Senin, 12 Januari 2026

Petani Petasia Timur Bercucuran Air Mata Ceritakan Nasibnya Jadi Korban Kebrutalan PT ANA

Petani Petasia Timur Bercucuran Air Mata Ceritakan Nasibnya Jadi Korban Kebrutalan PT ANA 
Tujuh orang perwakilan petani asal Petasia Timur didampingi Noval dari FRAS Sulteng memaparkan kondisi petani korban penyerobotan lahan oleh PT ANA. Foto: Teraskabar.id

“Di atas lahan yang dirampas PT ANA, masih ada berdiri pondok kami yang menjadi bukti bahwa sebelum PT ANA datang mencaplok lahan kami, kami telah menggarap lahan tersebut,” ujar Ambo sambil sesekali menghapus air matanya dengan tisu yang kebetulan ada di atas meja rapat komisioner Komnas HAM Perwakilan Sulteng.

Baca jugaPermasalahan Perkebunan Kelapa Sawit di Morut, PT ANA Tak Hadir

Ironisnya lanjut Ambo, pemerintah daerah memberi apresiasi  bahwa PT ANA mendatangkan kesejahteraan kepada warga. “Masyarakat mana itu yang telah disejahterakan dengan kedatangan PT ANA, justru sebaliknya, kesengsaraan  yang dialami ratusan petani di wilayah itu,” kata Ambo.

Ambo mencoba untuk lebih banyak menyampaikan kondisi yang dialaminya bersama keluarganya serta ratusan petani di Petasia Timur.  Tapi beberapa kali Ambo Enre terlihat terbata-bata berbicara karena mencoba meredam kesedihannya setiap kali menyinggung kebrutalan PT ANA dan diskriminasi perlakuan yang telah dialaminya selama ini.

Baca jugaTahun Ini, PT ANA Salurkan Beasiswa Prestasi kepada 97 Siswa di Morut

“Saya sendiri sudah dilaporkan ke Polres Morowali Utara,” ujarnya sembari mempersilakan rekannya menambahkan bagaimana kondisi petani di Morowali Utara yang terusir dari lahan yang selama ini telah digarap orangtuanya selama puluhan tahun.

Rekan Ambo yang berjumlah enam orang didampingi Noval dari Front Rakyat Advokasi Sulteng, menjadi simbol perjuangan dari  ratusan petani di Petasia Timur, Morowali Utara, melalui publikasi media.

Ia bersama rekan-rekannya yang datang khusus ke kantor Komnas Perwakilan Sulteng di Kota Palu, berharap perjuangan mereka melalui publikasi media, gaungnya bisa lebih luas, di saat negara terkesan tak berpihak kepada mereka. (teraskabar)