Minggu, 4 Oktober 2026
Home, Opini  

Penyakit dan Mutu Tantangan Daya Saing Udang Indonesia, Produk Premium Jadi Target

Penyakit dan Mutu Tantangan Daya Saing Udang Indonesia, Produk Premium Jadi Target
Dr. Hasanuddin Atjo. Foto: Istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo

KAMIS, (01/10/2026) bertempat di Le Meredien Hotel Sudirman Jakarta dihelat Kick of Meeting Proyek Toward Sustainable and Conversion-Free Aquaculture in Southeast Asia (TOSCA).

Proyek strategis ini merupakan kerja sama antara Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Kementerian Bappenas RI dengan Asian Development Bank ( ADB).

Tujuan proyek TOSCA., antara lain mendorong praktik praktik akuakultur (budidaya) yang berkelanjutan dan bebas dari konversi lahan, khususnya pada komoditi udang di Indonesia.

Artinya, lebih pada bagaimana memperbaiki cara berbudidaya ramah lingkungan, berorientasi nilai serta memberkan manfaat pada pelaku usaha level on – up – down stream (hulu maupun hilir).

Merealisasikan tujuan tersebut dibutuhkan satu grand design serta strategi pengembangan Industri udang inklusif, berdaya saing, serta berkelanjutan di Indonesia.

Negara Kepulauan terbesar ini bergaris pantai hampir 100 ribu km (terpanjang kedua), memiliki total areal tambak sekitar 300 ribu ha, yang tersebar pada 7 kluster pulau besar. Dan dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan struktur teknologi, sebesar 82 persen menerapkan teknologi tradisional, 15 persen teknologi semi intensif dan 3 persen teknologi intensif dan supra intensif.

Pada tingkat global, Indonesia menjadi penghasil udang ke-5 setelah Ekuador, China, India dan Vietnam. Total produksi udang global (2025) sekitar 6 juta ton yang terus bertumbuh secara positif.

Ekuador dan China merupakan dua Negara dengan produksi lebih besar dari 1 juta ton/tahun Sementara itu India, Vietnam Indonesi, dan Thailand berada dibawah angka 1 juta ton.

Ekuador fokus pada teknologi tradisional dan semi intensif. Sementara China pada intensif dan supra intensif. Indonesia ada baiknya mempelajari cara (praktik) yang menjadi strategi kedua Negara itu

Berdasar data GOAL survey, produksi Indonesia tahun 2025 tidak lebih dari angka 400 ribu ton. Angka ini berada di bawah India sebesar 800 ribu ton serta Vietnam sebesar 600 ribu ton.

  Kemenko Marves dan IMIP Sosialisasikan Hilirisasi Nikel di 11 Kampus di Pulau Jawa

Thailand meskipun produksinya tidak lebih 300 ribu ton/ tahun. Namun strategi mereka lebih ke arah produk Premium yang nilai jualnya jauh di atas dari produk “tradisional” seperti udang kupas (peeled), udang potong kepala (headless).

Ekspor udang Indonesia pada tahun 2025 sebanyak 218 ribu ton dengan nilai sebesar $US 1,87 milyar dan kontribusi pada hasil devisa sektor kelautan dan perikanan sebesar 29,87 persen. Didominasi oleh produk Peeled dan Headless.

Ironinya kurang lebih 80 persen ekspor ini berasal dari produksi tambak teknologi intensif dan supra intensif. Berbeda dengan Ekuador mendekati 100 persen berasal dari tambak tradisionsl dan sedikit semi intensif.

Angka ekspor maupun devisa Indonesia 5 tahun terakhir terus mengalami penurunan. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2021 dengan volume sebesar 250 ribu ton dan share pada devisa ekspor Perikanan 38,9 persen ($US 2,28 milyar).

Penyakit dan Mutu udang jadi persoalan dalam peningkatan produksi maupun penerimaan devisa sektor kelautan dan perikanan. Penyakit virus dan bakteri menjadi salah satu sebab HPP (Harga Pokok Produksi) terus membengkak dan kemudian menurunkan daya saing.

HPP udang di Indonesia lebih mahal $US 0 5 – 0,75 /kg dari HPP udang di Ekuador maupun India. Namun terhadap Vietnam dan Thailand ( ASEAN) relatif sama. Namun mereka unggul pada hilirnya.

Berkaitan dengan penyusunan grand design dan strategi pengembangan industri udang inklusif, berdaya saing serta berkelanjutan diperlukan peta masalah pada up stream, on stream dan down stream.

Perbaikan genetik, teknologi budidaya polychaeta (cacing) SPF (bebas penyakit) sebagai pakan induk, teknologi pakan bermutu dan terjangkau serta laboratorium kesehatan dan mutu sebaiknya menjadi fokus pada up stream.

Pada on stream difokuskan pada pengembangan sterilisasi air ramah lingkungan (berbasis listrik), menggunakan benur hasil dari nursery, membangun budaya mitigasi dan penerapan biosecurity.

  Apakah Bisnis Udang Masih Prospek di Tengah Hantaman Penyakit dan Anjloknya Harga

Selanjutnya budaya konservasi, termasuk tidak menggunakan antibiotik, bahan terlarang lain dan kewajiban membangun IPAL menjadi poin yang tidak kalah pentingnya dalam upaya keberlanjutan.

Ekspor produk Premium seperti (Shasimi. live Cooke. HOSO – head on shell on dan udang breeded) menjadi salah satu fokus down stream yang pada saat ini volume produksi masih sangat terbatas.

Selama ini produk hilir udang Indonesia dominan (70 – 80 persen) masuk kategori produk “tradisional” seperti udang potong kepala (headless) dan udang kupas (peeled ) dengan harga jauh berada di bawah produk Premium.

Target produk udang premium (jangka panjang) menjadi salah goal dari proyek TOSCA yang akan berlangsung hingga tahun 2028. Dan diharapkan proyek ini dipandang perlu dilanjutkan dalam bentuk implementasi.

Merubah paradigma dan cara tindak pelaku usaha udang hulu hilir sebagaimana harapan proyek TOSCA memerlukan satu role model (proyek contoh) berbasis kawasan terutama pada teknologi tradisional dan semi intensif. (***)