Morowali, Teraskabar.id – Serikat Pekerja Industri Morowali – Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (SPIM-KPBI) mengecam keras kelalaian sistemik PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dalam menjamin keselamatan pekerja.
Melalui siaran pers yang diterima media ini, Rabu (26/3/2025), SPIM-KPBI menyebutkan bahwa, tragedi longsor material limbah OR di Area Disposal IMIP 8 pada Sabtu (22/3/2025), pukul 00.10 Wita, menewaskan Demianus (Napu-Poso) dan menyebabkan dua pekerja lainnya, Irfan Tandi Tasik (Toraja) dan Akbar (Mamuju Tengah), hilang tertimbun.
“Kematian Demianus dan hilangnya Irfan-Akbar di area dampingan IMIP 8 adalah bukti sistem K3 dianggap remeh oleh korporasi. Setiap detik yang terbuang dalam pencarian adalah pengabaian nyawa buruh. Solidaritas kami takkan padam hingga keadilan ditegakkan,” kataKetua SPIM-KPBI, Bung Afdal.
“Buruh bukan mesin, keselamatan adalah harga mati,” tambahnya.
Menurutnya, insiden di area dampingan IMIP 8 menunjukkan pelanggaran prosedur K3 yang serius oleh PT IMIP dan kontraktor PT MIKI. kegagalan sistemik K3 merupakan akar tragedi di area dampingan IMIP 8. Padahal, area disposal limbah OR ini berisiko tinggi longsor akibat curah hujan ekstrem. Namun perusahaan tidak menyediakan alat pendeteksi bahaya, prosedur evakuasi darurat, atau pelatihan keselamatan.
Perusahaan juga terkesan mengabaikan sistem pemantauan lereng otomatis dan tim evakuasi khusus sebagaimana standar internasional di area berisiko tinggi.
Perusahaan bahkan mengulang kelalaian serupa seperti insiden di IMIP 5 (2023), menunjukkan pola eksploitasi buruh demi keuntungan korporasi.
Percepatan Pencarian dan Tuntutan Keadilan
Meskipun Demianus berhasil dievakuasi pada Ahad (23/3/2025) pukul 18.00 Wita, SPIM-KPBI mendesak:
1. Pencarian Intensif: Penggunaan teknologi thermal imaging, drone, dan sonar di area rendah dekat danau IMIP 8 untuk menemukan Irfan dan Akbar.
2. Transparansi Evakuasi: Keluarga korban dan serikat pekerja harus diberi akses langsung memantau operasi pencarian.
3. Solidaritas Buruh : Seluruh pekerja di kawasan PT IMIP bersatu mendesak pertanggungjawaban perusahaan atas tragedi ini. (red/teraskabar)






