Palu, Teraskabar.id – Tragedi Ahad pagi 24 Desember 2023 di Kompeni Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) adalah tragedi bukan pertama kali. Hal itu disampaikan oleh Ketua Mining Comunity Center (MMC), Andi Ridwan Bataraguru melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Selasa (26/12/2023).
Menurutnya, kasus kasus kecelakaan pekerja yang berulang- ulang pada kompeni kompeni Nikel di Morowali memberi pesan kepada pada kita semua bahwa kompeni Nikel IMIP dalam pengelolaan yang ugal-ugalan.
Baca juga: Kebakaran Tungku Smelter Nikel PT GNI di Morut, Gubernur Sulteng : Ini Tragedi Kemanusiaan
Data menunjukkan dalam rentang 2015-2022 sudah 53 pekerja smelter meninggal terdiri atas 40 pekerja Indonesia dan 13 WNA China di smelter nikel di Indonesia termasuk IMIP.
Aktivis Reformasi 98 ini menegaskan, di tahun ini saja dihitung dari bulan Januari-September 2023, ada 19 tragedi kecelakaan di smelter nikel dan telah merenggut korban jiwa 16 orang serta 37 orang terluka. “Bertambah dari 12 jiwa menjadi 16 jiwa telah melayang,” kata Andi.
Baca juga: Korban Tewas Ledakan Tungku Smelter PT ITSS IMIP Bertambah, Kini Totalnya 16 Orang
Dari fakta temuan korban yang meninggal maupun yang dirawat, semuanya hangus terbakar. Hal ini mempertonton kepada publik tentang kelemahan K3, khususnya di area tungku pembakaran tidak menggunakan pakaian tahan api (Fire Retardant).
Oleh sebab itu kompeni kompeni Nikel di Sulawesi sebagai proyek hilirisasi yang melakukan manejmen ugal-ugalan perlu dievaluasi total.
Baca juga: Bentrok Karyawan PT GNI, PKS: Momentum Evaluasi Total Hilirisasi Nikel
Karena pertumbuhan yang tinggi tidak memberi peningkatan Kesejahteraan terhadap masyarakat sekitar, dan terlalu abai terhadap jiwa jiwa manusia khususnya para pekejanya sendiri. (teraskabar)







