Palu, Teraskabar.id – Karyawan sebagai aset utama perusahaan masih dalam tataran slogan, terutama di dunia tambang. Karyawan terkadang masih diliputi perasaan cemas di tengah harapan membawa pulang cuan seiring stigma negatif keselamatan kerja industri ekstraktif.
Selama ini, aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) belum menjadi prioritas di industri pertambangan, melainkan masih terpaku pada target produksi. Dua akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Lalu Muhammad Saleh & Dr. Atjo Wahyu menyoroti sikap perusahaan yang lebih memprioritaskan target produksi dan mengesampingkan aspek K3. Melalui bukunya berjudul “K3 Pertambangan, Kajian Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sektor Pertambangan”, Dr. Lalu Muhammad dan Dr. Atjo Wahyu mengungkap sisi gelap K3 di industri ekstraktif.
Poin penegasan dalam buku yang diterbitkan pada tahun 2019 tersebut, menawarkan penerapan budaya kerja yang menekankan pada aspek keselamatan kerja, melalui Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) yang terintegrasi.
Dr. Lalu Muhammad dan Dr. Atjo mengungkapkan, human error karena perilaku gegabah jadi faktor utama penyebab kecelakaan kerja di dunia tambang, angkanya mencapai 80%. Untuk memitigasi insiden kerja tersebut, membangun budaya kerja yang sehat di area kerja jadi solusinya.
Semua Demi Pulang ke Rumah dengan Selamat
Bagi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), anggota holding tambang MIND ID, karyawan merupakan aset penting dan menjadikan K3 sebagai prioritas bersama target produksi. Perusahaan ekstraktif ini selalu setia membangkitkan senyuman bagi keluarga yang menanti di rumah karena karyawan melangkah pulang dengan selamat.
Konsistensi keberhasilan menjaga kecelakaan kerja fatal yang berujung maut selama operasional (Fatalitas) pada angka nol, bukti komitmen PT Vale Indonesia yang menempatkan karyawan sebagai asset penting perusahaan.
PT Vale bahkan tercatat sebagai perusahaan tambang dan logam terbaik kedua dari seluruh anggota International Council on Mining and Metals (ICMM).
Capaian tersebut berdasarkan catatan fatality rate (Kecelakaan kerja fatal dan penyakit akibat kerja) yang berdampak pada kematian, PT Vale Indonesia berhasil menutup periode 2024 dengan catatan zero fatality. Capaian tersebut berlanjut di tahun 2025, yang juga berhasil menutup periode 2025 dengan catatan zero fatality.
Konsistensi menjaga catatan zero fatality secara berkesinambungan kembali terlihat hingga semester pertama tahun 2026.
“Kami berharap kinerja keselamatan bisa terus kami pertahankan hingga akhir tahun tanpa fatalitas,” kata Director & Chief Human Capital Officer PT Vale Indonesia, Heriyanto Agung Putra pada Public Expose 2026 yang digelar PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara daring, Kamis (10/9/2026).
Seiring dengan peningkatan aktivitas atau jam kerja menyusul pengembangan operasional di IGP Bahodopi dan IGP Pomalaa, injury rate (Tingkat kejadian cedera kerja) tetap terjaga sesuai dengan komitmen keberlanjutan. Pengembangan di Bahodopi dan Pomalaa yang semakin intensif serta peningkatan infrastruktur kelistrikan di Sorowako yang berdampak pada aktivitas atau jam kerja meningkat hingga 58%, injury rate tercatat di kisaran 0,28.
“Ini bisa kita lihat angka injury pada bulan Juli 2026 di kisaran 0,28. Bahkan dari segi rata-rata angka keselamatan kerja, PT Vale mencatat angka sekitar 28% jauh lebih baik dari angka keselamatan kerja seluruh anggota ICMM,” ujar Heriyanto.
Digitalisasi PT Vale, Membangun Budaya K3
Memasuki usia ke-58 tahun, PT Vale Indonesia secara berkelanjutan memperkuat budaya K3 untuk menciptakan ekosistem kerja yang aman dan produktif dalam rangka menekan angka kecelakaan. Budaya K3 tersebut diterapkan PT Vale di seluruh area operasionalnya, yaitu di Sorowako, Bahodopi dan Pomalaa.
Director & Chief Human Capital Officer PT Vale Indonesia, Heriyanto Agung Putra mengatakan, melalui budaya kerja yang aman dan produktif, PT Vale optimistis mampu melanjutkan catatan keberhasilan menutup akhir tahun 2026 dengan zero fatality dan statistik angka injury rate lebih rendah dari 0,28 – capaian angka keselamatan kerja di semester I tahun 2026.
Budaya keselamatan ini tidak hanya menjadi aturan kerja di PT Vale untuk melindungi pekerja tetapi juga menjadi nilai perusahaan dalam mendorong peningkatan produktivitas. Hal ini sejalan dengan pendapat Dr. Lalu Muhammad Saleh & Dr. Atjo Wahyu, “Jika pekerja sakit, otomatis akan berdampak pada produktivitas perusahaan”.
Dikutip dari Sustainablity Report 2025, total karyawan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) sebanyak 2.985 orang. Dari total karyawan tersebut, sebanyak 83,3% merupakan tenaga kerja lokal yang berasal dari Luwu Timur, Morowali, dan Kolaka.
Perempuan mewakili 12,09% dari total tenaga kerja di seluruh lokasi operasional PT Vale. Selain itu, dari total 761 posisi manajerial, 17,21% di antaranya ditempati oleh perempuan.
Optimalisasi Digitalisasi PT Vale
Pengalaman panjang PT Vale Indonesia menerapkan digitalisasi untuk penguatan tata Kelola pertambangan yang ramah dan berkelanjutan pada kegiatan operasional di IGP Sorowako, kini diadopsi di Bahodopi, Kabupaten Morowali. Walau baru beroperasi sekitar dua tahun, IGP Bahodopi telah mengimplementasikan teknologi untuk aspek keselamatan melalui platform MINERVA.
“Kami menggunakan inovasi teknologi terbaru bernama Platform MINERVA, sehingga seluruh equipmen yang ada di area kami, baik konstruksi maupun pertambangan dapat dimonitor proses pelaksananannya, hasilnya zero fatality dua tahun berturut turut di area operasional Bahodopi” kata Senior Manager Mine Production Bahodopi PT Vale Indonesia, Sarjan Soleman pada Jambore Tambang Sulawesi Tengah, Selasa (15/9/2026), di Sriti Convention Hall Kota Palu.
Sarjan menjelaskan, Minerva adalah inovasi teknologi terbaru yang merupakan perpaduan antara perangkat lunak dan perangkat keras. Perangkat lunaknya adalah dashboard/aplikasi, sedangkan perangkat kerasnya terdiri dari GPS dan sensor. Pada aplikasi ini terintegrasi dengan aplikasi Fleet Managemen System (FMS) atau system manajemen armada, Effective Validation Attendance (EVA), Safety technologi Solution, teknologi tambang High Precision System (HPS), digital twin hingga DEPENDER.
Melalui operasional center yang terpusat dan terintegrasi, perusahaan bisa memantau secara real time mulai dari pengelolaan armada kendaraan operasional, menentukan eksavator menggali area tanpa harus ada orang di lapangan yang mengarahkan pekerjaan penggalian, hingga memantau kondisi operator kendaraan berat jika sudah Fatiq.
“Penggunaan teknologi sangat penting karena kita beroperasi secara terus menerus selama 24 jam dalam tiga shift agar bisa memitigasi operator alat berat yang mulai mengantuk matanya atau fatiq,” ujarnya.
“Bila operator sudah fatiq, yaitu saat kondisi menguap dan mata tertutup, aplikasi bisa memantau dan alarm langsung berbunyi untuk memberi peringatan,” tambah Sarjan.
Penulis sempat merasakan langsung implementasi digitalisasi pengelolaan armada karyawan PT Vale di bus berbasis teknologi EV.
Setiap penumpang harus menempati kursi yang tersedia dan jumlah penumpang disesuaikan dengan total kursi yang tersedia di setiap bus. Aturan ketat juga berlaku bagi setiap penumpang yang mewajibkan untuk memasang sabuk pengaman. Ketika ada salah seorang penumpang yang lalai memasang sabuk pengaman, alarm akan segera berbunyi sebagai peringatan. Bahkan, bila peringatan tersebut diabaikan, mesin bus tak akan on dan secara otomatis bus tak akan bergerak maju.
Senior Coordinator Media Relations PT Vale Indonesia Tbk, Suawarni Dammar yang membersamai wartawan pada media visit, menjelaskan bahwa di bus karyawan yang saat itu ditumpangi puluhan awak media dari berbagai wilayah operasional PT Vale, juga terpasang Closed Circuit Television (CCTV) atau kamera pengawas, dust camera, kamera sensor mundur, kamera sensor depan, dan fatigue detection. “Khusus untuk fatique detection, untuk memantau driver,” ujarnya.
Selain implementasi standar keselamatan bagi penumpang bus karyawan, bagi para driver juga berlaku aturan ketat saat mengoperasikan setiap kendaraan maupun alat berat. Batasan maksimal laju kendaraan menjadi keharusan untuk ditaati. Termasuk saat berada di persimpangan jalan di area operasional, setiap driver harus menghentikan kendaraannya beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanannya. Hal itu untuk memitigasi resiko kecelakaan lalulintas di area persimpangan jalan. Sanksi tegas bagi driver yang lalai terhadap aturan tersebut, langsung memperoleh SP 2 (Surat Peringatan Kedua).
PT Vale juga sangat konsen terkait penerapan nilai-nilai keselamatan dan kesehatan dalam bekerja, dengan turut andil berkontribusi dalam menciptakan suasana kerja aman dan selamat untuk keberlanjutan. Komitmen tersebut terlihat pada pengaturan Smoking Area. Langkah ini sebagai bagian untuk menanamkan budaya keselamatan dan kesehatan yang kuat di area kerja perusahaan.
“Jadi sangat tidak dibenarkan untuk bertindak di luar etika dan budaya keselamatan kerja yang selama ini menjadi budaya di lingkup operasional PT Vale,” kata Suwarni. (red)






