Senin, 12 Januari 2026
Ekbis, Home  

Inflasi Sulteng pada Oktober 2025 Tembus 3,92%, Tertinggi Tolitoli

Inflasi Sulteng pada Oktober 2025 Tembus 3,92%, Tertinggi Tolitoli
Imron Taufik J. Musa, Plt Kepala BPS Provinsi Sulteng bersama Asisten II Setdaprov Sulteng Dr. Rudi Dewanto, S.E, M.M., pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Senin (3/11/2025). Foto: Tangkapan layar

Palu, Teraskabar.id – Inflasi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dari tahun ke tahun (Y on Y) pada bulan Oktober 2025 tembus 3,92 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,02. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Tolitoli sebesar 6,69 persen dengan IHK sebesar 118,25 dan inflasi terendah terjadi di Kota Palu sebesar 3,08 persen dengan IHK sebesar 108,88.

Inflasi y on y sejak Maret 2025, trend grafiknya sudah menunjukkan kecenderungan naik dan nyaris tak pernah turun dibanding periode tahun sebelumnya.

“Sehingga, trend kenaikan grafik ini memicu akumulasi inflasi di Oktober 2025, posisi 3,92 persen ini juga angkanya naik dibanding bulan sebelumnya, yaitu 3,88 persen,” kata Imron Taufik J. Musa, Plt Kepala BPS Provinsi Sulteng pada press release berita resmi BPS Provinsi Sulteng, Senin (3/11/2025), yang dipusatkan kegiatannya di ruang pertemuan kantor BPS Sulteng dan disiarkan melalui zoom meeting.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi secara Y on Y terjadi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 10,87 persen, disusul kelompok Makanan, Minum, dan Tembakau sebesar 8,04 persen. Selanjutnya Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran 3,4 persen, kemudian Kelomok Pendidikan sebesar 3,01 persen.

“”Dari 11 kelompok pengeluaran, hanya kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami deflasi yaitu sebesar -0,1 persen,” kata  Imran Taufik didampingi Asisten II Setdaprov Sulteng Dr. Rudi Dewanto, S.E, M.M.

Sementara andil inflasi dari 11 kelompok pengeluaran ini, tertinggi disumbang oleh Kelompok Makanan dan Minum  (2,45 persen). Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Beras, Ikan Layang, dan Ikan Cakalang.

Selanjutnya, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil  0,80 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Emas Perhiasan, Hand Body Lotion dan Pasta Gigi.

  Perindo Membuka Pintu Seluas-Luasnya bagi Petahana di Pilgub Sulteng 2024

Kemudian, Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran  dengan andil inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini adalah Ikan Goreng, Nasi dengan Lauk dan Kue Kering Berminyak.

“Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi sebesar 10,87 persen tapi andil inflasinya hanya 0,80 persen, relatif cukup rendah dibanding andil inflasi Kelompok Makan Minum dan Tembakau yaitu sebesar 2,45 persen,” kata Imron.

Inflasi Bulanan

Empat kabupaten/kota di Sulawesi Tengah yang menjadi lokasi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), tiga daerah di antaranya mengalami deflasi secara bulanan (M to M) pada Oktober 2025 yaitu, Kota Palu (-0,08 persen), Kabupaten Morowali (-0,21 persen), dan Kabupaten Banggai (-0,11 persen). Sedangkan Kabupaten Tolitoli mengalami inflasi sebesar 1,08 persen. Tiga komoditas penyumbang inflasi terbesar di Tolitoli adalah Ikan Layang, Ikan Cakalang, dan Ikan Selar. Sedangkan tiga komoditas penyumbang deflasi terbesar adalah Beras, Bawang Merah dan Cabai.

Di Kota Palu, komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap deflasi adalah, Beras, Ikan Selar dan Angkutan Udara. Sedangkan penyumbang inflasi terbesar adalah, Emas Perhiasan, Telur Ayam Ras, dan Bahan Bakar Rumah Tangga.

Kemudian di Luwuk, komoditas yang memiliki andil terbesar terhadap deflasi adalah, Beras, Bahan Bakar Rumah Tangga, dan Angkutan Udara. Sedangkan penyumbang inflasi terbesar adalah, Emas Perhiasan, Ikan Malalugis, dan Ikan Selar.

Sementara di Morowali, andil terbesar terhadap deflasi adalah Bawang Merah, Beras, dan Cabai Rawit. Adapun tiga komoditi penyumbang inflasi terbesar adalah, Ikan Kembung, Emas Perhiasan, dan Telur Ayam Ras.

“Jadi beras termasuk penyumbang terbesar deflasi di Palu, Luwuk dan Morowali. Sedangkan inflasi di Tolitoli, terbesar disumbang oleh beras,” ujarnya.        

  Operasi Force Down pada Latihan Kogab di Morowali Disaksikan Menhan dan Gubernur Sulteng

Inflasi Tahun ke Tahun

Plt Kepala BPS Sulteng menjelaskan, inflasi secara tahunan atau Year to Year, inflasi pada bulan Oktober 2025 terjadi cukup tinggi. Angkanya mencapai 3,89 persen.  Inflasi tertinggi secara tahunan (Y on Y), terjadi di Kabupaten Tolitoli sebesar 6,69 persen, disusul Luwuk 4,59 persen, Morowali 4,05 persen, dan Kota Palu 3,08 persen.

Hal menarik jika mengamati grafik inflasi secara tahunan, siklus  inflasi pada bulan Oktober 2025 terjadi lonjakan sangat tinggi. Besarannya pada bulan Oktober 2024 di angka 1,91 persen, sedangkan pada Oktober 2025 sebesar 3,92 persen.

“Siklus ini kita perlu amati bersama, apa yang terjadi pada kondisi Inflasi Sulteng pada Oktober 2025 yang cukup tinggi bila dibandingkan kondisi pada Oktober 2024,” ujarnya. (red/teraskabar)