Senin, 12 Januari 2026

Israel Terus Menyerang Gaza Meski Sudah Ada Kesepakatan Gencatan Senjata

Israel Terus Menyerang Gaza Meski Sudah Ada Kesepakatan Gencatan Senjata
Asap mengepul setelah serangan udara Israel yang menargetkan wilayah-wilayah di Jalur Gaza meskipun telah diumumkan perjanjian gencatan senjata, seperti yang terlihat dari kota Sderot, Israel, di dekat perbatasan, pada Kamis (9/10/2024). Foto oleh Mostafa Alkharouf/Anadolu

Teraskabar.id– Genosida Israel di Gaza memasuki hari ke-734 berturut-turut hari ini, dengan serangan udara dan pemboman artileri baru di seluruh Jalur Gaza. Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata yang dicapai dalam negosiasi Sharm el-Sheikh di bawah mediasi Presiden AS Donald Trump.

Meskipun gencatan senjata dimulai pukul 12.00 siang (waktu setempat), pasukan Israel melanjutkan operasi militer di beberapa wilayah Gaza, memperdalam kekhawatiran Palestina bahwa kesepakatan tersebut mungkin gagal sebelum diimplementasikan.

Di Kota Gaza, helikopter Apache Israel menembaki lingkungan al-Shuja’iya, sementara artileri dan serangan udara menghantam wilayah al-Zaytoun, al-Tuffah, dan al-Daraj, menewaskan dua warga Palestina.

Pasukan Israel juga meledakkan dua kendaraan lapis baja di antara rumah-rumah warga sipil di lingkungan al-Sabra, yang menimbulkan kepanikan di antara warga.

Di Gaza tengah, kapal-kapal angkatan laut Israel menembaki pantai kamp pengungsi Nuseirat, sementara peluru artileri menghantam wilayah utara kamp.

Di Khan Younis, tank-tank Israel melancarkan serangan artileri pagi hari di sebelah timur Kota Hamad, barat laut wilayah tersebut.

Sementara itu, radio militer Israel menyatakan bahwa unit-unit tempur di Gaza diperintahkan untuk bersiap menghadapi penarikan penuh atau penempatan kembali ke posisi-posisi belakang berdasarkan perjanjian baru.

Kementerian Kesehatan dan Kantor Media Pemerintah merilis angka-angka baru mengenai genosida yang sedang berlangsung di Gaza. Menurut laporan tersebut, jumlah total warga Palestina yang tewas telah meningkat menjadi 67.183, sementara 169.841 lainnya terluka. Lebih dari 9.000 orang masih hilang, banyak di antaranya diyakini terkubur di bawah reruntuhan.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa para korban termasuk lebih dari 20.000 anak-anak dan 12.500 perempuan, yang mencerminkan dampak buruk genosida terhadap keluarga. Pernyataan tersebut juga mencatat bahwa 459 orang telah meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk 154 anak-anak, karena kelaparan terus menyebar di Jalur Gaza yang terkepung.

  Bupati Morowali "Pasang Badan": Tutup Celah Pungli dan Suap di Layanan Kependudukan

Laporan tersebut juga mendokumentasikan hilangnya 1.701 staf medis, 140 anggota pertahanan sipil, dan 254 jurnalis sejak awal perang.

Lebih dari 90% bangunan di Gaza telah hancur atau rusak. Serangan tersebut telah menghancurkan 165 sekolah dan universitas serta 835 masjid, membuat Jalur Gaza hampir hancur total. (red/teraskabar)