Jumat, 30 Januari 2026
Daerah  

Video Mendiskreditkan Para Rohaniawan, Pdt. GKST Klasis Beteleme Morowali Utara Angkat Suara

Video Mendiskreditkan Para Rohaniawan, Pdt. GKST Klasis Beteleme Morowali Utara Angkat Suara
Pdt. Dulianton Tamanampo, SPAK. Foto: Erni Jhon Ba'u

Morowali Utara, Teraskabar.id – Video berisi rekaman pernyataan salah seorang warga asal Desa Wawopoda, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara (Morut) bernama Ezra Mbaloto terkesan mendiskreditkan profesi pendeta.

Dalam video berdurasi 26 detik dan telah beredar luas melalui media sosial, Ezra Mbaloto meminta agar tidak mudah percaya kepada siapa saja, termasuk kepada para pendeta dalam kontestasi politik ini.

Ketika seseorang calon yang ikut dalam kontestasi politik menyerahkan sesuatu kepada seseorang, tentu tujuan adalah transaksi politik, tak terkecuali kepada para rohaniawan. Dalam konteks transaksi politik kepada para rohaniawan, sang pemberi tentunya mengharapkan imbalan berupa suara dari para pengikutnya.

Baca jugaKemerdekaan Versi Warga Beteleme Menyikapi Jalan Rusak, Kepedulian Pemerintah dan Legislator Morut

Nah, dalam persoalan ini, apakah para rohaniawan tersebut mampu meyakinkan para pengikutnya satu suara.

“Jangan mau percaya, pa panipu semua, hamper 100 persen, pa panipu semuanya,” kata Ezra dalam video rekaman yang diperoleh media ini.

Media ini telah meminta tanggapan Pdt. Dulianton Tamanampo, SPAK, salah seorang pendeta GKST Klasis Beteleme, Kabupaten Morowali Utara terkait video tersebut.

Bagi Pdt. Dulianton, pernyataan dalam video tersebut telah mencemarkan nama baik para pendeta. Sebab, menyebutkan seluruh pendeta tanpa terkecuali.

Seharusnya kata Pdt Dulianton, Ezra Mboloto harus gentel menyebut nama jika betul ada oknum pendeta berbuat sebagaimana yang ditudingkan oleh Ezra. Bukan, malah menggeneralisir tanpa bisa menunjukkan buktinya.

Baca jugaPenyintas Bom Pasar Tentena dan Pasar Maesa Palu Terima Kompensasi dari LPSK

Pdt. Dulianton menyayangkan, video yang telah mendiskreditkan para pendeta, seharusnya ada klarifikasi dari sumber yang pertama kali membuat dan menyebarluaskan video tersebut.

  DLH Donggala Akan Pulihkan Bantaran Sungai Saloya dan Labuan

“Cara mengklarifikasi misalnya, saya rindu bagi yang mengupload pertama itu yang membuat klarifikasinya tentang maksud dan tujuan penyebarluasan video tersebut,” ujarnya.

Namun bagi Pdt. Dualianton secara pribadi, karena video ini menyebar pertama kali melalui media sosial, sehingga ia sama sekali tak mau menggubrisnya. Karena bisa jadi, video yang disebar melalui akun orang lain dan tentu tak ada yang mau bertanggungjawab.

“Walau secara pribadi saya terganggu,” ujarnya.

Baca jugaAnwar Hafid Reses di Tentena, Siap Perjuangkan Aspirasi GKST di Pemerintah

Namun, bila ada pihak lain yang merasa terusik dan ingin menggugatnya melalui jalur hukum, bagi Pdt. Dualinton, sah sah. Terlebih bagi pihak yang memahami celah hukum penyebaran video tersebut melalui media sosial.

“Silahkan bagi yang paham aspek hukum terkait media sosial, bantu kami untuk

Sebab, sempat ada pengakuan dari Ezra, bahwa percakapan itu direkam secara diam-diam, lantas disebar ke publik tanpa ada persetujuan terlebih dahulu oleh yang bersangkutan.

Sebelum mengakhiri pernyataannya, Pdt. Dulianto menegaskan, tugas pendeta adalah melakukan pencerahan agar pileg ini berlangsung sukses dan aman. (teraskabar)