Senin, 12 Januari 2026
Home, News  

Kepesertaan JKN di Sulteng Nyaris Tembus 100%

Kepesertaan JKN di Sulteng Nyaris Tembus 100%
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Palu, HS. Rumondang Pakpahan (Kiri) pada kegiatan Forum Diskusi melibatkan sejumlah awak media, Kamis (4/12/2025), di My COPI O Palu. Foto: Nur Fitra

Palu, Teraskabar.id – Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kantor Cabang Palu menggelar bincang santai berbagai isu terkini mengenai BPJS Kesehatan melibatkan sejumlah awak media, Kamis (04/12/2025) di resto MY Kopi O Kota Palu.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Forum Diskusi menjadi momentum dari peserta diskusi untuk berdialog langsung dengan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Palu, Hs Rumondang Pakpahan, mengenai persoalan yang ditemukan di lapangan sekaligus mendorong peningkatan pemahaman publik terkait mekanisme layanan masyarakat yang memiliki tunggakan.

Sebagai pengantar diskusi dalam rangka membangun sinergi yang lebih erat mengenai program Berani Sehat, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Palu, HS Rumondang Pakpahan memaparkan mengenai peta kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Sulawesi Tengah.

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah kata Rumondang, sebanyak 3.245.659 jiwa dengan kepesertaan JKN nyaris tembus 100 persen dari total penduduk di provinsi ini per 1 November 2025.

“99,9 persen lho cakupannya, nyaris tembus 100 persen,” kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Palu, HS Rumondang Pakpahan.

Capaian ini menjadi prestasi tersendiri bagi Provinsi Sulawesi Tengah. Di tengah prestasi ini, masih terdapat PR (Pekerjaan Rumah)  bersama untuk persoalan keaktifan peserta JKN. Rumandang menyebutkan total peserta JKN aktif mencapai 2.893.748 jiwa atau 89,16 persen dari total kepesertaan. Mereka yang tak aktif karena menunggak iuran kepesertaan, totalnya mencapai 135.611 jiwa per 1 November 2025.

Menjawab pertanyaan salah satu awak media mengenai sinergi kepesertaan JKN dengan Program BERANI Sehat. Menurut Rumondang, peserta JKN yang awalnya non-aktif karena menunggak iuran kepesertaan, ketika dialihkan ke Program BERANI Sehat, secara otomatis kepesertaannya langsung aktif.

“Keistimewaan ikut progam ini (BERANI Sehat), kalau dia datang ke puskesmas lalu dicek ternyata nonaktif karena punya tunggakan, itu dia langsung dialihkan ke Berani Sehat dan langsung aktif,” ujarnya.

  Kota Palu Banjir Usai Diguyur Hujan Lebat, WALHI Sebut Langganan Bencana Ekologis

Rumondang menjelaskan, hanya saja perlu disosialisaskan kepada masyarakat, bahwa ketika kepesertaan sudah aktif karena pengalihan kepesertaan ke Program BERANI Sehat, tunggakan iuran tidak otomatis menghapus tunggakan.    

“Ketika dialihkan ke BERANI Sehat, tanpa bayar tunggakan sudah jadi aktif, nah ketika sudah aktif maka dia bisa mendapat jaminan JKN. Sementara tunggakannya, walaupun dia sudah aktif tunggakan itu tidak bisa diputihkan. Karena tunggakan akan tetap ada, melekat kepada yang bersangkutan sehingga tunggakan inilah yang disampaikan untuk segera dilunasi,” ujarnya.

Belakangan ini mencuat rencana dari pemerintah akan memutihkan tunggakan iuran peserta Program JKN. Namun, hingga saat ini belum terbit payung hukum untuk pelaksanaan pemutihan tersebut.

Ia menambahkan, Program BERANI Sehat menjadi momentum bagi peserta yang masih menunggak iuran kepesertaan Program JKN untuk melunasinya dengan cara menyicil. BPJS Kesehatan telah membuat kebijakan untuk melunasi tunggakan melalui mekanisme menyicil mulai 12 kali cicilan hingga 32 kali cicilan.     

“Masih banyak yang berpikir, ketika dia beralih ke BERANI Sehat maka tunggakan yang dia punya juga akan diputihkan dan tidak perlu kembali dibayar. Padahal mekanismenya tidak seperti itu, karena tetap harus dibayar,  tapi keuntungan ikut BERANI Sehat ketika dipindahkan, dibayar atau tidak dibayar akan tetap aktif dan dapat semua pelayanan salah satunya adalah rawat jalan,” ujarnya. (fit/teraskabar)