Hasanuddin Atjo (Anggota Tim Percepatan Prioritas Pembangunan Sulteng)
DI TENGAH gelombang disrupsi lnovasi serta perubahan pasar yang luar biasa cepat, mengandalkan modal dan teknologi saja tidak cukup dan akan ketinggalan.
Manusia dan inovasi bagai mesin ganda, menentukan apakah organisasi itu tetap unggul atau bubar. Dan punya dampak bagi pengangguran dan kemiskinan
Sejumlah alasan mendasari mengapa sinerjitas keduanya menjadi kebutuhan. Pertama, bahwa manusia merupakan motor penggerak agar mampu membangun percepatan dan tidak tertinggal.
Inovasi bisa saja dibeli, tapi budaya kerja dan talenta tidak bisa direplikasi secara instan. Di era badai disrupsi, kualitas manusia yang dibutuhkan, mesti miliki karakter Agility, Mindset Digital dan Empati
Aqility yaitu bisa belajar cepat (unlearn – relearn) pada saat strategi lama sudah tidak lagi relevan. Mindset digital tidak sekadar pakai aplikasi tetapi paham bahwa inovasi adalah solusi sejumlah persoalan yang dihadapi pelanggan.
Selanjutnya empati pada era serba otomatisasi, sentuhan manusia (memahami emosi dan kebutuhan subjektif) menjadi nilai premium yang tidak dimiliki oleh Artificial Intelegent (AI).
Kedua , memiliki inovasi yang update. Inovasi bukan lagi proyek sampingan, melainkan detak jantung perusahaan. Tanpanya, organisasi akan “mati secara perlahan”.
Inovasi mesti berkelanjutan. Melakukan perbaikan kecil namun konsisten pada produk yang sudah ada. Mesti berani ciptakan model bisnis baru meski “mematikan” bisnis lamanya sebelum kompetitor mendahuluinya.
Inovasi yang berhasil bukan yang paling canggih, tapi yang paling tepat menyelesaikan masalah pengguna. Menurut mantan Wapres Yusuf Kalla, inovasi adalah cara yang lebih baik, lebih cepat dan lebih murah.
Tanpa Manusia yang kreatif, Inovasi hanyalah tumpukan ide di atas kertas. Sebaliknya, tanpa ruang novasi, talenta terbaik (People) akan merasa terkekang dan akhirnya pergi.
Kreatifitas akan tumbuh bila terbiasa berkolaborasi.
Pemenang era disrupsi adalah mereka yang memanusiakan cara cara baru melalui inovasi yang relevan yang pada saat ini berlangsung begitu cepat di era penghuni yang berjarakter milenial dan gen Z.
Pendekatan ini dinilai sangat relevan dengan program 9 Berani Gubernur Anwar Hafid – Reny Lamadjido, terutama program BERANI Cerdas dan BERANI Sehat.
BERANI cerdas dan sehat itu merupakan program super prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng yang dilantik Presiden Prabowo pada 20 Februari tahun 2025. Hasil Program ini tentunya akan terlihat setelah 5-10 tahun mendatang. (***)






