Palu, Teraskabar.id – Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) soroti surat keputusan (SK) pengukuhan hasil Kongres IX SEMMI dari Syarikat Islam yang belum terbit hingga saat ini. Sorotan tersebut disampaikan secara resmi kepada Presiden Lajnah Tanfidziyah dan Sekretaris Jenderal Syarikat Islam.
Ketua Umum PW SEMMI Sulteng, Lamin Ahmad, melalui siaran pers yang diterima media ini, Rabu (7/10/2026), menegaskan bahwa kongres telah selesai dan kini yang dibutuhkan adalah kepastian.
“SEMMI telah menyelesaikan proses kongresnya. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian, konsolidasi, dan komitmen seluruh pihak menjaga keutuhan organisasi. Kami menolak segala bentuk dualisme kepengurusan,” tegas Lamin.
Adapun pernyataan sikap PW SEMMI Sulteng sebagai berikut:
1. Kongres IX SEMMI telah selesai dan menetapkan Achmad Donny sebagai Formatur/Ketua Umum Terpilih PB SEMMI Periode 2026–2029. PW SEMMI Sulteng menghormati dan mendukung hasil kongres tersebut. Namun hingga kini surat pengukuhan dari Syarikat Islam belum diterbitkan, sehingga kami mempertanyakan alasan di balik belum adanya kepastian tersebut.
2. Menjelang Kongres IX, telah ditandatangani fakta integritas oleh para kandidat, perwakilan DPP Syarikat Islam, serta Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PB SEMMI Periode 2023–2026. Fakta integritas ini merupakan komitmen bersama untuk menjaga kongres dan menghormati hasilnya.
3. Kami mencermati narasi yang diduga berasal dari oknum di lingkungan DPP Syarikat Islam mengenai kemungkinan adanya kepengurusan lain atau dualisme di tubuh SEMMI. Narasi ini perlu segera diklarifikasi agar tidak berkembang menjadi konflik kelembagaan yang lebih luas.
4. Ketidakjelasan ini mulai menghambat roda organisasi. Sejumlah wilayah dan cabang terkendala melaksanakan Muscab dan Muswil karena belum adanya kepastian kepengurusan pusat dan garis koordinasi.
5. Belum terbitnya surat pengukuhan juga menghambat pelantikan PB SEMMI hasil Kongres IX. Di tengah upaya SEMMI untuk tumbuh dan berkonsolidasi, kondisi ini jangan sampai mematikan kembali semangat dan denyut organisasi.
6. Kami mengingatkan agar sejarah dualisme SEMMI di Surabaya tidak terulang. Peristiwa tersebut adalah catatan sejarah yang menyakitkan, yang hanya mengorbankan kader dan menghambat perjalanan organisasi.
7. Kami memohon dan mendesak Syarikat Islam untuk sesegera mungkin (a) memberikan kejelasan resmi mengenai status hasil Kongres IX SEMMI, (b) menerbitkan surat pengukuhan bagi PB SEMMI Periode 2026–2029, dan (c) mengklarifikasi narasi dualisme yang berkembang. Apabila terdapat persoalan terhadap hasil kongres, kami meminta agar disampaikan secara terbuka dan diselesaikan melalui mekanisme organisasi, serta tidak membuka ruang bagi dualisme.
8. SEMMI telah menyelesaikan proses kongresnya. Yang dibutuhkan kini adalah kepastian, konsolidasi, dan komitmen seluruh pihak menjaga keutuhan organisasi.
PW SEMMI Sulteng tegasnya, menolak segala bentuk dualisme kepengurusan. Jangan ulangi dualisme Surabaya. Sejarah cukup menjadi pelajaran, bukan untuk kembali dipertontonkan dalam perjalanan SEMMI hari ini. Pernyataan sikap ini disampaikan sebagai wujud tanggung jawab moral dan kecintaan PW SEMMI Sulteng terhadap SEMMI dan Syarikat Islam. (red)






