Oleh Hasanuddin Atjo, Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian Sulteng
Ada rasa bangga ketika Presiden Prabowo Subianto mendeklarisakan Indonesia Swasembada Beras tahun 2025, pada saat panen raya padi di Karawang (7/1/2026).
Menurut Mentan Andi Amran, awal 2026 Indonesia surplus beras sebesar 3,25 juta ton, dari produksi 2025 sebesar 34,71 juta ton. Ini prestasi kali peetama sepanjang sejarah.
Bahkan menurutnya prestasi itu menpengaruhi turunnya harga beras dunia (2025) sebesar 44,4 % dari US$ 650 per metrik ton menjadi US$ 340, karena Indonesia absen mengimpor beras.
Dua hal yang perlu jadi fokus pasca deklarasi swasembada. Pertama, bagaimana menjaga swasembada tetap berlanjut hingga merata pada seluruh wilayah RI, Sabang – Mauroke.
Swasembada mesti dijaga dari segala upaya sabotase. Pasalnya , swasembada jadi sebab sejumlah perusahaan peroragan dan perseroan, kehilangan pendapatan yang selama ini dengan mudahnya mereka peroleh.
Tidak perlu kerja keras., cukup dapat kuota impor , kemudian memindahkan beras Negara tetangga (Thailand. Vietnam dan Kamboja) ke Indonesia. Mereka dapat keuntungan yang menggiurkan. Karena itu bisnis ini terkesan sangaja “dipelihara”
Upaya yang kedua bagaimana krdejahteraam petani padi bisa meningkat dan merata. Berdasarkan data BPS, NTP tananan pangan tahun 2023
(117), 2024 ( 110) dan tahun 2025 tetap pada angka (110 ).
Luas areal panen tahun 2023 sebesar (10, 21 juta ha) , 2024 (10, 05 juta ha) dan tahun 2025 tembus pada angka (11,33 juta ton). Selsnjutnya produksi beras 2023 (31,10 jtuta ton), 2024 (30,46 juta ton), 2025 (34,71 juta ton) .
Analisis data diatas memberi indikasi bahwa swasenbada beras pada tahun 2025 lebih disebabkan bertambahnya luas areal panen, bukan oleh peningkatan produktifitas. Hal ini juga terlihat NTP tananan pangan tahun 2025 lebih rendah dibandijg tahun 2024 dan 2023.
Peningkatan produktifitas dan nilai tambah usaha tani padi menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bzgi pemangku keoentingan. Bernagai upaya yang perlu dilakukan mengurai PR ini, dan soal akan diulas pada artikel berikutnya. (***)







