Industri Film Kreatif Libatkan Generasi Milenial

Menurut Suaib, keterlibatan anak-anak generasi milenial dalam industri kreatif film, mulai dari penggarapan, editing, hingga pemain film, merupakan langkah untuk mewujudkan Sulteng sebagai Negeri Seribu Megalit yang menjadi prioritas dalam pembangunan kebudayaan dan pariwisata Gubernur Sulteng Rusdy Mastura.
Lokasi pembuatan film berada di daerah Uwentira, yaitu poros Kebun Kopi Jalan trans Sulawesi, Air Terjun Salodik di Pagimana Kabupaten Banggai, dan sebuah hutan di Kabupaten Tojo Una-una. Semua lokasi ini berada di Sulteng dan menurut cerita rakyat, wilayah kerajaan Uwentira terdapat di seluruh Sulteng, bahkan dunia.
Baca juga: Wagub Ma’mun Amir: Atlet Wakil Sulteng ke PON XXI Wajib Berprestasi
Produksi film ini dilakukan secara gotong royong dan murni swadaya oleh para pegiat dan pendukung industri kreatif. Dalam cerita rakyat, Uwentira terletak di sekitar sebuah jembatan tua. Setiap mobil yang melintas di jembatan tersebut selalu menyalakan klaksonnya. Dipercaya oleh beberapa pengendara bahwa jika tidak menyalakan klakson, mereka akan mengalami kecelakaan. Apakah hal ini benar atau tidak, belum dapat dipastikan.
Terdapat banyak cerita rakyat seputar Uwentira, negeri para Jin dan makhluk astral. Diceritakan bahwa Uwentira merupakan negeri yang sangat modern, indah, dan penduduknya kaya raya. Bahkan, banyak manusia yang berada di sekitar jembatan dan air di sekitar Uwentira yang melihat makhluk astral.
Konon, jika seseorang diberi makanan beras ketan (pulut) berwarna kuning dan putih, mereka harus berhati-hati dalam memilih. Jika memakan pulut warna kuning, manusia tersebut akan masuk ke dunia ‘lain’ alias negeri Uwentira. Jika memakan pulut warna putih, manusia tersebut akan dapat mengunjungi negeri astral Uwentira dan kemudian kembali ke dunia nyata.
Baca juga: MAXstream Rilis “Merindu Cahaya de Amstel”, Film Orisinal Mengenai Cinta dan Religi
Demikianlah kutipan dialog dari Produser Eksekutif Film Uwentira, Dr. Suaib Djafar, pada Sabtu (10/6/2023) di sebuah warung kopi di Kota Palu. Film ini dibuat dengan mempertimbangkan nilai budaya dan dedikasi kreatif anak-anak muda, dan diproduksi oleh Celebes Film Production.

Film Uwentira memiliki pesan-pesan tertentu. Menurut mantan pejabat Kepala Dinas Pariwisata Sulteng, film ini mengenalkan budaya Kaili dan interaksi manusia dengan alam.
“Kearifan lokal adalah menghargai semua yang Allah ciptakan. Interaksi ini merupakan nilai budaya Kaili,” ujarnya.
Selain itu, film ini juga menekankan pentingnya menjaga alam. Dalam keadaan di alam bebas seperti hutan, menjaga kebersihan, menjaga narasi yang etis, dan tidak menggunakan bahasa yang kotor merupakan nilai-nilai yang penting. “Film Uwentira menyampaikan banyak pesan dan nilai-nilai,” tambahnya sambil berharap agar film ini ditonton jika penasaran.
Film Uwentira akan diputar pertama kali di Bioskop XXI Kota Palu, yaitu di Grand Mall Palu pada tanggal 30 Juni 2023. Di Jakarta, film ini juga akan diputar serentak di Transmart Cibubur pada hari yang sama.
“Kami berharap pemutaran di Palu akan dihadiri oleh Wakil Gubernur beserta para pejabat. Di Jakarta, pemutaran akan disesuaikan dengan kehadiran Gubernur Rusdy Mastura dan keluarganya,” ujar Suaib, yang juga seorang dosen di sebuah Universitas Swasta di Medan dan Palembang. Jadi, mari nonton! (teraskabar)






