SEJAK awal, umat Islam memaknai Isra Miraj sebagai peristiwa agung yang melampaui logika sejarah. Namun, pembacaan yang terlalu spiritual sering kali memisahkan langit dari bumi. Padahal, Isra Miraj sebagai wadah pembentukan kesadaran justru lahir dari realitas sosial yang penuh luka.
Nabi Muhammad SAW mengalami Isra Miraj pada fase penindasan paling keras, ketika kekuasaan Quraisy menutup ruang hidup kaum lemah dan memonopoli kebenaran.
Karena itu, Isra Miraj tidak pernah berdiri netral. Peristiwa ini hadir sebagai jawaban ideologis atas ketimpangan. Dengan demikian, Isra Miraj menegaskan bahwa agama tidak berfungsi sebagai pelarian, melainkan sebagai energi perubahan.
Konteks Penindasan dan Lahirnya Kesadaran
Pertama-tama, sejarah mencatat bahwa Isra Miraj terjadi setelah Nabi kehilangan pelindung sosial dan ekonomi. Quraisy meningkatkan represi. Boikot ekonomi meluas. Kekerasan simbolik dan fisik terus berlangsung. Dalam situasi tersebut, Nabi tidak menarik diri.
Sebaliknya, Nabi menerima mandat spiritual untuk melanjutkan perjuangan. Al-Qur’an membuka kisah ini dengan penegasan posisi Nabi sebagai hamba:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS. Al-Isra: 1)
Kata hamba menegaskan sikap keberpihakan. Identitas ini menolak dominasi elite. Oleh sebab itu, Isra Miraj membangun kesadaran bahwa kepemimpinan lahir dari pengabdian, bukan dari kekuasaan.
Selanjutnya, pengalaman transendental ini membentuk orientasi sosial Nabi. Nabi melihat dunia sebagai medan tanggung jawab. Nabi tidak menyimpan wahyu di langit. Nabi membawa pesan itu kembali ke bumi.
Isra Miraj Sebagai Wadah Membangun Disiplin Sosial
Kemudian, perintah shalat menjadi inti Isra Miraj. Banyak orang memahami shalat sebagai ritual personal. Namun, shalat adalah latihan ideologis. Shalat membentuk kesetaraan. Shalat melatih kedisiplinan. Shalat menegaskan loyalitas tunggal kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:
“Shalat adalah tiang agama.” (HR. Baihaqi)
Tiang menopang bangunan. Dengan demikian, shalat menopang bangunan sosial yang adil. Karena itu, Al-Qur’an mengkritik shalat yang kehilangan dimensi sosial:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?” (QS. Al-Ma’un: 1)
Ayat ini menghubungkan ibadah dengan pembelaan terhadap kaum miskin. Maka, Isra Miraj sebagai wadah membentuk etika perlawanan terhadap ketidakpedulian.
Tauhid dan Penolakan atas Penindasan
Isra Miraj menegaskan makna tauhid sebagai sikap politik. Tauhid menolak segala bentuk ketuhanan palsu. Modal, jabatan, dan kekuasaan sering bertindak sebagai berhala modern. Sejatinya, tauhid adalah energi pembebasan.
Dalam kerangka ini, Nabi tidak bernegosiasi dengan ketidakadilan. Nabi menolak kompromi. Nabi membangun masyarakat berbasis keadilan di Madinah. Semua langkah itu berakar dari kesadaran yang lahir melalui Isra Miraj. Selain itu, Al-Qur’an menegaskan prinsip perubahan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menuntut kesadaran aktif. Oleh karena itu, Isra Miraj mendorong umat untuk bergerak, bukan menunggu.
Dari Spiritualitas ke Praksis Sosial
Lebih jauh, Isra Miraj menolak spiritualitas yang steril. Nabi tidak mengisolasi diri setelah Miraj. Nabi justru memperluas dakwah. Nabi membangun solidaritas. Nabi menyusun strategi sosial.
Dalam hal ini, Isra Miraj sebagai wadah integrasi antara iman dan aksi. Iman melahirkan keberanian. Aksi memperkuat iman. Keduanya bergerak dalam satu tarikan napas sejarah.
Selain itu, Islam menolak agama yang berfungsi sebagai alat legitimasi kekuasaan. Isra Miraj mengajarkan bahwa pengalaman ilahiah harus berujung pada keberpihakan. Tanpa keberpihakan, ibadah kehilangan makna.
Isra Miraj Sebagai Wadah Membangun Kesadaran Revolusioner: Amanat Sejarah
Pada akhirnya, kesadaran revolusioner tidak berarti kekacauan. Kesadaran ini berarti keberanian membaca struktur. Kesadaran ini berarti kesediaan melawan ketimpangan. Kesadaran ini berarti komitmen membela yang dilemahkan.
Dalam dunia modern, agama sering hadir sebagai simbol kosong. Namun, Isra Miraj menghadirkan kritik tajam. Peristiwa ini memanggil umat untuk menata ulang relasi sosial.
Oleh sebab itu, Isra Miraj sebagai wadah membangun kesadaran revolusioner tetap relevan. Peristiwa ini menghubungkan langit dengan bumi. Peristiwa ini menautkan doa dengan perjuangan.
Penutup
Sebagai penutup, Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan malam. Isra Miraj adalah manifesto kesadaran. Nabi menerima wahyu untuk mengubah sejarah. Umat menerima amanat untuk melanjutkan perjuangan.
Dengan demikian, Isra Miraj sebagai wadah tidak berhenti pada peringatan tahunan. Ia hidup dalam sikap kritis, keberanian moral, dan tindakan sosial. Di sanalah Islam menemukan denyut revolusionernya.***







