Oleh Hasanuddin Atjo
SAPU SAPU (Pterygoplichthys pardalis) jenis ikan air tawar kini banyak ditemukan pada sungai besar di Indonesia. Habitat aslinya jauh berada di Amerika Tengah dan Amerika Selatan.
Masuk ke Indonesia sebagai ikan hias. Berperan sebagai pembersih kaca akuarium dari kotoran lumut, dan alga pada dinding kaca agar aquarium selalu terlihat bersih.
Ikan Benthik Feeder ini (Makan di dasar), kini menjadi invasif karena sudah mendominasi biodeversity pada ekosistem sungai. Dikuatirkan nantinya menekan spesies asli pada ekosistem tersebut.
Bahkan Ikan ini mampu hidup dan berkembang di perairan tercemar sekalipun karena memiliki labirin sebagai alat bantu pernapasan selain alat pernapasan utama, insang.
Dampak yang timbul bukan hanya karena invasif. Diduga bahwa yang hidup di sungai tercemar, telah dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk jajanan seperti somay dan bakso.
Celakanya bahwa daging ikan tersebut diduga telah dicemari logam berat seperti Mercury (Hg), Cadmiun (Cd), timbal (Pb), dan Tembaga (Cu) yang datang dari buangan industri, limbah B3 dan rumah tangga
Berbahaya bagi kesehatan, terutama pada otak, sistem saraf, ginjal dan tulang serta lebih berbahaya pada janin yang bisa menimbulkan cacat lahir. Dalam jangka panjang akibatnya menambah beban Negara.
Kondisi ini menjadi kekuatiran Pemerintah Daerah sepanjang aliran sungai Ciliwung. Mulai Bogor, Depok hingga Ibukota DKI Jakarta. Pemprov DKI lebih awal menyatakan “perang” terhadap keberadaan ikan ini.
Ratusan ribu ikan Sapu-Sapu mati sia sia dan dikubur hidup hidup tanpa ada satu solusi menjadi produk apa yang bisa bermanfaat. Alangkah baiknya sebelum kebijakan dieksekusi, terlebih dahulu disiapkan opsi pemanfaatan.
Pertanyaan kemudian, apakah ikan ini akan dihilangkan dari ekosistem perairan tawar di Indonesia. Ini yang perlu jadi bahan kajian, mengingat ikan ini memiliki sejumlah kelebihan yang positif.
Pertama, mampu hidup serta berkembang biak pada kondisi minim oksigen, sehingga bisa dibudidayakan dengan target produktifitas yang tinggi tanpa harus menggunakan aerator sebagai sumber oksigen.
Kedua, termasuk kelompok ikan omnivor (makan segala), kebutuhan protein tidak tinggi. Dampak blooning fitoplankton kecil kemungkinan menimbulkan masalah karena mempunyai alat bantu pernapasan.
Ketiga, Harga Pokok Produksi (HPP) diperkirakan akan lebih murah. Karena mampu tumbuh dengan ketersediaan plankton yang lebih melalui stimulant pupuk, sehingga bisa menjadi penyedia protein yang murah.
Bila ingin menjadikan salah satu sumber protein untuk tepung ikan dan bahan pangan, maka sangat diperlukan pengkajian terkait dengan produktifitas budidaya, lama budidaya dan HPP.
Lembaga riset dan Perguruan Tinggi diharap bisa melakukan kolaborasi terhadap teknologi budidaya ikan Sapu-Sapu berskala industri mendukung suksesnya program ketahanan pangan.
Inovasi teknologi pascapanen, terutama yang tercemar oleh logam berat seyogianya juga menjadi salah satu fokus riset, agar tersedia solusi terhadap ikan ikan yang berasal dari perairan tercemar. (***)






