Bawaslu Antisipasi Temuan Data Berulang

Pengalaman saat bertugas sebagai anggota Bawaslu Kota Palu pada Pemilu 2019 hingga Pilkada Wali Kota Palu 2020 kata Ivan Yudharta, pihaknya juga masih keteteran saat tahapan pencocokan dan penelitian data pemilih secara manual.
Apalagi saat ini metode proses pelaksanaan Coklit di lapangan berbasis aplikasi, yang kemudian sulit diawasi oleh Bawaslu.
“Ada strategi yang dibangun oleh Bawaslu dalam hal pengawasan atas pencoklitan ini dengan melakukan pengujian melalui uji sampel, uji sampel per hari yaitu 10 sampel untuk per satu pantarlih. Kalau dia (PKD) menghadapi 24 pantarlih, berarti minimal 120 sampel per hari untuk uji sampel. Dan, itu harus dilakukan, karena apa, kesulitan dalam hal mengakses data,” ujarnya.
Baca juga : Bawaslu Sulteng Beri Kiat Cegah Pelanggaran Pemutakhiran Data Pemilih
Pengalaman saat Pemilu 2019 tambahnya, pengawas Pemilu masih diberi akses data manual. Sehingga, pengawas Pemilu bisa melakukan pengawasan secara terukur dan tak perlu harus mendampingi setiap kunjungan Pantarlih ke rumah warga. Karena pada sore harinya setelah Pantarlih berkunjung ke rumah warga, tinggal berkoordinasi berapa jumlah rumah warga yang dikunjungi Pantarlih, kemudian mencocokkan dengan data yang dimiliki pengawas. Selain itu, juga koordinasi dengan ketua RT/RW. Lantas, pagi harinya, pengawas Pemilu uji sampel. Dan, itu terjadi hingga pelaksanaan Pilkada Kota Palu tahun 2020.
“Tapi saat ini kami kesulitan, kami tidak tahu nanti, apakah divisi pencegahan akan rakor lagi untuk mencari strategi pengawasan atas sidalih (si data pemilih) ini. Lantas kami harus berbuat apa?” kata Ivan.
Menyiasati hal itu, ia menekankan kepada para pengawas tetap melakukan pengawasan engan mencatat setiap ada temuan dugaan pelanggaran. “Kita nanti bertemu (KPU) pada saat rapat rekapitulasi. Hasil temuan kita bombardir di situ,” ujarnya.
Baca juga : Pemantau Pemilu Terbuka bagi Ormas Tak Berbadan Hukum
Sikap tersebut bukan dalam artian akan mencari celah kesalahan KPU. Melainkan karena fakta, pengawas Pemilu kesulitan untuk mengases data melalui aplikasi yang ada di KPU.
“Nah, sekarang misalnya, bagaimana memastikan kalau orang sudah meninggal,” katanya.
Bawaslu Kota Palu punya pengalaman terhadap data korban gempa 28 September 2018. Bawaslu memiliki data 2000 lebih warga di Kota Palu meninggal korban bencana 28 September 2018. Lantas, data itu muncul lagi untuk persiapan Pilkada Kota Palu 2020.
“Itu saja masih dalam proses rekap manual. Apalagi saat ini prosesnya melalui e-coklit,” ujarnya.






