Selasa, 27 Januari 2026
Ekbis  

Harga Beras Naik

Harga Beras Naik
Nur Sangadji. Foto: Istimewa

(Penyebab dan Solusinya)

Bagian Pertama.

By, Nur SANG ADJI

Kompilasi atas tulisan Saleh Awal dengan judul .. “Kenaikan _harga beras dan tantangan perekonomian Indonesia”._

————
Harga beras meroket tajam. Dari sekitar 8 ribu per liter, menjadi 13 ribu. Kenaikan ini pasti memicu inflasi. Sebab, daya beli masyarakat pasti menurun drastis.

Pertanyaannya, apa penyebab dan solusinya ?

Sejak lama, orang fahami tentang harga. Selalu berkait dengan permintaan (demand) dan persediaan (suplay). Bila permintaan tinggi dan persediaan rendah maka harga naik. Itu hukum ekonomi yang sandaran logikanya adalah untung rugi.

Baca juga: Mengapa Gubernur Ganjar Pranowo Minta Maaf Setelah Konflik Agraria di Wadas?

***
Suplay atau ketersediaan pangan biasanya menggunakan istilah ketahanan. Basisnya adalah produksi atau impor. Jika kita bertekad menempatkan ketersediaan akibat produksi sendiri. Maka, istilahnya menjadi kedaulatan. Artinya, kita berdaulat menyediakan pangan sendiri. Tidak tergantung pada pihak lain.

Produksi sendiri ini berkait dengan agroekosistem pertanian. Mulai agro klimatologi hingga sarana produksi dan teknologi serta manajemen. Mulai dari benih atau bibit bermutu. Irigasi, pupuk dan pestisida hingga alat-alat mekanisasi dan usaha taninya.

Baca jugaInflasi Kota Palu di September 2023 Capai 0,11 Persen, Beras Miliki Andil Terbesar

Ada dua hal penting berkaitan dengan produksi yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi adalah perluasan areal untuk berbesar populasi tegakan. Sedangkan intensifikasi berkaitan dengan penggunaan sarana produksi secara optimal. Tujuannya, menaikkan satuan panen per pohon atau per rumpun, dan atau per hektar. Namun kedua pilihan ini punya konsekuensinya masing-masing.

***
Ekstensifikasi akan memicu pembukaan lahan terutama kawasan hutan. Akibatnya, gangguan daur hidrologi, longsor atau banjir. Di samping itu, terjadi ancaman terhadap biodiversitas.

  PT Vale dan PAMA Gelar First Digging Ceremony, Tonggak Awal Penambangan di IGP Pomalaa

Sementara intensifikasi akan memaksa petani memakai bahan produksi luar (eksternal input). Ketergantungan petani pada produk luar dengan harga tinggi menjadi persoalan rumit tersendiri. Di samping itu, pemakaian bibit unggul, pupuk an-organik dan pestisida kimia menjadi ancaman ekologi dan keberlanjutan produksi.

Baca jugaRespon Catatan BPS, Gubernur Sulteng Minta OPD Teknis Kendalikan Harga Beras

Jadi, pembukaan lahan baru mengancam luasan hutan dan daya dukung (carrying Capacity) ketersediaan air. Sedangkan, intensifikasi mengancam produksi pertanian keberlanjutan, sekaligus menaikan biaya produksi, menurunkan daya beli. Dan, menaikan harga beras itu sendiri.

***
Sementara, hal yang berkaitan dengan permintaan (Demand) akan bersentuhan dengan konsumsi atau pemanfaatan produk. Konsumsi ini berhubungan dengan pangan pokok penduduk, atau kebiasaan makan orang Indonesia. Sesungguhnya tidak semua penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai pangan pokok. Ada ubi kayu, sagu dan jagung sebagai contoh.

Persoalannya, kian lama, beras menjadi komoditas andalan penduduk Indonesia. Bahkan di daerah yang dahulu kala tidak mengenal beras sekalipun. Mereka lalu memahatkan anggapan
“belum dianggap makan kalau belum mengkonsumsi nasi”.

Hal ini dapat ditunjukkan pada angka konsumsi perkapita beras penduduk Indonesia yang mencapai 130 an kg perkapita. Bandingkan dengan Jepang yang hanya sekitar 60 an kg saja.

Bersambung ke Bagian ke dua….