Tolitoli, Teraskabar.id – Pembangunan SD 21 Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, senilai Rp1,2 Miliar dari program revitalisasi APBN tahun 2025 diduga tak sesuai Petunjuk Teknis (Juknis). Proyek sekolah enam ruang kelas itu disebut ditangani suami Kepala Sekolah (Kepsek), Rabaiya K Gesa.
” Suami kepala sekolah yang tangani pengerjaan pembangunan SD itu, pihak ketua P2SP tidak dilibatkan,” cerita Imran warga setempat kepada wartawan.
Panitian Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dalam Juknis memiliki peran penting untuk menuntaskan pengerjaan pembangunan sekolah yang sumbernya berasal dari program revitalisasi yang diluncurkan pihak kementerian terkait. Ketua P2SP bersama Kepala Sekolah dan Bendahara dapat bekerja sama dalam proses penyelesaian pembangunansekolah tersebut.
” Yang mengurus pembelian bahan material bukan ketua P2SP melainkan suami Kepsek SD itu. Suami Kepsek yang nampak sibuk mengurus bahan bangunan,” tuturnya.
Kepsek SD 21 Baolan, Rabaiya S Gesa, yang ditemui di kantornya berkelit jika program revitalisasi pembangunan SD tersebut telah ditangani pihak luar alias suaminya sendiri tanpa melibatkan ketua panitia pembangunan.
” Tidak betul pak bukan suami saya tangani proyek ini , kalau pergi beli bahan bangunan betul itupun sekali kali saja,” katanya.
Sebelumnya, saat hendak dikonfirmasi di kantornya, suami Kepsek Rabaiya S Gesa tiba – tiba nyelutuk membenarkan kalau proyek SD itu telah ditanganinya sendiri, namun pernyataan tersebut langsung ditepis oleh istrinya selaku Kepsek dan mengatakan keterangan yang disampaikan suaminya itu tak benar.
Setelah disinggung, soal bangunan ruang kelas yang dikerjakan, Kepsek Rabaiya S Gesa, menjelaskan dalam penggunaan anggaran Rp1,2 Miliar item pembangunan terdiri dari tiga bagian meliputi tiga ruang kelas dibangun baru, sementara tiga ruang kelas lagi dikerjakan rehabilitasi dan satu bangunan kantor.
“Semua ruangan di SD 21 ini telah dibongkar, sementara untuk proses belajar kami laksanakan di sekolah lain yaitu SD 17, kami pinjam tiga ruang kelas untuk 227 murid,” terangnya.
Tiga ruang kelas kosong yang dipergunakan untuk proses belajar pihak sekolah menggunakan sistem belajar pagi sampai pukul 10.00 bagi kelas 1,2,3 kemudian dilanjutkan kelas 4,5,6 sampai jam 4.00 wita.
” Jumlah personel yang menjabat di SD ini ada 22 orang,” katanya. (tim/teraskabar)






