Palu, Teraskabar.id – Keterbatasan fisik bukan jadi penghalang untuk berkarya. Enam pemuda difabel di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, meniti jalan menuju kemandirian ekonomi dengan merintis usaha peternakan ayam kampung organik.
Enam pemuda difabel masing-masing mencoba beternak ayam kampung secara kecil-kecilan. Sulaiman, salah satu di antara enam pemuda difabel tersebut mengisahkan awal perjalanan beternak ayam kampung hingga membentuk kelompok peternakan. Saat itu, mereka beternak ayam kampung di pekarangan rumah masing-masing. Skala peternakan ayamnya tergolong masih sangat kecil, tak lebih dari belasan induk ayam.
“Awalnya kita itu masih ternak ayam masing-masing dan hasilnya itu kita jual belum terlalu banyak seperti saat ini,” kata Sulaeman Roka, Ketua Kelompok Peternakan Ayam Woliko.
Melihat ada kesamaan ketertarikan pada usaha peternakan ayam kampung, Sulaeman mencoba mengutarakan gagasannya kepada rekan sesama pemuda difabel untuk membentuk kelompok dan mereka menyambutnya dengan antusias.
Untuk lebih mengoptimalkan operasional keseharian, keenam pemuda difabel tersebut merangkul enam pemuda desa setempat untuk bergabung dalam kelompok peternakan. Akhirnya, 12 pemuda Desa Matompi membentuk Kelompok Peternakan pada awal tahun 2021. Mereka menyepakati namanya, Peternakan Ayam Kampung Woliko.
“Awal tahun 2021 kami sudah membentuk kelompok Woliko yang ada di sini,” ujar Sulaeman.
Berbekal semangat, Kelompok Peternakan Ayam Woliko yang beranggotakan 12 pemuda desa dan enam orang di antaranya penyandang disabilitas, memulai usaha peternakan dari kandang sederhana di atas lahan milik salah satu anggota kelompok.
Keterbatasan dana menjadi kendala awal untuk pengembangan usaha peternakan ayam mereka, terutama untuk pengadaan bibit ayam kampung organik.
PT Vale Indonesia melihat semangat para pemuda desa tersebut untuk mandiri secara ekonomi, mengucurkan bantuan pada Bulan Maret 2022, sekaligus melakukan pembinaan budidaya ayam organik kepada Kelompok Peternakan Woliko. Pemberian bantuan tersebut melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Sebanyak 500 ekor anakan ayam kampung organik disalurkan kepada kelompok Woliko beserta fasilitas kandang.
Peresmian penggunaan fasilitas kandang dihadiri langsung Direktur Eksternal Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, Selasa (5/07/2022). Peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Ketua Kelompok Woliku, Sulaiman didampingi Sekretaris Desa Matompi, Salman, Direktur Eksternal Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, serta Senior Koordinator PPM PT Vale Indonesia Tbk Baso Haris dan disaksikan masyarakat setempat.
Pemuda Difabel Temukan Jalan Kemandirian Melalui Pendampingan Berkelanjutan
PT Vale Indonesia bukan hanya hadir saat penyaluran bantuan anakan ayam dan peresmian fasilitas kandang ayam, lantas setelah itu dianggap tuntas. Perusahaan ekstraktif terkemuka ini memiliki komitme kuat untuk terus hadir memberi dampak nyata bagi para pemuda desa yang menganggur, melalui pendampingan secara berkelanjutan.
Bahkan, sebelum penyaluran bantuan dan peresmian fasilitas kandang ayam, para anggota kelompok terlebih dahulu diberi penguatan mengenai tata cara budidaya ayam kampung organik.
Langkah tersebut untuk memastikan keberlanjutan usaha pengembangan ayam kampung organik melalui pendampingan teknis budidaya secara intensif dari tenaga pendamping budidaya organik PT Vale guna mendorong enam pemuda difabel temukan jalan kemandirian ekonomi.
Sebelum pendampingan, para anggota Kelompok Woliko terlebih dahulu mengikuti asesmen pada bulan September 2021. Tahapan berikutnya adalah pembangunan fasilitas kendang, termasuk pengadaan anakan ayam pada Maret 2022.
Direktur External Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma berharap dengan adanya program ini dapat menyejahterakan masyarakat Desa Matompi dan ikut menginspirasi pemuda desa lain, untuk mau berusaha menciptakan peluang wirausaha yang ada di desanya, tidak melulu menggantungkan hidup menjadi pekerja di industri tambang.
“Mari kita Bersama untuk terus mendorong kemandirian masyarakat melalui inisiatif kewirausahaan seperti yang dirintis oleh Kelompok Woliko ini yang mayoritas usia produktif, bahkan mereka mampu tetap berswadaya di tengah keterbatasan fisik. Mereka inspirator bagi semua, ini sejalan dengan inisiatif Perusahaan dalam membangun lingkungan yang terbuka untuk siapa saja dengan latar belakang dan kondisi yang beragam ,” ujar Endra.
Jalan Panjang Meniti Sukses
Setelah lima tahun meniti harapan, kini para anggota Kelompok Peternakan Ayam Kampung Woliko sudah bisa tersenyum optimistis menatap masa depan. Setiap pekannya, Kelompok Peternak Woliko mampu memproduksi ayam kampung organik hingga 200 ekor.
“Alhamdulillah, sekarang kami bisa memproduksi sekitar 200 ekor ayam setiap pekan untuk memenuhi permintaan pembeli,” kata Farel Abdul Hakim, salah seorang anggota Kelompok Peternakan Ayam Woliko.
Keberhasilan itu mereka rengkuh melalui sinergi antara para anggota kelompok Woliko dengan pendamping program PPM Vale Indonesia. Hasilnya, kebiasaan beternak ayam secara tradisional, kini telah berubah menjadi semi modern dengan mengembangkan budidaya ayam lokal unggul Alope dari Universitas Hasanuddin. Melalui metode pemeliharaan yang baik, ayam jenis Alope sudah dapat dipanen pada usia 55–65 hari.
“Dulunya kami secara otodidak masih menggunakan obat pertumbuhan dan membeli pakan, sekarang kami bisa membuat pakan fermentansi menggunakan MOL organik yang praktis, dan membuat vaksin alami sendiri untuk ayam,” ujar Farel.
Selain pengetahuan teknis budidaya peternakan, para anggota kelompok juga dibekali tata cara pencatatan dan pembukuan berbasis digital.
“Lima tahun kami berproses dan belajar dari tidak tau menjadi tau. Sekarang sudah banyak yang berubah. Bahkan sekarang proses pencatatan sudah bisa kami update dan pantau lewat Hp,” ujar Farel.
Ia mengakui, melalui dukungan PT Vale Indonesia, anggota kelompok Woliko terus mengembangkan potensi usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Pemberdayaan Kelompok Difabel Diganjar Reward
Dukungan PT Vale Indonesia secara berkelanjutan melalui program PPM kepada para pemuda penyandang disabilitas yang tergabung dalam Kelompok Peternakan Ayam Kampung Woliko, mendapat apresiasi pada ajang Indonesian CSR Awards (ICA) dan Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2026. Program pemberdayaan yang mendorong peningkatan kapasitas, kemandirian ekonomi, dan penciptaan manfaat berkelanjutan kepada para pemuda penyandang disabilitas, memperoleh penghargaan Platinium Award ICA 2026.
Penghargaan diterima oleh Head of External Relations Sorowako and Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus, pada BERBAKTI, ICA & ISDA Award Ceremony 2026 yang berlangsung di Jakarta, pada Selasa (29/9/2026).
Pemberian penghargaan pada program pemberdayaan pemuda penyandang disabilitas ini karena Vale Indonesia dianggap telah mendorong penguatan kapasitas kelompok rentan dalam mengelola peternakan, sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi yang terintegrasi. Kini enam pemuda difabel temukan jalan kemandirian ekonomi dan menjadi inspirasi bagi pemuda desa lainnya.
PT Vale Indonesia melalui program PPM mengembangkan peternakan ayam kampung terpadu Woliko sebagai ekosistem usaha yang membuka peluang ekonomi, meningkatkan keterampilan masyarakat dan mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih produktif.
Perubahan Paradigma, Pemuda Difabel Temukan Jalan Kemandirian
Pertambangan selalu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi-menyalurkan tenaga kerja ke berbagai industri, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung pembangunan nasional. Namun di luar soal penambangan, ada pertanyaan yang lebih mendasar, apa yang tersisa setelah sumber daya habis dan manfaat yang diperoleh masyarakat dalam jangka panjang?
Ir. Jeffrey Mulyono, tokoh terkemuka dan profesional senior di industri pertambangan Indonesia, mengupas tuntas hal itu dalam bukunya berjudul “Some Refrences About Community Development”. Garis-garis besar mengenai isi buku tersebut ia paparkan saat tampil sebagai salah satu narasumber pada Jambore Pertambangan Sulteng 2026, Senin (22/9/2026), di Sriti Convention Hall Kota Palu.
Jeffrey mengakui bahwa pertambangan membawa manfaat, terutama dari sisi ekonomi berdasarkan fakta di sekitar area tambang. Namun, realitas di lapangan sering kali persoalan pertambangan jauh lebih kompleks. Terjadi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur tapi juga terjadi ketergantungan masyarakat, serta tantangan lingkungan dan sosial. Hal ini menggiring pada sebuah refleksi yang krusial: apakah pertambangan benar-benar meningkatkan kualitas hidup bagi masyarakat secara berkelanjutan.
“Kalau sekedar merekrut tenaga kerja, setelah pertambangan itu selesai beroperasi maka tenaga kerja itu juga berpotensi tidak lagi memiliki pekerjaan,” ujarnya.
Saat ini, ekspektasi terhadap industri pertambangan terus berkembang. Para pemangku kepentingan tidak lagi hanya melihat angka produksi semata. Prinsip ESG dan keberlanjutan kini menjadi standar baru di industri pertambangan. Tanggung jawab sosial kini menjadi ekspektasi utama dalam industri pertambangan.
“Bukan hanya berusaha berbaik-baik kepada masyarakat sekitar tapi berupaya agar masyarakat bisa mandiri setelah tambangnya selesai,” ujarnya.
Menurutnya, industri pertambangan harus bertransformasi, dari sekadar menghasilkan nilai menjadi menciptakan dampak yang nyata dan berkelanjutan.
Inti dari buku Some References About Community Development ini kata Jeffrey, memiliki satu gagasan sederhana namun kuat, pertambangan tidak seharusnya hanya mengambil sumber daya, tapi juga membangun masyarakat yang berkelanjutan. Hal ini mengubah peran Community Development melalui program pemberdayaan masyarakat, dari sekadar kewajiban menjadi strategi.
“Artinya, ketika mulai menambang, 15 atau 20 tahun kemudian, masyarakatnya akan menjadi apa, apakah beternak ayam dan domba atau usaha kerajinan,” tanyanya. “Itu harus dipikirkan dari sekarang, bukan nanti ketika tambangnya mau habis,” tambahnya.
Menurut Jeffrey, pertambangan berkelanjutan dibangun di atas empat pilar yang saling terhubung, di antaranya Community Development (Pembangunan masyarakat). Hanya saja Community Development seringkali disalahpahami. Community Development terkadang dipahami sebagai pemberian bantuan dan sifatnya bantuan jangka pendek. Padahal Community Development adalah bagaimana memberdayakan masyarakat untuk tumbuh, beradaptasi, dan menjadi mandiri secara berkelanjutan.
Sebelum mengakhiri paparannya, Jeffrey menekankan bahwa keberhasilan sejati sebuah program tidak diukur dari apa yang diberikan, tetapi dari apa yang dapat dipertahankan sendiri oleh masyarakat secara berkelanjutan, yang berujung pada penciptaan sentra ekonomi baru.
Sejalan dengan pandangan Jeffrey, PT Vale Indonesia telah mewujudkan penciptaan sentra ekonomi baru melalui program pemberdayaan pemuda desa. Kini di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, muncul sentra ekonomi baru melalui kelompok peternakan ayam kampung terpadu “Woliko” yang dikelola pemuda penyandang disabilitas.
Sentra ekonomi baru ini menjadi warisan bermakna dari operasi pertambangan PT Vale Indonesia di Desa Matompi. (fitra)






