Senin, 12 Januari 2026

Tiga Putra PM Palestina Syahid, Ismail: Darah Anak-Anakku Tak Lebih Berharga Dari Darah Rakyat

Tiga Putra PM Palestina Syahid, Ismail: Darah Anak-Anakku Tak Lebih Berharga Dari Darah Rakyat
Hazim Ismail Haniyyah, Amir Ismail Haniyyah serta Muhammad Ismail Haniyyah menjadi syahid setelah kediaman mereka tempat berlindung dihantam bom yang dijatuhkan dari jet tempur militer Israel. FOTO: CREDIT BY ULTRA PALESTINE

Gaza, Teraskabar.id – Tiga putra Perdana Menteri (PM) Palestina dari Gerakan Perlawanan Islam-Hamas, Ismail Haniyyah dinyatakan syahid setelah jet tempur militer Israel menghajar pemukiman warga di Jalur Gaza, Palestina, belum lama ini.

Ismail yang merupakan petinggi Hamas itu mengungkap, “Darah anak-anakku tidak lebih berharga dari darah rakyat kami, para syuhada di Gaza,” tutur Ismail Haniyyah, Rabu (10/4/2024) waktu setempat seperti dikutip dari Ultra Palestina.

Baca jugaMiliter Israel Melakukan Pembantaian di 7 Lokasi dalam 24 Jam Terakhir, 72 Orang Syahid

Ke tiga anaknya yang syahid itu adalah Hazim Ismail Haniyyah, Amir Ismail Haniyyah serta Muhammad Ismail Haniyyah. Tak hanya tiga anaknya yang menjadi korban kebiadaban Pendudukan Israel, tapi istri dan cucu-cucu Ismail Haniyeh meregang nyawa.

Sebagai seorang Perdana Menteri, Ismail Haniyya memiliki kuasa untuk mengeluarkan anak-anaknya dari Jalur Gaza. Namun, Ismail tidak mengeluarkan anak-anaknya. Anak-anak, istri serta cucu Ismail juga juga memilih tidak keluar dari Jalur Gaza.

Baca jugaPenjajah Israel Melakukan 10 Pembantaian 24 Jam Terakhir di Gaza, 88 Syahid dan 135 Luka-Luka

Keteguhan Ismail Haniyyah tak mengeluarkan anggota keluarganya itu sekaligus mematahkan tuduhan bahwa bunker dan terowongan digunakan untuk melindungi petinggi dan keluarga petinggi Hamas serta perlawanan Palestina.

Ternyata anak-anak mereka menyatu dengan masyarakat dan syahid bersama masyarakat.

“Pembunuhan terhadap anak-anak saya bukanlah hal yang aneh bagi musuh yang membunuh 40.000 rakyat kami,” kata Ismail Haniyeh menambahkan.

Menurutnya, pembantaian yang terus dilakukan oleh tentara pendudukan bersifat delusi karena mereka meyakini bahwa menargetkan anak-anak pemimpin dapat mendorong gerakan perlawanan rakyat Palestina untuk membuat konsesi.

  BEM Nusantara Sulteng Tegas Tolak Pilkada Tertutup: Potensi Orde Baru Gaya Lama

“Pengorbanan kami adalah bagian dari pengorbanan dan ketabahan masyarakat kami di mana pun,” tegasnya.

Ismail mengakui, sekitar 60 anggota keluarganya sudah menjadi syahid, sama seperti yang dialami oleh warga Palestina secara umum, yang menjadi korban pembantaian tentara penjajah zionis laknatullah.

Para laknatullah tersebut meyakini lanjutnya, melalui pembantaian dan genozida mereka percaya dapat menekan warga dan para pemimpin Palestina untuk maju ke meja perundingan menerima negosiasi. (teraskabar)