Palu, Teraskabar.id – Program BERANI Bedah Rumah jadi program terobosan Sulawesi Tengah untuk mempercepat penurunan angka kemiskinan. Program strategis ini ditempuh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Anwar Hafid – Reny A Lamadjido, setelah melihat ada irisan antara data kemiskinan dengan data Rumah Tak Layak Huni (RTLH) di Sulteng.
Angka kemiskinan di Sulawesi Tengah berdasarkan data BPS, tercatat 10,52 persen pada September 2025 atau setara 34.538 jiwa. Sedangkan data RTLH dari DTSEN tercatat 12 persen, yang menggambarkan ada irisan data antara angka kemiskinan dengan total jumlah RTLH di 13 kabupaten kota se-Sulteng.
Irisan data tersebut diperkuat dengan data Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), di mana kondisi rumah memberi skoring paling tinggi untuk parameter angka kemiskinan di luar dari andil parameter pendapatan dan sebagainya. Sehingga, Gubernur Sulteng Anwar Hafid memberi kesimpulan sementara bahwa kondisi rumah warga memberi andil terhadap angka kemiskinan dan hal ini mendorong lahirnya gagasan Program BERANI Bedah Rumah.
Program BERANI Bedah Rumah adalah inisiatif Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk memperbaiki rumah tidak layak huni (RTLH) guna mempercepat pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan data yang ada, tercatat 133.139 unit rumah masuk kategori Desil 1 hingga Desil 10. Total angka tersebut kemudian dikomparasi dengan data DTSEN, sehingga tersaring jumlah rumah kategori Desil 1 hingga Desil 4 mencapai 80.694 unit.
Untuk diketahui, Desil 1 adalah kategori sangat miskin, Desil 2 kategori Miskin, Desil 3 Hampir Miskin, dan Desil 4 Rentan Miskin.
Empat Kategori Prioritas Penanganan BERANI Bedah Rumah
Mengacu pada Permen PPN No. 7 Tahun 2025 , kategori Desil 1 hingga Desil 4 masuk kategori layak memperoleh bantuan, mulai dari bantuan sembako, Program Bedah Rumah, dan sebagainya. Sehingga, Gubernur Anwar Hafid menginstruksikan prioritas penerima manfaat Program BERANI Bedah Rumah adalah warga yang masuk dalam kategori Desil 1, Desil 2, Desil 3, dan Desil 4.
“Empat kategori ini masuk skala prioritas penanganan Program BERANI Bedah Rumah, namun prioritas utama adalah Desil 1 di mana pencananganannya dilakukan oleh Gubernur Anwar Hafid di Desa Dalaka, Kabupaten Donggala, beberapa waktu lalu,” kata Kepala BPBD Sulteng, Akris Fattah Yunus pada rilis Program BERANI, bertemapt di Ruang Kasirimo appeda Sulteng.
Program BERANI Bedah Rumah akan diperluas jangkauannya ke hingga menjangkau seluruh kabupaten kota se-Sulteng. Namun untuk sementara, konsentrasi pembangunan pilot project di empat kabupaten yaitu Tolitoli, Tojo Unauna, Buol dan Donggala yang baru saja pencanganan program oleh Gubernur Anwar Hafid.
Dari total 80.694 calon penerima manfaat Program BERANI Bedah Rumah, terbanyak dari kategori Desil 1 yaitu 32.552 calon penerima manfaat atau 40,34 persen. Disusul Desil 2 sebanyak 19.340 calon penerima manfaat atau 23,97 persen. Kemudian Desil 3 sebanyak 16.049 calon penerima manfaat atau 19,88 persen, dan terakhir Desil 4 tercatat 12.753 calon penerima manfaat atau 15, 81 persen. Keempat Desil ini harus segera ditangani melalui Program BERANi Bedah Rumah sebagai upaya strategis percepatan penurunan angka kemiskinan Sulteng yang masih tercatat dua digit.
Anggaran Program BERANI Bedah Rumah
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sulteng mengalokasikan anggaran untuk pembangunan baru pada Program BERANI Bedah Rumah sebesar Rp50 Juta per unit. Nilai kemanfaatan ini diperuntukkan bagi Desil 1 atau kategori Sangat Miskin.
Pemerintah Provinsi Sulteng kemudian merevisi rancangan anggaran pembangunan unit baru untuk Desil 1 berdasarkan evaluasi di lapangan. Hasil rekapitulasi terungkap bahwa besaran anggarannya sangat jauh dari nilai kecukupan membangunan unit baru dengan kondisi rumah penerima manfaat seluruhnya ALADIN (Atap, Lantai dan Dinding) alami. Sehingga, Pemprov Sulteng menaikkan besaran anggaran pembangunan unit baru menjadi Rp80 Juta per unit rumah.
“Tergantung sangat banyak (penyelesaian pembangunan rumahnya) , dari kondisi rumah berlantai tanah, dinding papan dan atapnya pitate, walau ada sebagian beratap seng tapi kondisinya sangat tidak layak,” kata Akris Fattah.
Empat lokasi yang menjadi proyek percontohan Program BERANI Bedah Rumah prioritas Desil 1 yaitu, di Desa Marowo, Kabupaten Tojo Unauna; Desa Dalaka Kabupaten Donggala; Desa Nalu, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, dan Desa Palele, Kecamatan Palele, Kabupaten Buol, masing-masing sebanyak satu unit.
“Kami coba mengerjakan, hitungan awal kami kebutuhan anggaran bangun baru senilai Rp80 juta. Hal itu untuk mengevaluasi di lapangan, apakah telah memenuhi standar pembangunan layak huni sesuai arahan Bapak Gubernur Anwar Hafid,” ujar Akris.
“Niatan baik bapak gubernur adalah membantu orang miskin,” tambahnya.
Ketika persemian proyek percontohan Program BERANI Bedah Rumah di Desa Dalaka, Kabupaten Donggala, dengan masa kerja 13 hari, Gubernur Anwar Hafid kembali mengoreksi hasil bedah rumah tersebut dan memberi masukan untuk merevisi ulang perencanaan alokasi anggaran untuk pembangun unit baru bagi penerima manfaat Desil 1. Anggaran Rp80 Juta, ternyata belum bisa mengcover pengerjaan plasteran dinding rumah, kecuali dinding bagian depan bangunan rumah.
Dengan alokasi anggaran Rp80 juta untuk bangunan baru, memang sudah bisa menjangkau pengerjaan WC namun belum bisa meng-cover pengadaan plafon dan plasteran dinding rumah.
“Jangan kasih susah orang susah, kalau kita tunggu mereka mengerjakan plasteran sisanya dan plafon rumah, kira kira 10 tahun baru mereka bisa kumpul uang untuk menuntaskan sisa pengerjaan Bedah rumah,” kata Gubernur Anwar Hafid ketika mengamati hasil pelaksanaan bedah rumah milik Hamsina, salah seorang IRT asal Desa Dalaka.
Atas kondisi bangunan tersebut, Gubernur Anwar Hafid menyarankan untuk tidak membebani lebih lanjut penerima manfaat setelah serahterima hasil bedah rumah.
Gubernur Anwar Hafid menginstruksikan untuk mengkalkulasi ulang rancangan anggaran bangun baru untuk program BERANI Bedah Rumah kategori Desil 1, hingga pengerjaannya tuntas. Tak lagi menyisakan PR bagi penerima manfaat seperti pengerjaan plafon, plasteran dinding, setelah serah terima kunci hasil bedah rumah.
Identifikasi Lapangan untuk Penetapan Kategori RTLH
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus berupaya memperoleh angka riil detail RTLH dari berbagai kategori, yaitu Desil 1, Desil 2, Desil 3 dan Desil 4. Kolaborasi OPD terkait kini tengah turun lapangan mengidentifikasi dan memilah tingkat penanganan RTLH dari total data sebelumnya.
Selanjutnya, mencarikan solusi penanganannya dengan mengadopsi pola penangan saat rehab rekon pascabencana 28 September 2018, yaitu menetapkan kategori rumah rusak ringan, rusak sedang, rusak berat dan bangun baru.
Estimasi kebutuhan anggaran untuk rehab bagi penerima manfaat Program BERANI Bedah Rumah untuk pengerjaan plasteran dinding, lantai rumah dan plafon dengan kategori rusak ringan adalah Rp30 Juta. Sedangkan untuk kategori rusak sedang di mana butuh pengerjaan plasteran dinding rumah, lantai rumah, plafon dan WC, estimasi anggaran adalah Rp50 Juta. Sedangkan untuk bangun baru, estimasi anggarannya adalah Rp100 juta. “Ini model penanganan nantinya,” ujarnya.
Sehingga, total 80.649 unit RTLH tak seluruhnya akan dilakukan pola pembangunan bangun baru karena butuh anggaran lebih dari Rp8 Triliun. Namun akan dipilah sesuai hasil evaluasi di lapangan sebelum menetapkan apakah dilakukan bangun baru atau cukup dengan rehab saja dengan model penanganan rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat, serta bangun baru. (red)






