Senin, 20 April 2026
News  

Bahasa Kaili dan Dampelas, Dua Bahasa Daerah di Sulteng yang Paling Terancam Punah

Bahasa Kaili dan Dampelas, Dua Bahasa Daerah di Sulteng yang Paling Terancam Punah
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, Prof Aminuddin Azis, M.A, Ph.D. Foto: Teraskabar.id

Palu, Teraskabar.id – Dua bahasa daerah di Sulawesi Tengah  terancam punah yaitu Bahasa Dampelas dan Bahasa Kaili. Namun, dari kedua bahasa daerah tersebut, Bahasa Dampelas paling terancam punah.

Tak berbeda jauh kondisinya dengan seluruh bahasa daerah yang ada di Sulawesi Tengah. Total 22 bahasa daerah yang ada di provinsi ini, semuanya mengalami kemunduran.

“Semuanya mengalami kemunduran dan lama kelamaan akan punah,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Asrif, M.Humdi sela-sela pelaksanaan Rakor Antarinstansi dalam Rangka Implementasi Model Perlindungan Bahasa Daerah yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sulteng, Kamis (16/3/2023) di Best Western Coco Palu.

Baca jugaBalai Bahasa Sulteng Gelar Lomba Gunakan Bahasa Daerah di Hari Bahasa Ibu Internasional

Menurutnya, kemunduran terhadap kondisi ke-22 bahasa daerah yang ada di Sulteng ini karena beberapa faktor. Pertama, karena dukungan pemerintah daerah yang kurang. Ke dua, muatan lokal sporadis. Ke tiga, Perda tak ada. Ke empat, kampanye untuk berbangga menggunakan bahasa daerah sangat terbatas.

Bahasa Kalili dan Dampelas, Dua Bahasa Daerah di Sulteng yang Paling Terancam Punah
Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Asrif, M.Hum. Foto: Teraskabar.id

“Semua itu terakumulasi menjadi faktor yang berdampak pada status mengalami kemunduran bagi bahasa daerah,” ujar Asrif.

Indikator yang menguatkan jika bahasa daerah yang ada di Sulteng itu terancam punah lanjutnya, bisa dilihat dari jumlah pengguna bahasa daerah yang semakin hari samakin berkurang.

Baca jugaDampelas Jadi Kawasan Pangan Nusantara, 1.123 Hektare Lahan Disiapkan

“Fakta sehari-hari bisa dilihat di kampus- kampus, bagaimana mahasiswa dari etnis Kaili sudah tidak menggunakan lagi bahasa daerahnya,” ujarnya.

  Efek Kejut Kenaikan BBM, Kemiskinan Meningkat di Wilayah Perkotaan Sulteng