Minggu, 3 Mei 2026

Pasukan Militer AS Mulai Bangun Pelabuhan Gaza Jelang Invasi Rafah

Pasukan Militer AS Mulai Bangun Pelabuhan Gaza Jelang Invasi Rafah
US CENTCOM menerbitkan gambar pertama pelabuhan terapung yang dibangun di Jalur Gaza utara, yang diduga akan digunakan untuk membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Selasa, 30 April 2024. Foto: Istimewa

Gaza, Teraskabar.idPerdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah menyatakan bahwa pelabuhan yang dibangun AS dapat membantu dalam ‘pembersihan etnis’ warga Palestina dari Gaza.

Pasukan AS telah memulai pembangunan pelabuhan maritim di lepas pantai Gaza, kata Pentagon pada Jumat (26/4/2024), ketika ratusan ribu warga Palestina terus menghadapi pengungsian lebih lanjut menjelang antisipasi invasi Israel ke Rafah.

“Saya dapat memastikan bahwa kapal militer AS, termasuk USNS Benavidez, telah mulai membangun tahap awal dermaga sementara dan jalan lintas di laut”, kata juru bicara Pentagon Mayor Jenderal Patrick Ryder kepada wartawan.

Baca jugaPengadilan Kriminal Internasional Memproses Penerbitan Surat Perintah Penangkapan Internasional terhadap Netanyahu

Presiden AS, Joe Biden mengumumkan pembangunan pelabuhan tersebut pada tanggal 07 Maret 2024, mengklaim bahwa hal tersebut akan memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dalam skala besar ke Gaza ketika ancaman kelaparan mulai mengancam.

Namun, rencana pembangunan pelabuhan tersebut pertama kali diusulkan kepada Biden oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada tanggal 22 Oktober tahun lalu, tak lama setelah agresi dimulai, demikian yang dilaporkan Jerusalem Post.

Berbicara pada pertemuan pribadi Komite Urusan Luar Negeri dan Keamanan Knesset pada tanggal 20 Maret 2024, Netanyahu menyatakan bahwa pelabuhan tersebut juga dapat memfasilitasi pemindahan warga Palestina dari Gaza, Kan News melaporkan.

“Sejauh menyangkut Negara Israel, tidak ada halangan bagi warga Gaza untuk keluar, bahkan mungkin pelabuhan yang mereka bangun bisa digunakan untuk itu, tapi belum ada negara di dunia yang siap menerimanya”, kata Netanyahu.

Baca jugaIsrael Kembali Serang Rafah Usai AS Setujui Miliaran Dolar Untuk Tambah Senjata

Pernyataan Netanyahu menimbulkan kekhawatiran bahwa pelabuhan tersebut dapat digunakan untuk mengusir warga Palestina yang tidak punya tempat untuk melarikan diri menjelang invasi Israel yang telah lama direncanakan ke Rafah di perbatasan Gaza-Mesir.

  Yazan Bocah Gaza Syahid, Potret Kelaparan Ekstrem Melanda Warga

Pada saat Biden mengumumkan pembangunan dermaga tersebut pada tanggal 07 Maret 2024, para pejabat Israel memblokir sebagian besar pengiriman bantuan ke Gaza melalui jalur darat dengan truk. Seminggu sebelum pengumuman tersebut, tentara Israel menembaki kerumunan orang yang kelaparan yang tengah berusaha menerima karung tepung di Jalan Al-Rashid di Kota Gaza. Tembakan Israel dan penyerbuan berikutnya menyebabkan 118 orang syahid.

Menurut laporan Reuters, bahwa seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan bantuan kemanusiaan yang mencapai dermaga melalui laut “harus melewati pos pemeriksaan Israel di darat. Padahal bantuan tersebut telah diperiksa oleh Israel di Siprus sebelum dikirim ke Gaza”.

Israel mengklaim pihaknya ingin mencegah bantuan apa pun sampai ke pejuang Hamas yang memungkinkan mereka terus berperang melawan pasukan penjajah Israel.

Baca jugaIsrael Kembali Serang Rafah Usai AS Setujui Miliaran Dolar Untuk Tambah Senjata

Reuters menambahkan, bahwa pos pemeriksaan Israel di dermaga “menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan penundaan bahkan setelah bantuan mencapai pantai. PBB telah lama mengeluhkan hambatan dalam mendapatkan bantuan dan mendistribusikannya ke seluruh Gaza”.

Dermaga tersebut pada awalnya akan menerima bantuan yang cukup untuk memuat 90 truk setiap hari, namun jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat seiring dengan beroperasinya dermaga secara penuh.

Di bawah tekanan internasional yang besar, Israel mengizinkan bantuan tambahan ke Gaza dalam sebulan terakhir. Menurut PBB, rata-rata 200 truk diizinkan masuk setiap hari ke Gaza pada bulan April 2024. Pada hari Senin (22/4), Israel mengizinkan 316 truk memasuki wilayah Gaza.

Meskipun terdapat peningkatan nyata, jumlah truk bantuan yang diperbolehkan masuk masih belum mencukupi. Menurut badan bantuan PBB dan kelompok kemanusiaan lainnya, setidaknya 500 hingga 600 truk dibutuhkan setiap hari untuk menopang kebutuhan rakyat Gaza.

  Bupati Donggala Serukan Solidaritas terhadap Warga Gaza Palestina

Baca jugaG7 Menolak Rencana Israel Untuk Serang Rafah

Meskipun ada peningkatan jumlah truk bantuan baru-baru ini, Gaza utara masih menghadapi bencana kelaparan, wakil kepala pangan PBB memperingatkan pada hari Kamis (25/4), Dia meminta Israel untuk mengizinkan akses langsung dari pelabuhan Ashdod di selatan ke penyeberangan Erez.

Menurut pejabat Gedung Putih yang dikutip oleh Reuters menambahkan bahwa sekitar 1.000 pasukan AS akan mendukung pembangunan dan pengoperasian dermaga, termasuk di sel koordinasi di Siprus dan Israel. Presiden Biden sebelumnya menyatakan tidak ada pasukan AS yang akan menginjakkan kaki di Gaza.

Pejabat itu menambahkan bahwa pihak ketiga akan mengemudikan truk dari dermaga menuju pantai.

Militer Israel mengatakan akan memberikan dukungan keamanan dan logistik untuk dermaga tersebut, termasuk melindungi pasukan AS yang membangun dan mengoperasikan dermaga tersebut.

Seorang pejabat PBB yang tidak mau disebutkan namany, berbicara dengan Ynet dan mengatakan, masih ada beberapa perbedaan pendapat seputar bagaimana Israel akan mengelola keamanan pelabuhan. Militer dilaporkan berusaha memasang posisi senjata yang dikendalikan dari jarak jauh, yang ditentang oleh PBB, kata pejabat tersebut. (teraskabar)