Kolonodale, Teraskabar.id – DPRD Kabupaten Morowali Utara (Morut) menggelar rapat dengar pendapat (RDP) membahas mengenai permasalahan pasar rakyat Kolonodale, dengan mengundang sejumlah organisasi prtangkat daerah (OPD) terkait, Senin (30/10/2023), di ruang Komisi II DPRD.
RDP yang dipimpin langsung Ketua DPRD Morut Wardhah Daeng Mamala dan dihadiri Asisten III, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagdakop), serta Badan Pendapatan Daerah tersebut, menindaklanjuti hasil kunjungan lapangan ketua DPRD Morut ke pasar rakyat Kolonodale, Ahad (29/10/2023).
Dalam RDP tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Morut mengungkapkan sejumlah keluhan para pedagang mengenai kondisi pasar Kolonodale yang sangat semrawut. Dukungan infrastruktur untuk berjualan di pasar yang menjadi urat nadi perekonomian di pusat kota penghasil tambang nikel itu, jauh dari kata memadai.
Baca juga: Kakanwil Kemenag Sulteng: Bila Menyimpang Saat Pengukuran Arah Kiblat, Ini Solusinya
Selain itu, kondisi pasar sangat jorok. Akses jalan menuju setiap los pasar, kondisinya becek. Ditambah bau busuk menyengat dari sampah di sekitar pasar yang menumpuk. Sehingga, para pembeli enggan masuk ke dalam pasar untuk berbelanja dan lebih memilih berbelanja di luar lokasi pasar.
“Saya sangat kasihan dan prihatin melihat kondisi para pedagang di pasar yang tempat mereka menjual seperti itu. Dan, saya didatangi langsung oleh ketua kelompok pedagang ikan di rumah jabatan untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami dan meminta agar ada solusi dari pemerintah maupun dari wakil rakyat,” kata Ketua DPRD Morut, Wardhah Daeng Mamala saat memimpin RDP.
Makanya, menurut Wardhah, DPRD mendorong pemerintah untuk segera melakukan penataan terhadap para pedagang yang berada di luar area pasar, terutama yang berjualan di bantaran sungai, pedagang sayur yang bersileweran di mana- mana, serta pedagang ikan.
Baca juga: Nelayan Hilang di Kolonodale karena Dihantam Ombak Besar
“Besok (Hari ini, red) barangkali komisi II kalau ada waktu, turun ke sana untuk melihat kondisi pasar yang begitu tidak sehat, termasuk pasar ikan, mari kita bersama-sama mencarikan solusinya,” katanya.
Berdasarkan hasil kunjungannya ke pasar rakyat lanjutnya, Wardhah mengakui kondisi pasar saat ini memang sangat tidak sehat untuk mendukung aktivitas berjualan para pedagang, terutama untuk los pasar ikan. Satu los ditempati 55 pedagang ikan dan posisi para pedagang tidak beraturan dan jalan menuju ke setiap para pedagang ikan, cukup sempit. Sehingga, pedagang yang kebetulan berada di bagian Tengah, sulit dijangkau para pembeli.
“Tidak sehat memang saya liat kemarin, satu los dihuni 55 pedagang ikan dan tidak beraturan. Sehingga pedagang yang posisinya berhadapan langsung dengan jalan los yang bisa diakses langsung para pembeli. Sementara yang berada di baris dua, tiga dan empat, tidak kebagian pembeli,” ujarnya.
Baca juga: Nelayan Hilang di Kolonodale karena Dihantam Ombak Besar
Masalah selanjutnya adalah bangunan di blok c yang dibangun dari APBD, atapnya sudah bocor sehingga sudah tidak bisa difungsikan oleh pedagang. Para pedagang di lokasi itu pernah menyiasatinya dengan melapisi terpal pada atap yang bocor namun tidak berhasil. Mereka juga pernah mencoba melapisinya dengan tripleks, namun juga tetap bocor. Sehingga kalau musim hujan, lokasi tersebut tergenang air.
Soal sampah di lokasi ini juga jadi sorotan, sehingga ketua DPRD menyentil DLH untuk turut memperhatikan soal kebersihannya. “Jorok sekali pak, kalau bisa segera dicarikan solusinya,” imbuhnya. (teraskabar)







