Tolitoli, Teraskabar.id – Pungutan Rp10 ribu per galon untuk bahan bakar solar diberlakukan kepada nelayan yang mengantre di Sentral Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBU-N) di Kabupaten Tolitoli muncul ke permukaan.
Pemberlakuan pungutan diterapkan sejak SPBU-N tersebut berdiri dan mulai beroperasi pada tiga tahun silam. Untuk kebutuhan kapal tangkap dan bagan mereka, para nelayan setiap harinya harus mengantre membeli BBM solar dengan menggunakan satu unit mobil pick up.
” Semua nelayan yang membeli BBM solar di SPBU-N itu harus setor Rp10 ribu per galon, kalau mau dihitung kira-kira sebulan bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta, pungutan itu sudah lama berlaku,” kata sumber yang meminta namanya agar tidak disebutkan kepada wartawan.
Ia menyebut pungutan yang diterapkan kepada nelayan yang membeli bahan bakar solar menggunakan galon pertama kali diberlakukan di tingkat Sentral Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBBU) sebelum SPBBN itu didirikan di Kabupaten Tolitoli, namun hanya sebesar Rp5000 per galon.
” Dulunya kalau di SPBU Sandana nelayan yang membeli solar menggunakan galon bayarnya Rp5.000 tetapi setelah di SPBU-N itu berdiri naik menjadi Rp10.000,” ceritanya.
Alimudin, selaku pemilik SPBU-N di Tolitoli yang dikonfirmasi terkait pungutan yang dibayarkan nelayan saat membeli solar per galon Rp10 ribu diluar harga solar membenarkan. Ia tidak menampik kalau pemberlakuan pungutan per galon Rp10 ribu tersebut telah disetorkan nelayan kepada pihak SPBU-N.
” Setoran Rp10 ribu setiap galon atas kesepakatan semua nelayan, bukan kami dari SPBU-N,” aku Alimudin kepada media ini, Rabu (29/04/2026).
Pemilik SPBU-N itu menjelaskan, bahwa pungutan yang dilakukan atas kesepakatan bersama para nelayan tersebut sebagian dipergunakan untuk mengganti galon nelayan yang rusak atau pecah, dan sebagiannya dibelanjakan untuk gula dan kopi yang diminum bersama.
” Setoran Rp10 ribu per galon itu dipake untuk baganti galon nelayan yang bocor atau rusak, sebagiannya dibelikan kopi dan gula untuk mereka minum, tetapi ada juga yang cuma setor Rp5 ribu per galon, ada juga yang tidak menyetor, ” katanya.
Disinggung soal berapa banyak BBM solar yang di pasok pada SPBU-N itu, ia menyatakan stok solar yang diangkut mobil tangki perharinya mencapai 8.000 kilo liter. Sementara dalam seminggu empat hingga lima kali pasokan BBM solar untuk nelayan telah tersedia di SPBU-N itu.
” BBM solar 8.000 kilo liter itu kalau di-galonkan bisa mencapai 260 galon per hari,” katanya.
Harsono yang mengaku ketua asosiasi nelayan di Tolitoli yang ditemui di lokasi SPBU-N itu turut mengakui jika pungutan Rp 10 ribu telah disepakati bersama dalam rapat pertemuan puluhan nelayan di Tolitoli.
” Kurang lebih 100 orang nelayan di Tolitoli, setoran Rp 10 ribu tersebut karena ada kesepakatan,” ungkap Harsono.
Harsono yang disinggung mengenai surat pernyataan bersama nelayan lainnya terkait setoran Rp 10 ribu tersebut tak bisa memberikan bukti, bahwa setoran tersebut memiliki dasar kesepakatan yang dibubuhi tanda tangan para nelayan di Tolitoli.
” Nanti kesepakatannya dibikin, kita undang semua nelayan supaya tidak jadi masalah dikemudian hari,” janjinya. (ram)







