“Peranan ketiga lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sulawesi Tengah mencapai 69,53 persen,” ujarnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sulteng TW I-2022 dibanding TW IV-2021 (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 1,09 persen.
Kepala BPS Sulteng menjelaskan, kontraksi terjadi pada beberapa lapangan usaha, termasuk dua lapangan usaha yang memiliki kontribusi terbesar yaitu Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; serta Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi masing-masing sebesar 3,22 persen dan 0,12 persen.
Lapangan usaha lain yang juga mengalami kontraksi adalah Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 0,01 persen; Konstruksi sebesar 3,23 persen; Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 6,34 persen; Real Estate sebesar 4,47 persen; Jasa Perusahaan sebesar 2,65 persen; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,44 persen; Jasa Pendidikan sebesar 5,22 persen; dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 9,55 persen.
Sementara itu, lapangan usaha lainnya tumbuh positif, di antaranya Industri Pengolahan sebesar 5,35 persen; Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 3,06 persen; Transportasi dan Pergudangan sebesar 0,06 persen; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 0,26 persen; Informasi dan Komunikasi sebesar 2,23 persen; Jasa Keuangan dan Asuransi sebesar 0,39 persen; dan Jasa Lainnya sebesar 0,49 persen.






