Mataram, Teraskabar.id – Mahasiswa Morowali borong juara dalam ajang nasional Faperta Fair 9 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Delegasi Ikatan Pelajar Mahasiswa Morowali Yogyakarta (IPMMY) berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan bergengsi setelah bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Faperta Fair 9 merupakan ajang tahunan bergengsi yang mewadahi inovasi, sains, dan karya ilmiah mahasiswa. Tahun ini, kegiatan tersebut berlangsung melalui kerja sama dengan Sentosa Foundation dan Universitas Muhammadiyah Mataram.
Tim delegasi asal Morowali mencatat capaian membanggakan pada beberapa kategori utama. Mereka berhasil meraih Juara 2 Nasional kategori Lomba Bisnis Plan. Selain itu, tim tersebut juga mendapatkan Gold Medal atau medali emas pada subtema Industri Kreatif. Tidak berhenti di situ, delegasi IPMMY turut memenangkan kategori Favorite Poster.
Keberhasilan tersebut semakin mempertegas bahwa mahasiswa asal Morowali memiliki kemampuan bersaing di tingkat nasional. Di tengah ketatnya kompetisi, delegasi IPMMY mampu menunjukkan kualitas inovasi dan kreativitas yang mendapat perhatian dewan juri.
Mahasiswa Morowali Borong Juara, Perjuangan di Tengah Keterbatasan
Di balik capaian membanggakan itu, terdapat perjuangan panjang yang harus dilalui para peserta. Tim yang dipimpin Ketua Terpilih IPMMY, Moh Rifai, bersama Baso Tenri Sau, awalnya direncanakan beranggotakan tiga orang. Namun, Andika Qiswara tidak dapat berangkat ke Lombok karena keterbatasan biaya.
Situasi tersebut tidak menyurutkan semangat tim untuk tetap tampil maksimal. Meski menghadapi keterbatasan, mereka tetap mengikuti seluruh rangkaian kompetisi hingga akhir kegiatan.
Moh Rifai menyampaikan rasa syukur atas hasil yang diraih timnya. Namun, pada saat yang sama, ia juga mengungkapkan rasa kecewa karena tim delegasi tidak memperoleh dukungan dari Pemerintah Daerah Morowali.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan lomba telah selesai. Kami sangat bersyukur bisa memberikan hasil terbaik untuk Morowali. Namun, jujur ada rasa sedih karena tim kami tidak lengkap di sini. Rekan saya, Andika Qiswara, tidak bisa hadir mendampingi karena terkendala biaya keberangkatan yang sepenuhnya kami upayakan secara mandiri tanpa adanya bantuan dari Pemda, Padahal Sebelum keberangkatan, tepatnya pada 25 April 2026, kami sudah berdiskusi langsung dengan Bupati dan menjelaskan bahwa kami akan membawa nama Morowali di ajang nasional ini. Namun, sampai hari keberangkatan, dukungan dari Pemda belum hadir dalam mendukung kegiatan lomba ini,” ujar Rifai, Ahad (10/5/2026).
Sebelumnya, tim delegasi mengaku telah berdiskusi langsung dengan Bupati Morowali terkait rencana keberangkatan menuju kompetisi nasional tersebut. Akan tetapi, hingga waktu keberangkatan tiba, bantuan yang diharapkan belum tersedia.
Walaupun demikian, kondisi tersebut tidak menghalangi perjuangan tim IPMMY untuk tetap tampil kompetitif. Mereka tetap fokus mempersiapkan proposal bisnis, presentasi, hingga materi poster yang diperlombakan.
Prestasi Mahasiswa Morowali Jadi Inspirasi
Keberhasilan ini kembali menunjukkan bahwa mahasiswa Morowali borong juara bukan sekadar slogan semata. Prestasi tersebut lahir dari kerja keras, solidaritas antarmahasiswa, dan dukungan moral masyarakat.
Rifai pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Morowali yang telah memberikan doa dan dukungan selama kompetisi berlangsung.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Morowali dan rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan doa serta dukungan luar biasa. Prestasi ini kami persembahkan untuk seluruh masyarakat Morowali,” tambahnya.
Capaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa generasi muda Morowali memiliki potensi besar dalam bidang inovasi bisnis dan industri kreatif. Selain itu, keberhasilan delegasi IPMMY memperlihatkan kemampuan mahasiswa daerah untuk bersaing dengan peserta dari kampus-kampus besar di Indonesia.
Kini, mahasiswa Morowali borong juara menjadi kabar yang membangkitkan optimisme banyak pihak. Prestasi itu diharapkan mampu memotivasi pelajar dan mahasiswa lain agar terus mengembangkan kemampuan akademik maupun kreativitas.
Di sisi lain, keberhasilan tersebut juga menjadi refleksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan agar semakin serius mendukung pengembangan bakat dan prestasi pemuda daerah. Dengan dukungan yang lebih kuat, peluang lahirnya prestasi nasional dari Morowali diperkirakan akan semakin besar pada masa mendatang.
Karena itu, capaian delegasi IPMMY dalam Faperta Fair 9 tidak hanya menjadi kemenangan pribadi tim, melainkan juga kebanggaan bagi masyarakat Morowali secara keseluruhan. Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan tidak selalu menghalangi lahirnya pencapaian besar ketika semangat dan kerja keras tetap berjalan beriringan. (G).






