Sabtu, 24 Januari 2026
Daerah  

PPP Sulteng kepada Randi Saputra: Silakan Tutup Pintu dari Luar

PPP Sulteng Tuntut Perwakilan Ombudsman Minta Maaf, Ini Penyebabnya
Bidang OKK I DPW PPP Sulteng Sayarif Latadano. Foto: Istimewa

Palu, Teraskabar.id– Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) I Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PPP Sulawesi Tengah, Mohamad Syarif angkat suara mengenai pernyataan Randi Saputra yang minta sikap tegas partai untuk memecatnya sebagai kader, bukan memberhentikan dirinya dari ketua DPRD Tolitoli.

Sebagai seorang kader PPP kata Syarif, seharusnya Randi Saputra harus menunjukkan loyalitas dan kepatuhannya kepada partai.

“Jika Tak Patuh Perintah DPP, silahkan keluar sendiri, tutup pintu dari luar,” kata Syarif sebagaimana keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu (15/10/2022).

Baca jugaEdy Suhasmoro: Muscab PPP Tolitoli Terindikasi “Disetting’ Deadlock

Syarif menyarankan, jika Randi Saputra sudah merasa tidak nyaman dan seolah-olah merasa benar sendiri, partai tak ingin menghalangi jika Randi Saputra ingin hengkang dari partai, tanpa harus menunggu pemecatan.

“Silakan untuk mencari sendiri pintu keluar. Andakan sudah dewasa, tahu dong, mana pintu masuk dan di mana pintu keluar,” kata Syarif yang juga mantan jurnalis salah satu media lokal di Sulteng.

Ia menambahkan, menghalang-halangi proses pergantian PAW ketua DPRD, sama saja melawan keputusan dari DPP.   Kader yang tidak patuh kepada DPP, sebaiknya segera hengkang dengan santun dan beretika tanpa harus membuat kegaduhan.

“Masih banyak kader partai yang lebih berkualitas dari anda,” ujarnya.

Baca jugaGolkar Segera Mengisi Kursi yang Kosong di DPRD Donggala, Ini Nama yang Diajukan

DPW PPP menurut Syarif, adalah perpanjangan tangan organisatoris dari DPP dan seluruh pengurus mesti patuh terhadap garis keputusan partai.

Sekaitan dengan klaim Randi Saputra, bahwa kesuksesannya menduduki posisi ketua DPRD Tolitoli adalah hasil kerja keras personal yang bersangkutan.

“Kami juga telah mendengar sejumlah pernyataan bahwa dia (Randi Saputra) menjadi ketua DPRD itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri, itu salah besar dinda,” ujarnya.

Keberhasilan meraih posisi ketua DPRD merupakan hasil kerja kolaborasi dan ihtiar seluruh pengurus, kader dan simpatisan PPP, terutama tentunya kontribusi besar rakyat terhadap partai.

“Jadi jangan mengklaim seolah-olah besar sendiri. Tanpa partai, anda dan kita semua, bukanlah apa-apa,” imbuhnya.

Sebagaimana kursi PPP di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah yang terlahir dari Dapil Buol, Tolitoli,  itu juga karena ihtiar tim dan dukungan rakyat dua kabupaten, bukan karena campur tangan satu dua orang.

“KPU itu independen, harus anda paham itu, penetuannya mereka siapa yang banyak suara, pasti itu dapat kursi,”  kata Syarif juga pernah menjadi ketua KPU di Sigi.

Bila sempat meluangkan waktu untuk berpikir jernih, seharusnya perolehan kursi PPP di tingkat provinsi, bisa diraih pada saat ketua DPW PPP dijabat oleh wakil bupati Tolitoli,  yang notabene PPP saat itu juga pemenang di kabupaten itu.

“Tapi kenapa saat ibu Fairus yang maju baru (PPP) bisa mendapatkan satu kursi di DPRD provinsi? Itu kan artinya kerja tim yang kompak, bukan karena si A atau si B,” tegasnya.

Olehnya, Syarif menyarankan kepada Randi Saputra untuk tidak membolak-balik fakta yang ada di lapangan.

“Jadi, tolong jangan dibolik-balik cerita ini, prinsip kami di DPW PPP saat ini, kita mesti menang berjamaah, biar tidak ada lagi kader merasa diri menang karena dirinya,” ujarnya.

“Jangan sampai anda, kita semua  kufur nikmat, syukurlah kepada Allah SWT dan taatilah, taatlah pula terhadap putusan DPP,” tambahnya. (teraskabar)