Oleh Muhammad Fitriani
MENULIS itu kerja sunyi. Ia tak langsung mendapat bayaran, tak serta-merta menerima tepuk tangan. Tapi ia menguji keteguhan, bahkan kesabaran. Ia menakar kejujuran.
Ada yang mengirim tulisan ke media, lalu dimuat, tapi tanpa honor, hanya sebaris nama. Lalu muncul keluh, bahkan juga rasa kecewa.
“Sudah capek-capek nulis,” katanya, “terbit, tapi tak dibayar. Buang-buang waktu!”
Tapi apakah hanya uang tujuannya? Apakah hanya itu makna menulis?
Menulis adalah perjalanan panjang. Bertahun-tahun menempa diri, membentuk karakter, membangun nama. Bersyukurlah kalau tulisanmu dimuat, itu bukan akhir, itu permulaan.
Redaktur tak selalu mencari karya terbaik, kadang ia mencari nyala kecil di lorong gelap. Memberi tempat bagi penulis muda, membuka ruang apresiasi, dan menumbuhkan asa.
Tulisanmu mungkin belum sempurna, tapi ia cukup layak untuk disiarkan, cukup menyala untuk dibaca.
Banyak naskah tak pernah terbit. Sampai di meja redaktur, tapi kemudian ditolak. Banyak penulis tak pernah melihat namanya terpampang. Kamu beruntung, baru kirim, terbit. Satu langkah sudah kamu lewati.
Banyak media kecil yang belum mapan, tapi mereka tetap membuka pintu, mengizinkan karya tumbuh. Mereka tak membayar honor, tapi memberi ruang.
Anggap itu ladang latihan, sasaran uji, dan batu loncatan. Mau honor? Bisa. Survei dulu medianya. Tanyakan kepada rekan sejawat: apakah media itu memberi honor?
Jika ya, kirimlah ke sana. Jika tidak, tanya dirimu sendiri: apakah kamu menulis untuk uang semata, atau karena cinta?
Media besar memang menjanjikan honor, tapi sainganmu tak main-main. Penulis nasional, nama-nama yang sudah mengakar, tulisannya rapi, diksinya tajam, serta idenya menggetarkan. Namanya sudah akrab di mata dan telinga. Kamu bisa menembus mereka, tapi kamu harus tahan banting, gigih, disiplin, dan sabar.
Jangan baru sekali dimuat lalu merasa sudah menjadi penulis besar. Jangan belum apa-apa sudah berhitung untung rugi.
Menulis itu bukan soal cepat dapat bayaran. Menulis soal tahan menunggu. Tahan tidak dikenal. Tahan ditolak.
Jika kamu bersungguh-sungguh, nama dan karya akan mendahuluimu. Suatu saat kamu tak perlu mengirim tulisan lagi, redaksi akan mencarimu.
Mereka yang dulu kamu kejar, kini mengejarmu. Honor itu akan datang. Tapi ia tidak mendahului kerja keras. Ia adalah hasil, bukan awal.
Tapi menulis tak hanya tentang media. Bisa lebih dari itu, menjadi jalan rezeki bahkan jalan hidup.
Kamu bisa menjadi penulis bayaran. Menulis untuk orang lain yang tak punya waktu atau tak pandai merangkai kata. Mereka punya ide, tapi kamu yang mewujudkannya.
Bisa menulis biografi, imenulis memoar, menulis buku motivasi, sejarah desa, atau kisah inspiratif.
Kamu bisa jadi editor. Membantu merapikan naskah, menyulap tulisan mentah menjadi buku layak terbit.
Kamu bisa buka pelatihan menulis, online atau tatap muka. Berbagi pengalaman. Menularkan semangat. Menghidupkan literasi di tengah gempuran media sosial.
Kamu bisa membuka jasa pendampingan penulisan untuk pelajar, mahasiswa, pegawai, atau siapa saja yang ingin menulis tapi butuh dorongan.
Honor bisa datang dari sana, dari banyak pintu. Tapi tetap, jangan buru-buru. Bangun reputasimu lebih dulu, perkuat namamu di tengah komunitas, terus berbagi, terus menulis dan yang terpenting konsisten.
Lama-lama, orang akan tahu siapa kamu, akan datang tawaran:
“Bisa bantu nulis buku saya?”
“Bisa ajari anak-anak kami menulis?”
“Bisa jadi pembicara untuk pelatihan literasi di sekolah kami?”
Dan kamu akan sadar, ternyata kerja sunyi itu menyimpan gema. Pelan, tapi pasti. Semua berawal dari satu hal kecil: kesungguhan.
Ya, karena sejatinya menulis bukan hanya cara menumpahkan isi hati. Ia bisa menjadi jalan hidup. Jalan yang bermakna. Jalan yang perlahan-lahan membawamu pada takdir yang indah.
Tapi ingat, tak ada jalan pintas. Yang ada hanya langkah kecil yang dilakukan setiap hari dengan setia, sabar, dan dengan cinta.
Teruslah menulis. Teruslah berlatih. Asah daya tahanmu. Tumbuhlah sebagai penulis yang tangguh. (Mf/Ahaf)






