Teraskabar.id – Ketika isu Gubernur Sulawesi Tengah H.Rusdy Mastura atau yang biasa disapa dengan panggilan akrabnya Bung Cudy pindah partai dari Nasdem ke Gerindra, membuat pengurus partai Nasdem meradang termehek mehek.
Sehingga Bung Cudy dikatakan tidak tahu berterima kasih, kutu loncat mengikuti syahwat kekuasaan dan banyak lagi sederet umpatan yang kurang elok didengar dalam edukasi politik kepartaian di daerah Sulawesi Tengah.
Kemungkinan ada perjanjian politik antara personal dan kelembagaan Bung Cudy yang kita tidak ketahui di sini, terhadap para relawan kader dan pengurus wilayah Sulteng Partai Nasdem saat mengusung Bung Cudy sebagai calon gubernur Sulteng.
Baca juga : Relawan Anies Meradang Diklaim Deklarasikan Anies-AHY di Acara Demokrat Sulteng
Dan, setelah jadi gubernur, lalu kemungkinan Komitmen Itu diingkari. (Maaf ini hanya asumsi penulis).
Dari sisi kebatinan dapat dapat dipahami, ketika relawan kader dan pengurus Partai Nasdem sangat baper terhadap kepindahan Bung Cudy ke Gerindra. Karena biar bagaimana pun posisi parpol Gerindra saat pertarungan gubernur ketika itu berada pada pihak lawan politik.
Bahasa anak yang lagi putus cinta “Aku yang berkorban memperjuangkan namun orang yang lain memiliki.
Baca juga : BANTAYA Gelar Lebaran Burasa, 33 Kelurahan Kumpul Silaturahmi
Tanpa ada sepatah kata perpisahan apalagi ucapan terima kasih, tiba tiba pindah ke lain hati”.
Tapi apa hendak dikata, karena ini adalah arena politik praktis, semua itu menjadi batas batas kewajaran dan terukur dalam dunia demokrasi politik. Perbedaan pandangan dan sikap politik itu sudah lumrah, apalagi perbedaan pilihan partai.
Hari ini, saya berdiri membela partai A, besok tegak membela partai B. Esoknya lagi berada pada partai C. Begitu pun adanya yang dilakukan Bung Cudy pindah partai politik.
Baca juga : Gedung Baru KPP Pratama Palu akan Dijadikan Pilot Project Kemenkeu
Bukan hal baru, karena sebelum menjadi anggota Partai Nasdem, pernah menjadi petinggi partai Golkar.
Kemarin di Golkar, hari ini di Nasdem, esok di Gerindra. Politisi kelas profesional itu namanya.
Bisa disandingkan dengan pemainan Bola profesional kelas dunia seperti Ronaldo. Kemarin membela Sporting Lisbon, hari ini membela Manchester United, esok berlaga membela Real Madrid, dan Juventus.
Bung Cudy pada periode I gubernur Sulteng, berdiri solid bersama NasDem melawan Partai Gerindra.
Esok pada periode II gubernur Sulteng akan siap berlaga bersama partai Gerindra melawan NasDem. Mungkin demikian lah strategi Bung Cudy dalam rencana memenangkan pertarungan gubernur Sulteng Priode 2024 -2029.
Kita tinggal menunggu persiapan Partai Nasdem apakah mengusung ketuanya, Ibu Nilam Sari Lawira maju bertarung sebagai calon Gubernur Sulteng Priode 2024 – dan 2029 atau mengusung sosok lain.
Akan seru permainan jika Bung Cudy bertarung melawan Ibu Nilam Sari Lawira dalam Pilgub 2024.
Dan akhir tulisan ini, penulis merekomendasikan bahwa seluruh energi dan kemampuan kader dan pengurus Partai NasDem sebaiknya dipersiapkan untuk melawan Bung Cudy pada pertarungan Pilgub Sulteng pada 2024. Karena sekarang belum waktunya. (teraskabar)






