Selasa, 13 Januari 2026

Tragedi Bayi Bahomotefe: MDM Desak Pemeriksaan Total Terhadap RSUD Morowali dan PKM Bahomotefe

tragedi bayi bahomotefe mdm desak pemeriksaan total terhadap rsud morowali dan pkm bahomotefe
Anggota DPRD Morowali, Muslimin Dg Masiga soroti tragedi bayi Bahomotefe. Foto: Dok

Morowali, Teraskabar.id – Puskesmas Bahomotefe dan RSUD Morowali menjadi sorotan Muslimin Dg Masiga. Anggota DPRD Morowali yang dikenal dengan tagname MDM itu geram setelah seorang bayi warga Bahomotefe meninggal dunia dalam proses persalinan yang diduga kuat akibat kelalaian pelayanan medis. Tragedi Bayi Bahomotefe ini memicu reaksi keras dari MDM.

Politisi Partai Demokrat itu menilai bahwa situasi yang terjadi ini mengindikasikan adanya masalah serius dalam penanganan medis di RSUD Morowali dan Puskesmas Bahomotefe.

Dari keterangan pers yang dirilis oleh Muslimin Dg Masiga, diperoleh informasi bahwa Kasus ini mencuat setelah ibu berusia 24 tahun dengan riwayat kehamilan berisiko tinggi tidak mendapatkan tindakan cepat meskipun membawa dua hasil USG yang menunjukkan kondisi bayinya berukuran besar dan membutuhkan operasi caesar.

Dua pemeriksaan sebelumnya, masing-masing oleh dr. Hendra selaku spesialis kandungan dan dr. Ani sebagai dokter umum, memperkuat rekomendasi bahwa tindakan caesar harus segera dilakukan.

Namun sesampainya di RSUD Morowali, dokter spesialis yang bertugas justru menyampaikan bahwa bayi diperkirakan hanya berbobot sekitar 2,8 kilogram dan masih bisa dilahirkan secara normal.

Pasien kemudian dipulangkan dan diarahkan untuk bersalin di Puskesmas Bahomotefe, sebuah keputusan yang menjadi titik kritis dari tragedi bayi Bahomotefe tersebut.

Dua minggu kemudian, saat ketuban pecah pukul 02.00 dini hari, keluarga meminta agar tindakan caesar dilakukan segera. Permintaan tersebut tidak ditindaklanjuti dengan cepat. Pasien harus menunggu lebih dari delapan jam, dan ketika waktu yang dijanjikan tiba, kepala bayi sudah berada di pintu lahir sehingga proses persalinan normal menjadi satu-satunya pilihan medis.

Proses panjang itu berlangsung hampir tiga jam. Meski beberapa tenaga kesehatan berupaya maksimal, bayi akhirnya lahir dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, sang ibu mengalami luka parah serta trauma fisik dan psikologis yang mendalam.

  Bawaslu Rakor IKP di Morowali, Daerah Perpindahan Penduduk Tertinggi se-Sulteng

Hingga berita ini diturunkan, keluarga korban menyatakan belum menerima penjelasan resmi maupun pertanggungjawaban dari RSUD Morowali maupun Puskesmas Bahomotefe.

Menanggapi tragedi bayi Bahomotefe tersebut, MDM menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kesalahan teknis. Ia menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan yang menggambarkan adanya kelalaian dalam prosedur penanganan ibu hamil berisiko tinggi.

“DPRD tidak bisa tinggal diam. Kami mendesak dilakukan pemeriksaan total, audit medis menyeluruh, dan rapat dengar pendapat dengan seluruh pihak terkait,” tegas MDM, Minggu (23/11/2025).

Ia juga meminta Dinas Kesehatan Morowali untuk melakukan investigasi langsung dan membuka seluruh alur penanganan pasien secara transparan kepada publik. Menurutnya, fasilitas kesehatan wajib memberikan tindakan cepat untuk kondisi kehamilan berisiko tinggi, dan keterlambatan layanan seperti ini tidak dapat ditoleransi.

MDM memastikan akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Publik kini menantikan langkah tegas pemerintah daerah, termasuk tindakan korektif terhadap dua fasilitas kesehatan yang terlibat dalam tragedi bayi Bahomotefe, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. (Ghaff/Teraskabar).