, tapi gagap hingga kini mengelola menjadi sebuah BLU yang potensial. Andai saya rektor ! Saya akan bangun SPBU sekitar tembok kampus yang dibangun dengan uang miliaran rupiah hanya menunjukkan batas tanah. Andai saya jadi rektor, depan kampus akan dibangun *food courner* sebagai *rest area* bagi pengendara luar Kota Palu. Karena jalan lingkar yang dibangun pemerintah nasional sangat strategis.

Baca jugaHidup Bergelimang Harta, Nagita Slavina Justru Semakin Kuatir

Andai saya rektor, membangun asrama, atau flat – flat bangunan mahasiswa dengan budget murah. Bahkan yang berprestasi digratiskan. Agar mahasiswa senantiasa dalam lingkungan dan ekosistem Untad selama 24 jam.

Untad kembali pada isu judul mesti Gercep menangkap isu isu internasional, global dan nasional. Untad adalah kebanggaan kita. Kebanggaan warga Sulteng. Kebanggaan bagi Indonesia. (***/teraskabar)