Jakarta, Teraskabar.id – Aksi mogok pekerja yang berujung insiden bentrokan terbuka antara pekerja WNI dan asing di smelter nikel PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) di Kabupaten Morowali Utara (Morut) Sulawesi Tengah (Sulteng), yang menewaskan dua orang pekerja smelter, serta 70 pekerja diamankan aparat keamanan pada Sabtu malam (14/1/2023), jadi momentum untuk mengevaluasi total hilirisasi nikel.
Terlebih lagi, setelah sebelumnya juga terjadi insiden ledakan kebakaran smelter nikel PT. GNI di Morowali Utara, yang menewaskan dua orang pekerja.
“Sekarang adalah saat yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi komprehensif program hilirisasi nikel ini,” kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Dr. H Mulyanto, M.Eng melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Ahad malam (15/1/2023).
Baca juga : Panja Komisi VII Dukung Pemerintah Lanjutkan Izin PT Vale
Anggota Komisi VII DPR RI ini beralasan, program hilirisasi yang berbiaya tinggi ini hanya menghasilkan manfaat secara nasional yang terbatas, apalagi memunculkan instabilitas dan korban jiwa.
Sangat disayangkan katanya, kalau industri smelter ini terutama hanya menghasilkan produk setengah jadi bernilai tambah rendah, seperti NPI (nickel pig iron) dengan kandungan nikel sekitar 4% atau fero nikel dengan kandungan nikel sekitar 10 %. Bukan stainless steel atau nickel matte yang bernilai tambah tinggi.






