Senin, 12 Januari 2026

Bantuan Revitalisasi SMK 1 Tolut Rp3,1 Miliar di Tolitoli Terlambat Diduga Dikerjakan Asalan

Bantuan Revitalisasi SMK 1 Tolut Rp3,1 Miliar di Tolitoli Terlambat Diduga Dikerjakan Asalan

Tolitoli, Teraskabar.id – Pengerjaan bantuan revitalisasi SMK 1 Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli senilai Rp3,1 Miliar terlambat, hingga menyeberang tahun 2026.  Bangunan yang dikerjakan ada yang diduga jadi asal – asalan.

Terbukti dari tujuh item yang dikerjakan, salah satu bangunan yang nampak dikerjakan asal jadi yaitu ruangan perpustakaan dengan pagu anggaran berkisar hampir Rp300 juta, hampir sama dengan nilai anggaran bangunan praktek jurusan IPA yang juga sedang dikerjakan belum mencapai seratus persen.

“Ruang perpustakaan yang dikerjakan untuk para siswa di SMK 1 itu atapnya melengkung asal dipasang, mungkin karena mereka pikir proyek sehingga sembarangan dikerja, tukang yang mengerjakan warga sekitar,” kata Ardan, selaku ketua pemuda pemerhati pembangunan di Tolitoli kepada wartawan.

Ia menilai, kondisi bangunan yang dikerjakan asalan dikhawatirkan tidak bakal bertahan lama, apalagi di bagian sisi atap. Belum lagi dibagian ruang bangunan, jika tidak simetris akan terkendala pada pemasangan rangka atap.

“Bangunan yang diduga asal jadi bukan hanya perpustakaan, tapi ada juga bangunan lain yang atapnya tak dipaku tapi yaitu di samping bangunan Lab komputer,” katanya, Kamis (8/1/2026).

Tujuh item bangunan yang mendapat kucuran anggaran bantuan revitalisasi di SMK itu informasi diperoleh dikerjakan oleh mereka yang masuk dalam Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) bentukan kepala sekolah SMK 1 Tolitoli Utara.

“Tujuh item dari pagu Rp3,1 Miliar bantuan revitalisasi itu di antaranya, empat bangun baru tiga rehabilitasi ruang kelas,” tuturnya.

Kepala Sekolah yang ditemui wartawan, membenarkan bahwa pembangunan revitalisasi di sekolahnya mengalami keterlambatan. Keterlambatan pembangunan disebabkan soal material rangka baja serta atap yang terlambat didatangkan dari kota Palu.

“Semua bangunan saya serahkan tanggung jawabnya kepada P2SP, ada lima orang yang saya percayakan masing-masing tangani bangunan,” terang Kepsek, Nur Salam kepada wartawan.

Sementara katanya, untuk bangunan praktek perbengkelan disisi bagian utara yang ukurannya besar telah diserahkan kepada sekretaris P2SP dikarenakan dirinya sedang tidak sehat dan jarang ke sekolah karena jaraknya yang terlalu jauh.

“Saya ini lagi sakit pak, sehingga bangunan yang besar itu saya minta bantu kepada sekretaris P2SP yang kebetulan istrinya bendahara revitalisasi,” katanya.

Kepsek itu mengaku, kalau anggaran bantuan revitalisasi di SMK tersebut telah dicairkan 100 persen oleh pihak bendahara dan keuangannya diserahkan kepada masing – masing penanggung jawab bangunan.

Sekretaris P2SP revitalisasi SMK 1 Tolitoli Utara, Sukamri,  yang dihubungi wartawan mengaku kalau anggaran yang dicairkan pada tahap dua setelah kondisi progres pengerjaan mencapai 50 persen, bukan setelah 70 persen.

“Memang tahap pertama cair 70 persen, tapi setelah pekerjaan sudah 50 persen bisa minta lagi pencairan 30 persen,” jelasnya.

Dalam aturan 50 sampai 70 persen progres pekerjaan menurutnya dapat dilakukan lagi pencairan tahap selanjutnya. Berapa yang dibutuhkan, pihak P2SP tinggal meminta pencairan kepada bendahara. (tim/teraskabar)