Oleh Hasanuddin Atjo
HAMPIR 83 persen tambak udang vaname masih dikelola secara tradisional (247 ribu dari 300 ribu ha). Selebihnya dikelola menggunakan inovasi dan teknologi modern, yaitu semi intensif, intensif hingga supra intensif.
Meskipun jumlahnya besar, kontribusi tambak tradisional terhadap produksi Nasional kian menurun. Diperkirakan saat ini berkisar 30 persen atau 150 ribu ton dari total produksi Nasional sebesar 500 ribu ton (Kompilasi data, 2025).
Tambak teknologi tradisional kebanyakan dikelola rakyat di wilayah pesisir dan sejak lama menjadi penopang ekonomi keluarga. Produktifitas rendah antara 100 -300 kg/ha/ musim tabur (200 – 600 kg/tahun).
Dalam 1 ha tambak ditabur benih udang vanane antara 10.000 hingga 30.000 ekor. Sumber benur umumnya dari hatchery dengan manajemen terbatas sehingga mutunya pas pasan. Hatchery skala besar umumnya melayani pembelian jumlah besar.
Kini ketidakpastian panen jadi ancaman karena serangan penyakit virus seperti APHND, White Spote dan AHP. Rasa nyaman setelah tabur benih, kini tinggal kenangan karena adanya ancaman serangan penyakit virus yang telah menjadi pandemi.
Dahulu dikala umur udang 2 bulan, para petambak udang dibuat “pusing”, dikarenakan sebentar lagi panen raya dan mereka bingung apa lagi yang akan dibeli. Pada saat ini, para petambak juga dibuat “pusing”, karena barang apa lagi yang akan “dilego”, untuk membiayai operasional musim tabur berikut
Sekadar menjaga jaga agar usaha tambak tidak rugi total, mereka saat ini menabur benih udang bersama benih ikan nila atau bandeng yang lebih tahan terhadap goncangan, namun harganya murah dan hasilnya sekadar bertahan
Potensi tambak tradisional di wilayah pesisir dan sejumlah permasalahan yang dihadapi, tentunya mendesak dicarikan solusi. Agar mereka kembali bisa membangun ekonomi keluarga sekaligus berperan meningkatkan produksi udang dan penerimaan devisa.
Pemerintah perlu memetakan tambak tradisional yang bisa didorong menerapkan inovasi dan teknologi tradisional plus (padat tebar 100 ribu ekor/Ha/ MT) dan semi intensif (padat tebar 300 ribu ekor/ha/MT).
Harapannya produktifitas bisa mencapai 2 hingga 6 ton/ha/musim tabur.
Kebijakan ini yang dilakukan oleh Equador, India, Vietnam dan Thailand. Mendorong penerapan inovasi-teknologi tradisional plus serta semi intensif pada tambak rakyat. Dengan skenario itu, Equador, India dan Vietnam menggeser posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama.
Inovasi dan teknologi berperan penting dalam revitalisasi ini. Setidaknya sejumlah faktor yang mesti dipedomani dan diimplementasikan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi.
Perubahan cara pandang atau mindset para pembudidaya tradisional terhadap inovasi dan teknologi budidaya maju menjadi keniscayaan. Proses edukasi dan transformasi menjadi salah satu bentuk intervensi yang mutlak dilakukan.
Tabur benur sehat dengan karakter genetik yang jelas jadi faktor krusial. Surveilance pada semua input produksi , terutama benur sudah harus dibangun agar jadi budaya yang mengakar, sekaligus koreksi kepada produsen input produksi.
Sterilisasi air dengan biaya yang lebih murah dan ramah lingkungan tanpa bahan kimia harus ditumbuhkembangkan. Karena mutu air merupakan “jantung kedua” eberhasilan budidaya. Tidak punya arti dan manfaat benur bagus tapi air tidak bermutu.
Sistem budidaya menerapkan model dua step yaitu nursery dan tambak pembesaran atau growout. Kemampuan mitigasi terhadap kemungkinan resiko perlu dibangun. Demikian pula penerapan biosecurity atau menutup pintu masuk penyakit menjadi bagian dari SOP.
Dukungan investasi dan modal kerja menjadi pelengkap dari upaya revetalisasi tambak tradisional melalui sejumlah intervensi. Tanpa dukungan pembiayaan maka semua akan berakhir diwacana.
Perlu role model implementasi revitalisasi tambak udang tradisional yang dirancang secara terukur agar petambak memperoleh kepastian panen, sekaligus menunjang program ketahanan dan kemandirian pangan. (***)






