Morowali, Teraskabar.id– Wacana rotasi jabatan yang akan digulirkan Pemerintah Kabupaten Morowali menjadi perbincangan hangat di tengah publik. Di tengah perkembangan daerah yang semakin pesat, langkah ini dinilai sebagai strategi penting dalam memperkuat birokrasi agar lebih adaptif terhadap visi-misi serta tantangan zaman, apalagi Morowali kini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi regional bahkan global.
Muhlis Katili, seorang motivator dan trainer nasional yang juga putra daerah Morowali, dalam wawancara eksklusif bersama Teraskabar.id, menegaskan bahwa rotasi jabatan adalah hal lumrah dalam organisasi. “Rotasi, mutasi, promosi bahkan demosi adalah proses normal. Semua itu semata-mata untuk menyelaraskan langkah organisasi dengan arah perjuangan dan visi kepala daerah,” kata Muhlis Katili, Selasa (1/7/2025).
Muhlis menambahkan, rotasi tidak bisa dipandang sebagai keputusan instan tanpa pertimbangan. Ada indikator penting yang menjadi landasan utama seorang pemimpin dalam mengambil langkah tersebut, yaitu loyalitas, profesionalitas, dan integritas.
“Loyalitas tanpa profesionalitas hanya akan jadi beban. Sebaliknya, profesional tanpa loyalitas justru bisa menjadi ancaman. Sedangkan tanpa integritas, keduanya bisa disalahgunakan,” tegasnya.
Trainer yang dikenal dengan metode Pola Pertolongan Allah (PPA) ini menekankan bahwa integritas adalah fondasi utama dalam birokrasi yang sehat. Ia menilai, seseorang dengan integritas akan menampilkan kejujuran, disiplin, dan kesetiaan pada nilai-nilai spiritual dalam setiap langkah kerja. “Bekerja bukan hanya soal target, tapi juga soal hati,” ujarnya.
Menurut Muhlis, rotasi juga penting dilakukan untuk mencegah stagnasi dalam organisasi. Terlalu lama berada di posisi yang sama bisa membuat pejabat terjebak dalam zona nyaman. “Lebih dari 10 tahun di tempat yang sama akan membuat kinerja cenderung menurun. Mereka bisa jadi alergi terhadap ide-ide baru dan enggan berinovasi,” katanya.
Ia mengajak para aparatur sipil negara, termasuk PPPK, untuk melihat rotasi sebagai bentuk penyegaran dan kesempatan mengeksplorasi potensi diri. “Banyak orang yang tidak kreatif akan melihat rotasi sebagai ancaman. Padahal, jika disikapi secara positif, ini adalah peluang untuk tumbuh. Quality of response equals quality of life,” ujarnya penuh semangat.
Muhlis juga mengajak ASN untuk memaknai rotasi dari sudut pandang spiritual. “Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 216 disebutkan, bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Jadi, mari kita terima takdir itu dengan hati terbuka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ASN telah mengikrarkan kesiapannya untuk ditempatkan di mana saja. “Gaji dan tunjangan yang diterima adalah bentuk penghargaan negara. Maka bekerja dengan niat mencari nafkah halal juga adalah bentuk ibadah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Muhlis menyampaikan bahwa setiap kepala daerah pasti ingin membentuk tim kerja yang bisa membantunya mewujudkan visi besar. “Kepala OPD harus mampu menjadi penyeimbang dalam kapal pemerintahan. Kalau kapal miring, ia harus bisa jadi pemberat yang menyeimbangkan arah,” jelasnya.
Menurutnya, mengapresiasi kerja tim dan membangun semangat kolektif sangat penting. “Bekerja bukan hanya karena digaji, tapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Apa yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari sejarah yang akan dikenang oleh anak cucu kita,” ucapnya menyentuh.
Muhlis juga membagikan pengalaman pribadinya saat bekerja di perusahaan multinasional. “Dulu saya pernah ditolak untuk menduduki jabatan tertentu. Tapi saya membuktikan bahwa saya layak. Alhamdulillah, saya akhirnya dinobatkan sebagai Excellent Leadership,” ungkapnya bangga.
Ia menutup dengan dua pesan kuat: fleksibel dan terus belajar. “Kalau kita hanya melakukan hal-hal biasa, maka kita akan jadi manusia biasa. Tapi kalau berani keluar dari kebiasaan, kita bisa jadi manusia luar biasa,” tandasnya.
Bagi Muhlis Katili, rotasi jabatan bukan sekadar penempatan ulang pegawai. Ini adalah momentum untuk menegaskan kembali esensi pengabdian, loyalitas, dan dedikasi dalam membangun daerah dan bangsa. (Ghaff/Teraskabar)






