Selasa, 27 Januari 2026
Home, News  

Kunjungan Menko AHY ke Sulteng, Anwar Hafid Usulkan Peningkatan Status Bandara hingga Irigasi

Kunjungan Menko AHY ke Sulteng, Anwar Hafid Usulkan Peningkatan Status Bandara hingga Irigasi
Gubernur Sulteng Anwar Hafid bersama Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Rabu sore (9/7/2025), di ruang Polibu, kantor Gubernur. Foto: Biro Adpim

Palu, Teraskabar.id – Tekad Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, untuk meningkatkan status Bandara Mutiara Sis AljufriPalu tak kunjung surut sebelum terwujud. Momen kunjungan setiap pejabat dari pemerintah pusat, pasti dimanfaatkan untuk mengemukakan usulan tersebut.

Saat kunjungan rombongan Komisi V DPR RI ke Kota Palu pada 19 Juni 2025 lalu, Gubernur Anwar Hafid menjadikan momentum ini sebagai ajang untuk menyampaikan aspirasi warga Sulteng terkait peningkatan status Bandara Mutiara Sis Aljufri menjadi bandara internasional atau minimal bandara logistik.

Peningkatan status tersebut untuk mendukung mobilitas tenaga kerja asing dan arus logistik, mengingat besarnya aktivitas industri di Morowali dan keberadaan tenaga kerja asing, khususnya dari Tiongkok.

Menurutnya, lebih dari 30.000 tenaga kerja asing saat ini bekerja di kawasan industri Morowali dan sekitarnya, namun akses penerbangan internasional masih melalui bandara di Manado dan Makassar.

“Saat ini mereka masih masuk melalui Makassar atau Manado. Palu dilewati. Kalau status bandara dinaikkan, akan sangat mendukung efisiensi dan pengembangan kawasan industri,” ujar Anwar.

Usulan strategis tersebut kini kembali disampaikan oleh Gubernur Sulteng Anwar Hafid. Di hadapan Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Rabu sore (9/7/2025), di ruang Polibu, Gubernur Anwar Hafid menyampaikan usulan strategis agar Bandara Mutiara Sis Aljufri menjadi bandara ‘Hub’ yang akan terus ditingkatkan hingga berstatus internasional.

Gubernur Anwar Hafid menegaskan, jika Bandara Mutiara terealisasi menjadi bandara Hub, ia meyakini akan memberikan efek domino positif terhadap bandara bandara kabupaten.

Menurutnya, wilayah udara Sulteng masih sangat bergantung dengan Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar (Sulsel), sebagai hub-nya. Akibatnya, penumpang tujuan kabupaten di Sulteng harus transit dulu di Makassar sebelum melanjutkan penerbangan.

  Ratusan Pendeta GBI Santap Siang Bersama Anwar -Reny

Dengan menjadi bandara hub, penumpang tak perlu lagi transit di Makassar, melainkan dapat transit di Mutiara Sis Aljufri Palu sebelum melanjutkan penerbangan ke kabupaten.

Apalagi berdasarkan data, sekitar 30 ribu Tenaga Kerja Asing (TKA) Tiongkok sangat bergantung pada penerbangan internasional dari Makassar, sebagai gerbang mereka masuk ke Indonesia.

“Kalau (Mutiara Sis Aljufri) ditingkatkan jadi internasional mereka bisa ke sini dengan menyewa pesawat dari Cina langsung ke Palu,” urainya tentang peluang ekonomi yang sangat terbuka dari sektor transportasi udara.

Selain itu, dengan Mutiara Sis Aljufri menjadi bandara internasional diharapkan dapat menjadi gerbang utama untuk kepentingan spesifik seperti pemberangkatan jamaah haji Sulteng.

Kelanjutan Pembangunan Irigasi Untuk Swasembada

Usulan pembangunan di sektor sumber daya air, juga disampaikan Gubernur Anwar Hafid saat kunjungan Komisi V DPR RI ke Sulteng dalam rangka reses. Gubernur Anwar Hafid kala itu mengungkapkan banyak jaringan irigasi yang telah rusak akibat usia bangunan yang sudah tua, sebagian besar dibangun sejak 1980-an.

Ia pun meminta dukungan pusat untuk merehabilitasi infrastruktur ini dalam rangka memperkuat sektor pertanian dan mewujudkan Sulteng sebagai lumbung pangan.

Usulan tersebut kembali disuarakan Gubernur Anwar Hafid di hadapan Menko AHY. Aspirasi pengembangan titik-titik irigasi yang sudah lama disampaikan ke pusat bisa segera ditindaklanjuti, sehubungan hingga saat ini belum terealisasi.

Dalam paparan di hadapan Menko AHY  di ruang Polibu, Rabu sore (9/7/2025), Gubernur Anwar Hafid menyebutkan 5 titik yang diproyeksi mampu mengairi hingga 126 ribu hektare sawah.

Di antaranya, di Kodina dan Meko, keduanya di Kabupaten Poso, lalu Binsil di Banggai, Karaopa di Morowali dan Sausu-Torue di Kabupaten Parigi Moutong.

“Dulu sudah pernah dikerjakan tapi tidak dilanjutkan sehingga mangkrak,” ucapnya terkait bendungan di Kodina yang tak pernah diselesaikan.

  Bangga Terhadap Anwar – Reny, Warga Dolo Selatan Nyatakan Tak Akan ke Lain Hati

Sementara untuk bendungan di Sausu-Torue, gubernur menyampaikan aspirasi ke Menko AHY agar diterapkan sistem interkoneksi untuk menyatukan keduanya.

Dengan irigasi yang berfungsi optimal, diharapkan sawah-sawah petani teraliri air dengan cukup sehingga hasil panen maksimal.

Gubernur pun optimis cita-cita swasembada pangan dalam bingkai BERANI Panen Raya dengan target produksi padi mencapai 6 ton per hektar akan terwujud. (red/teraskabar)