Morowali, Teraskabar.id – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berjalan. Salah satu dapur MBG yang ada di Morowali adalah dapur MBG di Puntari Makmur, Kecamatan Witaponda, yang resmi beroperasi sejak 22 Januari 2026. Dapur ini langsung melayani peserta didik yang jumlahnya mencapai 1.971 orang. Penerima manfaat ini tersebar di sekolah-sekolah di tiga desa, yaitu Sampeantaba, Puntari Makmur, dan Laantula Jaya.
Selain itu, dapur MBG di Puntari Makmur juga menjangkau penerima manfaat dari kelompok non-peserta didik yang terdiri dari ibu hamil dan ibu menyusui serta balita sebanyak 161 orang. Oleh karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada anak sekolah, tetapi juga menyasar kelompok rentan yang membutuhkan asupan gizi tambahan.
Lebih lanjut, Kepala Dapur MBG Puntari Makmur, Faisal, menegaskan bahwa pihaknya menjaga kualitas makanan secara ketat. Ia memastikan setiap menu memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan. Bahkan, ahli gizi Eldrian Maikel Mosipate secara rutin mengawasi kandungan nutrisi dalam setiap hidangan.
“Kami memastikan setiap makanan yang keluar dari dapur MBG di Puntari memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan. Selain itu, kami juga terus melakukan evaluasi menu agar tetap seimbang, sehat, dan sesuai kebutuhan penerima manfaat. Kami tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas. Oleh sebab itu, kami melibatkan tenaga ahli gizi agar setiap porsi benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.” ujar Faisal, Jumat (17/4/2026).
Di sisi lain, dapur ini mengelola dua jenis porsi makanan. Porsi besar memenuhi sekitar 30 hingga 35 persen kebutuhan gizi harian. Sementara itu, porsi kecil mencukupi 20 hingga 25 persen kebutuhan harian. Porsi kecil dari balita, PAUD, TK Dan SD Kelas rendah 1-3. Sedangkan porsi besar untuk usia SD kelas 4-6, SMP, SMA serta ibu hamil dan menyusui.
Untuk mendukung operasional, dapur melibatkan 50 tenaga kerja lokal dan memanfaatkan bahan baku dari pelaku UMKM setempat.
Rincian Anggaran MBG Jadi Perhatian Publik
Seiring berjalannya program nasional ini, masyarakat menyoroti anggaran Rp15.000 per porsi. Namun demikian, tidak semua dana tersebut digunakan untuk bahan makanan. Sebaliknya, anggaran tersebut mencakup berbagai komponen penting dalam operasional dapur.
Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 dialokasikan khusus untuk bahan makanan dan pemenuhan gizi. Selanjutnya, Rp3.000 digunakan untuk biaya operasional seperti gaji tenaga kerja, listrik, dan gas. Kemudian, sekitar Rp2.000 dialokasikan untuk sewa tempat serta perawatan dan peremajaan peralatan memasak.
Dengan demikian, struktur anggaran tersebut menunjukkan bahwa program ini dirancang secara menyeluruh. Artinya, dapur MBG tidak hanya fokus pada makanan, tetapi juga memastikan keberlanjutan operasional secara profesional.
Dapur MBG di Puntari Makmur Dorong Ekonomi Lokal
Tidak hanya meningkatkan gizi, program ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pertama, dapur MBG membuka lapangan kerja baru. Selanjutnya, dapur MBG menyerap bahan pangan dari petani dan pelaku usaha lokal. Oleh sebab itu, program ini ikut meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat rantai distribusi pangan. Selain itu, kebutuhan pasokan bahan baku juga mendorong munculnya peluang usaha baru.
Di samping itu, sebagai Kepala Dapur, Faisal berharap masyarakat memahami skema anggaran secara utuh. Dengan pemahaman yang baik, potensi kesalahpahaman dapat diminimalkan. Pada akhirnya, dapur MBG di Puntari Makmur diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan gizi serta kesejahteraan UMKM lokal di Morowali. (G)






